My Favorite Prince

My Favorite Prince
Badai Salju


__ADS_3

Angin mulai berhembus kencang disertai dengan salju yang turun kian lebat dari biasanya. Suhu yang tiba-tiba berubah drastis menjadi lebih dingin pun seketika membuat Rossy menggigil kedinginan. Tangan dan wajah gadis itupun bahkan terlihat memerah dengan rasa gatal yang ditimbulkan akibat suhu rendah tersebut.


"Rossy, kamu kenapa?" tanya Alexander yang mulai mendapati gelagat aneh dari Rossy. Namun Rossy hanya diam seolah dirinya udah membeku di tengah lingkungan bersuhu rendah itu.


Sontak saja pria berambut abu-abu itu tersentak kala dirinya mengingat jika Rossy tidak kuat akan cuaca dingin, terlebih kala itu sepertinya badai salju tiba-tiba saja menerjang, membuat mereka terjebak akan situasi tidak menyenangkan itu.


Alexander menyentuh telapak tangan Rossy perlahan, tubuh gadis itu terasa dingin seakan suhunya menurun seketika.


Tanpa ingin berlama-lama, Alexander segera menggendong Rossy dan menaikannya ke atas kuda. Angin kencang dan salju yang turun semakin lebat, membuat dirinya sontak secepat kilat berpikir untuk mencari jalan keluar guna menyelamatkan Rossy. Sedangkan jika mereka memaksakan untuk kembali ke istana, setidaknya mereka harus menempuh perjalanan selama empat puluh menit.


Dari kejauhan terlihat sebuah penginapan, Alexander semakin memacu kudanya dengan kecepatan lebih tinggi agar segera sampai ke tempat itu.


"Apakah ada kamar kosong?" tanya Alexander sambil terus menggendong Rossy, pria itupun bahkan terus berusaha menutupi rambut Rossy agar tidak terlihat dan memancing perhatian.


"Kamar hanya tersisa satu, Tuan" jawab pria paruh baya yang merupakan pemilik dari penginapan sederhana itu.


Tak ada pilihan lain, Alexander pun langsung setuju dan membayar biaya sewa untuk satu malam. Pikirannya kini hanya berfokus pada Rossy, dan penyesalan karena dirinya lagi dan lagi telah menyeret gadis itu ke dalam marabahaya.


"Ini kamar anda, jika anda membutuhkan sesuatu bis langsung memberitahukan saya," ucapnya setelah mengantar Alexander dan Rossy hingga depan kamar yang telah mereka sewa.


Alexander mengangguk lalu berkata dengan sopan, "Bolehkan saya meminta air hangat untuk minum dan juga kompres kekasih saya? Dia nyaris mengalami serangan suhu dingin."


"Baiklah, saya akan mengantarkannya secepat mungkin," jawab pria paruh baya tersebut.


Alexander melangkah masuk dan mulai merebahkan tubuh Rossy dengan perlahan ke atas ranjang. Bibir gadis itu kini terlihat membiru dengan wajahnya yang semakin memerah.


"Tahan sebentar, kamu pasti akan baik-baik saja," ucap Alexander berusaha untuk menutupi rasa paniknya.


Alexander mulai melepaskan jubah hitam yang dikenakan oleh Rossy dan menutupi tubuh gadis itu  dengan selimut. Perlahan ia mulai menyalurkan rasa hangat dengan sihir yang dimilikinya, hingga tiba-tiba pintu kamar mereka pun diketuk.


Tok! Tok! Tok!


Perhatian Alexander sejenak teralihkan, pria itu sontak segera berjalan dan membuka pintu kamarnya.


"Ini air hangat untuk minum dan juga untuk kompresnya, Tuan. Jika ada yang dibutuhkan lagi jangan segan untuk memanggil saya," ucap pemilik

__ADS_1


penginapan itu kembali.


Alexander pun menerima nampan yang berisi air hangat dalam satu buah gelas dan satu mangkuk ukuran besar, serta handuk kecil yang diletakkan di pinggir nampan tersebut.


Dengan telaten, Alexander mengurus Rossy yang sudah mulai kehilangan kesadarannya dengan sungguh-sungguh.


Rasa khawatir menyelimuti hatinya, dan kian membesar seiring dengan Rossy yang mulai menutup matanya.


Alexander terus berjuang menghangatkan Rossy dengan sihirnya, dan sesekali ia pun mengompres tubuh Rossy dengan handuk yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat.


Semua terus berlangsung selama beberapa jam, dan akhirnya ia pun tertidur setelah keadaan gadis itu mulai berangsur membaik.


***


"Yang benar, Yang Mulia berbicara denganmu?"


"Iya, benar! Bahkan nyaris semua orang yang ia temui ditanyakan hal yang sama."


"Ya Tuhan, apakah ini sebuah pertanda baik?"


Para pelayan terlihat asik berbincang satu sama lainnya pada pagi itu. Bagaimana tidak, sang putra mahkota yang selama satu tahun hanya gemar menyendiri bahkan terlihat tak memiliki semangat hidup, secara tiba-tiba berkeliling istana, mencari keberadaan dayang barunya, bahkan tak segan untuk menanyakannya kepada setiap orang yang berpapasan dengan dirinya.


Tentu saja kehebohan tak dapat terelakkan lagi, sebagian dari mereka bahkan berspekulasi jika hal tersebut tak lepas dari terkabulnya ramalan yang belum lama menggemparkan ibu kota.


"Apakah ini berkat Lady Rossy?"


"Semoga saja, agar kita segera mendapatkan kaisar baru."


Sementara itu yang bersangkutan masih terlihat resah di dalam kamarnya. Semenjak ia membuka matanya, dirinya terkejut kala yang melayaninya bukanlah Rossy. Bahkan Caine atau kepala pelayan sekalipun tidak mengetahui keberadaan Rossy dan Alexander yang tak kunjung kembali sejak kepergian mereka kemarin sore.


"Kemana mereka? Sudah tahu cuaca sedang buruk tapi malah berpergian. Kalau sudah seperti ini siapa yang gak kepikiran?"


James yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku putra mahkota hanya bisa tersenyum kecil, walaupun tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga khawatir dengan keselamatan Pangeran Alexander dan juga Rossy, tetapi dirinya juga tidak dapat berbohong jika kini ia merasa senang karena William sudah jauh lebih ekspresif dari biasanya.


Mungkin kehadiran Rossy yang selalu mengganggunya setiap hari telah membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna, dan saat sebentar saja gadis itu tidak ada maka William merasa kesepian.

__ADS_1


"Lagi pula dia itu dayangku, buat apa dia bepergian dengan Alexander?" tanya William kesal.


"Maaf Yang Mulia, karena sejak awal Lady Rossy memang dekat dengan Yang Mulia Pangeran Alexander. Jadi, Yang Mulia Pangeran Alexander hanya ingin mengajaknya berjalan-jalan sebentar untuk melihat-lihat," jawab James dengan sopan.


William menghela napasnya sambil terus memijat keningnya yang terasa berdenyut. Badai salju memang sudah usai tetapi angin masih berhembus kencang hingga membuat suhu tetap terasa lebih dingin dari biasanya.


"Panggilkan Caine!" seru William memerintahkan.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Caine pun datang menghadap William.


Tanpa rasa segan sang putra mahkota pun menitahkan pencarian untuk Rossy dan juga Alexander, tanpa memikirkan jika cuaca di luar belum stabil.


***


Sementara itu Rossy tampak termenung saat dirinya sudah mengingat apa yang telah terjadi. Gadis itu benar-benar tidak enak hati kepada Alexander karena berkali-kali telah menyusahkan sang pangeran.


"Ros, kamu sudah bangun," tanya Alexander dengan suara paraunya yang terdengar sangat menggoda.


Pria mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu perlahan bangkit dan menyentuh telapak tangan dan kening Rossy.


"Apa masih ada yang merasa tidak enak?" tanya Alexander.


"A-aku gak apa-apa. Aku minta maaf karena sudah terlalu sering menyusahkan Yang Mulia," jawab Rossy gugup.


Untuk pertama kalinya ia tidur berbagi ranjang dengan seorang pria, bahkan pria itu merupakan sang pangeran yang sangat dirinya idolakan. Tak heran jika wajahnya memerah karena menahan rasa malu dan gugup, hingga membuat gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk.


"Aku sama sekali tidak merasa disusahkan, aku sangat merasa senang karena bisa melakukan sesuatu untuk kamu," jawab Alexander seraya membelai lembut surai hitam milik Rossy.


Rossy terperangah menatap Alexander yang tersenyum hangat padanya. Sepasang mata mereka saling bertemu satu sama lainnya, membuat Alexander perlahan mulai mendekati wajah Rossy yang memerah.


"Y-yang Mulia."


"Sttt! Panggil namaku saja."


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


__ADS_2