My Favorite Prince

My Favorite Prince
Siasat


__ADS_3

"Apa maksudmu? Aku akan memeriksanya dengan mata kepalaku sendiri!"


Tanpa memedulikan perkataan Adele, segera William membuka pintu kamar yang ditempati oleh Rossy.


Dengan gusar pria itu menolehkan kepalanya, menatap Adele dengan pandangan gusar.


"Apa maksudmu Rossy tidak ada? Apa matamu itu sudah buta?" cerca William gusar sedangkan jari telunjuknya menunjuk ke arah Rossy yang sedang tertidur pulas.


Seakan tidak percaya dengan apa yang ia dapati, Adele ternganga nyaris tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, tangannya mengepal di depan dada, seolah tengah menahan rasa takut yang kian menguap di dalam hatinya.


"S-saya, saya ...," ucapnya terbata.


"Saya tidak menyangka jika ada dayang yang tidak berkompeten seperti ini di dalam istana. Sepertinya memang benar jika saya sudah terlalu lalai dan menutup mata, sampai hal remeh seperti ini saja terjadi di bawah kekuasaan saya."


Tak seperti biasanya, aura intimidasi sangat terasa kuat menguar dari diri William.


Tatapannya tak terlepas dari Adele, seolah ia tengah mengerti akan isi hati dan pikiran gadis itu.


Setelah memastikan keberadaan Rossy, Putra Mahkota kembali berjalan meninggalkan kamar Rossy. Langkah kakinya semakin cepat, menuju istana tempat tinggal Alexander.


Sementara itu Rossy yang berpura-pura tertidur terlihat menyunggingkan senyuman tipis, firasatnya yang tajam tidaklah salah jika saran Adele yang membuatnya membohongi William merupakan sebuah jebakan untuk dirinya.

__ADS_1


Saat dirasa William benar-benar telah menjauh, perlahan Rossy mulai membuka matanya. Hal tersebut semakin membuat nyali Adele menciut, kondisi gadis itu kini bagaikan seekor kelinci yang sudah terpojok oleh serigala yang siap memangsa dirinya.


"N-n-nona."


Melihat Adele yang ketakutan semakin membuat Rossy melebarkan senyumannya. Rossy mencengangkan rahang Adele dengan tangan kanannya seraya berkata, "Apa yang sudah kau lakukan, Dayangku Sayang?"


***


Dua jam sebelum kedatangan William ke kamar Rossy.


"Kamu yakin meminum ini?"Alexander mengerutkan keningnya saat melihat secangkir kopi dihidangkan oleh pelayan untuk Rossy.


"Ya, kenapa tidak?" jawabnya santai.


"Disini kopi adalah minuman yang jarang sekali peminatnya. Karena rasa pahitnya yang tidak cocok di lidah terutama para Lady," jelas Alexander sambil mengaduk cangkir teh miliknya.


"Apakah kamu juga termasuk orang yang tidak menyukainya?" tanya Rossy.


"Mungkin," jawab Alexander tersenyum.


Rossy terkekeh kecil lalu menuangkan kopi tersebut pada gelas susu yang sudah tandas setengahnya, perbuatannya yang terlihat aneh sontak membuat Alexander mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Coba kamu minum! Aku sudah memasukan sedikit gula," ucap Rossy seraya menyodorkan gelas yang sudah tercampur antara kopi, susu, dan gula tersebut.


"Apa ini bisa diminum?" tanya Alexander yang merupakan candaannya belaka.


"Setidaknya itu bukanlah racun yang mampu mematikan indra pengecap mu," jawab Rossy menanggapi.


Suara tawa terdengar antara keduanya yang asik bercengkrama menikmati saat-saat santai mereka. Perlahan Alexander meminum segelas kopi susu yang diracik oleh Rossy.


"Bagaimana? Kemampuan memasak ku memang sangat payah, tapi jika untuk segelas kopi susu aku masih cukup percaya diri membuatnya."


Sang Pangeran berwajah tampan menengguk lagi segelas kopi susu tersebut lalu meletakkannya perlahan di atas meja.


"Tidak buruk. Rasa pahit, gurih, dan manis bercampur menjadi satu, aku rasa jika aku bisa meminum ini setidaknya satu kali dalam sehari," jawab Alexander tersenyum.


Raut wajah Alexander yang tidak menyiratkan kebohongan sontak membuat ide di dalam kepalanya muncul seketika.


Gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri guna memastikan jika tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Tadi anda bilang jika harga biji kopi sangat murah, kan! Aku punya ide cara agar mendongkrak komunitas ini dan membuat para petani dan pedagangnya tidak terus menerus merugi. Tentu saja hal ini juga bisa meningkatkan perekonomian," ujar Rossy dengan mata yang berbinar-binar.


"Jadi, kamu punya rencana apa?"

__ADS_1


__ADS_2