
"Apa katamu, Lady Noer ditangkap utusan kekaisaran?" Robert terlihat sumringah setelah mendengarkan sebuah kabar yang baru saja ia dapatkan, dari beberapa orang pelayan Istana yang menjadi kaki tangannya.
Marquess Nore adalah orang yang kuat dan setia, bahkan kesetiaannya tak pernah tergoyahkan sedikitpun dari keluarga kekaisaran, bahkan saat para faksi bangsawan yang dipimpin oleh Duke Robert Ferus mengiming-imingi berbagai keuntungan jika bergabung padanya.
"Mari kita lihat sampai mana batas kesetiannya yang menggelikan itu! Putrinya yang bodoh itu benar-benar sudah membantu kita secara tidak langsung," ucap Robert kembali.
Kabar penangkapan Isabella sepat tersebar, membuat bangsawan dan rakyat di ibukota bertanya-tanya akan masalah yang tengah terjadi di istana. Hanya Robert sajalah satu-satunya bangsawan luar yang mengetahui semuanya langsung, karena dirinya sudah menempatkan beberapa kali tangannya di dalam istana selain Adele.
"Lalu bagaimana dengan putri Baron itu? Apakah ia masih mengerjakan pekerjaannya dengan baik?" tanya Robert.
"Dia masih terlihat normal dan mengerjakan pengerjaannya seperti biasa. Tampaknya tidak ada yang curiga jika Adele adalah orang-orang kita," jawab Henry, pria muda yang merupakan salah satu anggota ksatria tingkat satu dibawah komando Sir Caine.
Robert menempatkan kaki tangannya di berbagai posisi dengan mulus, sehingga nyaris tak terlihat mencurigakan.
"Apa ada lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Hubungan Pangeran Alexander dan Putra Mahkota sepertinya mulai semakin merenggang, lalu saya mendapatkan laporan jika satu pekan lagi Pangeran Alexander harus kembali ke menara sihir untuk beberapa hari."
Ha! Ha! Ha!
Gelak tawa kembali terdengar memenuhi ruang kerja yang berada di dalam mansion Duke. Pria paruh baya itu mengambil sekantung uang yang berisi tiga puluh keping koin emas lalu melemparkannya kepada Henry.
"Keja bagus. Saya harap kau harus terus menajamkan mata dan telingamu lali segera laporkan pada saya!" titah Robert sambil tersenyum seringai.
Robert bangkit dari kursi kerjanya, berjalan perlahan mendekati Henry lalu menepuk pundaknya seraya berbisik, "Jika saya berhasil, maka saya menjamin kau akan saya angkat menggantikan Caine. Jadi, jangan kecewakan saya!"
"Cepat keluarkan saya! Cepat! Apakah kalian tidak mengenal saya? Saya ini putri Marquess Nore, saya tidak pantas diperlakukan seperti ini!" Sejak menginjakkan kaki di penjara Istana, Isabella tiada hentinya berteriak. Gadis yang semula memohon ampun, kini terlihat gusar dan mengancam ksatria yang menggiringnya ke dalam penjara.
"Saya tidak akan memaafkan kalian! Ingat itu!" seru Isabella kembali
Baru saja berada lima menit di dalam penjara bawah tanah yang pengap, sudah membuat Isabella menggila. Gadis itu terus menerus berteriak dan memaki, mengancam siapapun yang terlihat di depan matanya.
__ADS_1
Bunyi suara langkah kaki terdengar menggema, semakin lama semakin mendekat menuju sel yang ditempati oleh Isabella. Kedua mata gadis yang seakan dipenuhi oleh rasa takut dan amarah seketika berubah menjadi binar yang mengharapkan secercah cahaya.
"Yang Mulia!" serunya sumringah saat melihat Alexander berjalan ke arahnya.
Surai panjang berwarna perak dengan mata biru pria berkulit putih itu semakin menambah aura surgawi yang menyelimuti Alexander. Tanpa berekspresi apapun, Alexander berdiri tepat di hadapan Isabella dan hanya dipisahkan oleh jeruji besi.
"Yang Mulia! Saya sangat yakin jika Yang Mulia akan menyelamatkan saya," ucap Isabella penuh dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi.
Namun gadis itu hanya terus berbicara secara sepihak, sedangkan Alexander hanya diam mematung dan menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan mimik wajah Alexander pun tetap datar tanpa menunjukkan perasaan apapun.
"Yang Mulia saya yakin anda akan mempercayai saya. Reputasi saya dan keluarga saya sangat bagus bahkan kami tidak pernah mengkhianati keluarga Kekaisaran walaupun kami harus berjalan di atas duri. Tentu saja saya percaya Yang Mulia akan berpikir seperti itu, daripada mempercayai seseorang yang bahkan tidak diketahui asal usulnya."
"Apa maksudmu? Apakah kamu pikir jika kamu lebih baik daripada Rossy? Sedari tadi kau terus berbicara tanpa rasa bersalah, aku pikir penjara tidak juga membuatmu jera," ucap Alexander seraya menarik sebilah pedang yang selalu ia bawa.
Raut wajah Isabella sontak berubah, gadis itu kembali pucat pasi dengan perlahan melangkah mundur.
__ADS_1