My Favorite Prince

My Favorite Prince
Pengkhianat


__ADS_3

Cathrina Evelyn Ferus, gadis berusia dua puluh tahun yang merupakan anak semata wayang dari Duke Robert Ferus. Wanita berambut blonde yang memiliki sifat angkuh itu tersenyum seringai, menatap seorang gadis muda di hadapannya dengan tatapan yang tajam.


"Hebat sekali, tikus kecil ini benar-benar berani menyelinap ke dalam istana," cibirnya dengan senyuman seringai yang tersungging di wajahnya.


Perkataan Cathrina membuat putri Baron itu gemetar, dan terus menunduk karena tak kuasa menatap Cathrina yang terus menerus menekannya.


"Mengapa kau seperti itu pada gadis berharga ini?" Suara Duke Robert sontak mengalihkan perhatian Catharina. Langkah kakinya kian mendekat, menghampiri putri kesayangannya yang terlihat sedang jengkel hingga wajahnya terlihat lebih bengis dari biasanya.


"Apakah penglihatan ayah tidak salah? Mengapa menugaskan hal besar pada orang yang tidak berkompeten seperti ini?" tanya Catharina jengkel.


"Apa maksudmu tidak berkompeten? Dia adalah anjingku yang sangat berharga, lihatlah dia begitu lugu hingga tidak ada seorangpun yang menyangka jika dia adalah rubah betina," jawab Ribet sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana jika suatu hari dia tertangkap basah, apakah ayah yakin jika mulutnya itu tidak akan bersuara walaupun sebilah pedang siap menebas leher kecilnya itu?"


Perkataan Catharina seketika membuat putri dari seorang Baron itu terlihat pucat pasi, tubuhnya bahkan gemetar membayangkan jika hal tersebut suatu hari datang menimpa dirinya.


"Ha-ha-ha ... silahkan saja dia buka suara jika memang sudah bosan melihat ayahnya yang tidak berguna itu hidup."


Deg!


Kedua tangan gadis itu mengepal dengan erat, tetapi ia sama sekali tidak bisa meluapkan kemarahannya. Jika seandainya keadaan tak memaksa dirinya untuk tunduk di bawah perintah Robert, maka dirinya tidak lebih memilih untuk tetap tinggal di desa dengan damai, walaupun tidak memiliki harta seperti bangsawan pada umumnya.


"Ha-ha-ha ... mata ayah memang tidak pernah salah, aku jadi menantikan hal menarik apa yang bisa dilakukan oleh tikus kecil dan imut ini," ucap Catherina seraya menyentuh dagu gadis itu dengan sebuah kipas tangan yang selalu ia bawa kemanapun.


Ekspektasi wajah tertekan gadis itu nampaknya membuat suasana hati Catherina kian membaik. Dia pun melipat kedua tangannya di depan dada sebelum akhirnya berkata dan pergi.


"Nanti sajalah aku akan bicara pada ayah! Gadis ini benar-benar mainan yang menyenangkan."


***


Suasana di dalam istana tiba-tiba saja menjadi gaduh, bagaimana tidak karena kabar kepergian Rossy bersama dengan Alexander tersebar begitu saja walaupun sudah disembunyikan dengan rapat-rapat.

__ADS_1


Entah darimana kabar itu berasal, yang pada akhirnya tersebar melalui mulut-mulut para pelayan istana yang gemar bergunjing.


"Bukankah Nona sedang sakit? Aku kan yang melayani Yang Mulia karena Nona harus beristirahat hari ini."


"Entahlah, aku mendengar jika mereka pergi sembunyi-sembunyi."


"Maksud kamu, Nona telah mengelabui Yang Mulia Putra Mahkota?'


"Kecilkan suaramu! Bagaimana jika Yang Mulia mendengar?"


William yang sedang berjalan-jalan sendiri untuk mencari udara segar seketika terdiam di balik tembok, mendengarkan perbincangan para pelayan tentang Rossy dan juga Alexander.


Keningnya mengerut, ia tampaknya tengah mendengarkan dengan seksama semua bahan pembicaraan para pelayan itu.


"Apa maksud perkataan kalian?"


Kehadiran William yang mendadak sontak membuat para pelayan itu membungkam mulutnya dan menunduk ketakutan. Tak ada yang berani berbicara terutama melihat raut William yang tampak muram dari biasanya.


"Ampun, Yang Mulia. Kami hanya mendengar rumor yang tersebar dari mulut ke mulut saja," seorang pelayan memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari Putra Mahkota. Hal tersebut kian membuat William geram sekaligus penasaran, mengingat dirinya yang sudah jelas melihat Rossy dengan wajah yang pucat pasi karena sakit.


"Memangnya rumor apa yang membuat kalian seperti itu?" tanyanya seraya menekankan kalimat yang ia lontarkan dari bibirnya.


Ekspresi wajah William yang seolah tak menunjukkan emosi apapun, kian menambah tekanan kepada tiga orang pelayan wanita itu. Ketiganya sangat berhati-hati dan berpikir ulang sebelum menjawab pertanyaan dari sang pewaris takhta.


"Ada yang mengatakan jika melihat Nona Rossy pergi bersama Yang Mulia Pangeran Alexander sejak pagi. T-tapi b-bukankah Nona Rossy tengah sakit, tidak mungkin ia pergi kecuali membohongi Yang Mulia."


"Jaga lisan kalian selama berada di Istana, karena jika semuanya tidak terbukti benar maka kalian yang akan menanggung akibatnya!" ancam William lalu pergi begitu saja.


Langkah kakinya kian cepat, melangkah menuju kamar Rossy untuk membuktikan jika rumor tersebut salah. Walaupun dirinya baru mengenal gadis itu, bahkan selalu saja bertengkar setiap mereka bertemu, egonya menitahkan jika hanya dialah yang berhak atas diri Rossy seutuhnya.


"Siapa kau?" William berteriak saat melihat ada seseorang yang memakai jubah berjalan dan hendak masuk kedalam kamar Rossy.

__ADS_1


Suara pria itu seketika menghentikan langkah, lalu membuat sosok berjubah itu terdiam dan melepaskan tudung yang menutupi kepalanya.


"Salam untuk Matahari kecil kekaisaran, Yang Mulia Putra Mahkota," ucapnya seraya menunduk untuk memberikan salam penghormatan.


Detak jantungnya kian berdetak dengan kencang, sosok berjubah yang ternyata adalah Adele itu terkejut. Wajahnya bahkan memucat saat melihat William semakin mendekat ke arahnya sambil menatap tajam.


"Kamu, dayang yang melayani Rossy?" tanya William tanpa berbasa basi.


"B-benar yang mulia, saya Adele La Orien," jawab Adele gugup, bahkan keringat dingin tiba-tiba saja mengalir dari tubuhnya. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang walaupun tubuhnya sudah mulai gemetar.


"Orien? Kau berasal dari keluarga Baron Orien dari wilayah barat? Lantas sejak kapan kau bekerja di istana?" tanya William kembali seakan menelisi layar belakang Adele dengan seksama. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun tetapi tatapannya semakin tajam bagaikan sebilah pisau.


Sebelum menderita depresi sesungguhnya William adalah sosok yang sensitif. Pria itu bahkan sanggup menghapal semua nama dan latar belakang seluruh pekerjaan di dalam istana, sehingga membuatnya merasa aman dan nyaman.


"E-emm s-saya sudah tiga bulan bekerja d-disini, Yang Mulia. S-sebelum Nona Rossy datang, saya bekerja sebagai pelayan di Istana Bintang."


*Istana Bintang: Istana tempat tinggal pangeran yang kini ditempati oleh Alexander.


"Pelayan?" tanya William kembali.


"Benar, Yang Mulia. K-keluarga saya jatuh miskin dan saya butuh biaya untuk pengobatan ayah saya. Jadi, saya butuh pekerjaan, walau menjadi pelayan sekalipun saya sama sekali tidak keberatan," ungkap Adele.


"Baiklah. Lalu, darimana saja kamu? Saya perhatikan jika kamu baru saja dari luar. Bukankah Rossy sedang sakit? Alangkah baiknya jika kamu selalu berada di sisinya untuk memantau kondisi kesehatannya."


"S-saya ...," ucapnya terputus.


"Sudahlah! Mana Rossy? Saya ingin bertemu dengannya!"


Perkataan William membuat Adele tersenyum tipis, lalu berkata dengan lembut seakan sudah meluapkan kegugupan yang sedari tadi melanda dirinya.


"Nona Rossy sedang tidak berada di tempat, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2