
"Yang Mulia! Yang Mulia!"
Adele tampak panik dan berusaha menemui putra mahkota. Wajahnya terlihat pucat dengan napasnya yang terengah-engah.
"Lady Adele, jaga cara bicaramu pada Yang Mulia Putra Mahkota!" seru James memperingatkan Adele akan etikanya.
Gadis itu pun segera berlutut guna memohon ampunan sekaligus salam penghormatan untuk Putra Mahkota.
"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia! Ada sesuatu mendesak yang harus saya ceritakan kepada Yang Mulia."
"Katakanlah!" seru William pemasaran.
Adele berusaha mengatur napasnya, dengan tubuh yang gemetar karena rasa takut dan panik, ia pun mulai berkata, "N-nona Rossy menghilang!"
"Apa? Rossy menghilang! Bagaimana bisa? Saya sudah mengerahkan para ksatria di depan kamarnya!" William tampak terkejut dan tak percaya.
Jantungnya kian berdegup kencang, William tidak menyangka jika Rossy benar-benar nekat terjun dalam situasi yang sangat berbahaya.
__ADS_1
Diusapnya wajah dengan kasar sambil menghela napasnya dalam-dalam.
"Ceritakanlah bagaimana kejadian sebenarnya!" titah William kembali.
"Saat itu nona meminta saya mengambilkan air untuk minum. Karena air dalam teko yang ada di kamar sudah habis maka saya izin untuk ke dapur terlebih dahulu. Saat saya kembali saya tidak mendapati Nona, dan ksatria yang berjaga hanya mengatakan Nona pergi ke taman sebentar bersama seorang ksatria pengawal bernama Henry," ujar Adele memberikan penjelasan walaupun tubuhnya gemetar dan basah anakan peluh.
"Lantas kenapa kamu panik? Tinggal cari saja ke taman," jawab William menanggapi.
"A-awalnya saya berpikir demikian, tapi semua ketenangan saya hilang saat melihat surat ini di atas meja nona."
Adele menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan sebuah pesan dari Rossy. Seketika William menerima secarik kertas tersebut lalu mulai membacanya dengan seksama.
"Astaga! Sebenarnya sebarapa banyak tikus-tikus Ferus itu di sini?"
Kepala William terasa sakit mendapati kenyataan yang selama ini ia abaikan begitu saja. Kekosongan takhta yang cukup lama membuat cela di dalam istana yang menjadi pisau bermata dua.
Kejadian ini sungguh mengherankan hati William untuk segera melakukan upacara pengangkatan, agar ia bisa lebih bebas untuk merombak seluruh sistem dan pekerja di dalam istana.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak mengetahui siapa saja suruhan Ferus itu?" tanya William dengan nada yang membentak pada Adele.
Gadis itu hanya menunduk dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Duke Ferus selalu menyembunyikan siapa yang menjadi mata dan telinganya, kami sendiri hanya mengetahui beberapa saja."
"Sial! Cepat perintahkan Caine untuk menemukan jejak Rossy! Saya tidak ingin Rossy lebih lama di tangan mereka!"
***
Guncangan hebat yang membuat kepalanya terbentur serta suara langkah kaki kuda sontak menyadarkan Rossy dari tidurnya. Kepala bagian belakangnya terasa sedikit sakit, seakan baru saja ada sesuatu yang menghantamnya dengan keras
"Dimana ini?" gumam Rossy, berusaha melihat tanpa menggerakkan kepalanya.
Hari yang mulai gelap membuat pencahayaan pun mulai meredup. Satu yang pasti, dirinya tahu jika tengah berada di sebuah kreta kuda lusuh yang akan membawanya ke tempat antah berantah.
Gadis itu berusaha mengumpulkan ingatannya. Sejenak ia berusaha untuk menarik kembali apa yang tengah terjadi sebelum kesadarannya tiba-tiba saja menghilang.
"Saya sudah membawanya!"
__ADS_1
"Silahkan! Tuan sudah menunggu!
Suara dua orang pria asing dari luar kereta sontak saja membuatnya mengerutkan kening. Rossy terus mengingat hingg akhirnya ia pun tersentak.