
Keduanya saling bersitatap satu sama lainnya, sejenak mereka terdiam setelah Alexander mengucapkan kalimat terakhirnya.
Angin musim semi yang terasa menyegarkan menyebarkan aroma dedaunan dan bunga segar.
Mata biru indah sang pangeran tambak sayu seakan tengah menyiratkan sesuatu.
"Mungkin kamu berpikir jika semua ini konyol karena sebelumnya aku pun berpikir demikian. Tetapi, semakin aku menyangkalnya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa, aku semakin sadar jika," ucap Alexander menggantung.
Kembali ia menghirup napasnya dalam lalu perlahan menghembuskannya dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta padamu, Lady."
"Hah?" ucap Rossy spontan walaupun ia sudah mendengar sebelumnya.
Berapa kali pun Alexander mengatakannya, nampaknya masih saja mengejutkan gadis itu. Mulut gadis itu sedikit menganga, untuk pertama kalinya Rossy sulit mengeluarkan sepatah katapun.
"Lady," ucap Alexander kembali karena Rossy hanya tersentak tanpa membalas pernyataannya.
Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali lalu menarik tangannya sebelum memalingkan wajahnya. Jantungnya berdebar kencang, bahkan terasa ingin melompat keluar saat itu juga.
__ADS_1
Tak pernah Rossy sangat bahkan tak pernah sedikitpun terlintas sedikitpun di kepalanya jika Alexander akan jatuh cinta pada dirinya.
"Yang Mulia, ini sama sekali tidak lucu. Hal seperti ini tidak pantas dijadikan candaan," ucap Rossy berusaha menyangkal akan apa yang baru ia dengar.
Perlahan Alexander meraih kembali tangan Rossy lalu mengecupnya perlahan. Rossy memang berusaha menyangkal, tetapi Alexander tak semudah itu dikelabui. Pria berdiri panjang itu terus menatap mata Rossy dan membaca seluruh kejujuran gadis itu lewat siratan matanya.
"Apakah aku terlihat seperti tengah bergurau? Lady, seberapa besar kau berusaha menyangkal tetapi saya tahu apa yang ada di dalam hati anda."
"Tapi ...," ucap Rossy menggantung.
"Rossy."
"S-saya, saya, tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu menjawab sekarang, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Sebentar lagi aku hatus pergi dan aku harap setelah aku kembali kamu sudah memiliki jawabannya," ucap Alexander.
Keheningan kembali melanda keduanya, mereka terhanyut akan perasaan masing-masing.Rpssy mengigit bibir bagian bawahnya, seandainya saja ia memiliki pilihan untuk membawa Alexander, dengan sangat senang hati dirinya menerima dang pangeran idaman dan membawa pergi Alexander dari dunia yang seolah terus menyiksa pria itu.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Rossy singkat.
Seharian penuh ungkapan cinta yang Alexander ucapkan cukup mengusik pikirannya. Sudah nyaris lewat tengah malam tetapi Rossy tak sedikitpun bisa memejamkan matanya. Gadis itu terus menerus terbayang.
"Ini semua gila!" seru Rossy sambil menatap langit-langit kamarnya.
Cahaya dar lilin bercampur cahaya rembulan membuat suasana kian terasa temaram. Rossy beranjak dari tidurnya lalu membuka jendela kamarnya. Hembusan angin tiba-tiba saja menyapanya dengan lembut, membuat gadis itu memejamkan matanya.
'Ingat tujuanmu, jika kamu ingin segera kembali! Fokuslah, abaikan apapun yang bisa menghalangi tujuanmu, termasuk perasaanmu sendiri.'
Perkataan suara misterius tiba-tiba saja kembali membuatnya teringat dan tertampar oleh realita. Seakan menjadi tembok pembatas yang tinggi akan perasannya dan juga Alexander.
Rossy melihat kedua telapak tangannya, berusaha sadar dan mengingat jika banyak nyawa yang bergantung pada dirinya di dunianya berasal. Dia adalah seorang pimpinan dari sebuah perusahaan besar, yang merupakan tempat banyak nyawa bergantung mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup keluarga mereka. Semua itu sungguh terasa menyiksa, seakan mengikat dirinya dengan rantai yang tak terlihat mata.
"Di sini aku memang bukan siapa-siapa, bahkan aku tak memiliki apapun. Namun, di sini aku memiliki sesuatu yang sederhana, yang bahkan tak pernah aku rasakan sebelumnya," gumam Rossy.
Rossy kembali menghela napasnya dan kembali bergumam, "Bolehkah aku sedikit saja egois?"
__ADS_1