
Sensasi terbakar di tenggorokan perlahan kian meningkat, membuat aliran napas pelayan wanita itu menjadi tersendat bak tercekik lilitan kain.
Mata pelayan tersebut terbelalak, dan perlahan mulutnya mengeluarkan darah sebelum akhirnya tubang ke lantai.
Adele yang melihat kejadian mengerikan di depan matanya sontak membulatkan kedua matanya lebar-lebar, gadis itupun bahkan merinding saat melihat Rossy dengan santainya tersenyum saat melihat nyawa seseorang berada di ujung tanduk akibat perbuatannya.
"Inilah yang terjadi jika ada yang berani macam-macam padaku, betul, kan Adele?" tanya Rossy yang seketika membuat nyali Adele menciut.
"I-iya, Nona!"
"Panggilkan dokter dan kepala pelayan, bersihkan kamarku hingga tidak ada satu helai rambutnya pun yang tersisa!" titah Rossy lalu duduk manis di sebuah sofa dengan kedua tangan yang disilangkan.
***
"Aku terpaksa melakukannya, agar tidak ada lagi yang berani mengusikku. Aku benar-benar minta maaf telah membuat kegaduhan sampai seperti ini," Rossy berkata lirih setelah dirinya menceritakan seluruh duduk perkara kejadian pada hari itu.
Alexander cukup terkejut dengan sifat kejam dan berani Rossy Namun, bagaimanapun Alexander berusaha memahami posisi Rossy yang hanya berusaha untuk membela dirinya dan menegaskan jika dirinya adalah seseorang yang kuat dan tak berperasaan.
__ADS_1
Kehidupan di zaman itu memang sangat keras dan kejam. Siapapun yang terlihat lemah akan menjadi mangsa empuk bagi yang lebih kuat dari berbagai penjuru.
Alexander menepuk-nepuk pucuk kepala Rossy dengan lembut, pria tampan itupun tersenyum guna menenangkan perasaan Rossy.
"Kamu tidak perlu meminta maaf karena sudah sewajarnya kamu membela diri saat merasa ada ancaman. Kamu juga boleh memperlihatkan jika kamu adalah wanita yang kuat sehingga tidak bisa diinjak-injak dan disepelekan lagi," ucap Alexander.
"Bisa, kan kau langsung memberitahu ksatria penjaga. Tidak perlu berpura-pura menjadi penjahat yang malah memperkeruh suasana serta menjatuhkan reputasi kau sendiri dan istana." William menanggapi sikap Rossy dengan sinis, dirinya merasa tidak bisa mengendalikan emosi saat melihat Rossy yang tersenyum ataupun bersikap lembut dengan Alexander.
"Aku tidak setuju perkataanmu. Apakah Rossy harus diam saja saat melihat ada yang salah? Memanggil ksatria dan menitahkannya tidak mudah untuk seorang dayang seperti Rossy. Persetan dengan reputasi, kau bahkan tidak bisa bertahan hidup jika hanya mengandalkan reputasi bagus!"
Rossy menyentuh telapak tangan Alexander lalu menggelengkan kepalanya saat sang pangeran menoleh dan menatapnya. Gadis itu tidak ingin kedua bersaudara yang saling menjaga itu bertengkar karena hal sepele, yang akan membuat celah dan memungkinkan orang tak diinginkan masuk lalu menghancurkan segalanya.
Sejenak ketiganya terdiam, tak ada yang mengeluarkan suara sepatah katapun. Ketiga orang tersebut sibuk tenggelam dalam pikirannya, mengira-ngira siapakah dalang di balik kekacauan yang terjadi.
"Adele, apa kau tidak mengetahui rencana ini?" tanya William tiba-tiba, matanya menatap tajam Adele Yang sedari tadi berdiri di samping Rossy.
"Saya sungguh tidak mengetahuinya, Yang Mulia. Saya juga yakin jika pelayan tersebut tidak pernah bertemu sekalipun dengan Duke Robert Ferus," jawab Adele.
__ADS_1
William menghela napasnya lalu melirik ke arah Alexander dan berkata, "Alex, dia benar-benar tidak bisa berbohong kepadaku, kan?"
"Tenang saja, kontrak sihir itu akan menyiksanya saat dia berbohong kepadamu dan langsung meledakkan tubuhnya menjadi berkeping-keping bahkan saat dia baru berencana untuk mencelakaimu,"
Adele kembali mematung dengan tubuh yang gemetar, nyawanya benar-benar berada di tangan Putra Mahkota. Walaupun ia sudah mengetahui semuanya, tetapi jika dikatakan kembali tentu membuat dirinya kembali terguncang.
"Sudahlah, jangan mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu lagi!" sanggah Rossy.
"Mengerikan, rasanya tidak pantas dikatakan oleh orang yang baru memaksa pelayan meminum teh beracun dan menikmati saat dia sekarat," sindir William kembali.
Rossy hanya menanggapi perkataan Putra Mahkota dengan senyuman. Sejak dirinya membatasi diri dengan William, Rossy sudah sangat terbiasa dengan perkataan pedas dan juga sindiran yang dilontarkan terus menerus oleh William.
Sesuatu yang berkilau terlihat dari bawah ranjang Rossy, membuat Rossy menyipitkan matanya agar pandangnya terlihat lebih fokus.
Perlahan gadis itu bangkit dari duduknya, lalu berjongkok guna meraih benda asing itu di tempat yang sedikit sulit dijangkau.
"Ada apa, Lady?" tanya Alexander penasaran.
__ADS_1
Rossy meraih benda berkilauan tersebut yang merupakan sebuah bros yang terbuat dari sebuah batu permata berwarna hijau toska. Rossy mengeryitkan keningnya, dia merasa jika benda tersebut terlihat tidak asing baginya.
"Tunggu, aku tau tentang bros ini!" seru Rossy terkejut.