My Favorite Prince

My Favorite Prince
Hukuman


__ADS_3

Kamar megah tersebut terasa sangat pengap dan mencekik bagi Adele. Sudah satu jam lamanya gadis itu dikurung di dalam kamar Rossy dengan dijaga oleh beberapa ksatria yang bersiap di depan pintu kamarnya.


Adele terduduk di lantai dengan matanya yang sembab. Entah apa yang akan terjadi dengan nasibnya, membayangkannya saja sungguh membuatnya ketakutan setelah mati.


"Apa aku kabur lewat balkon?" gumamnya sendiri tetapi, seketika ia langsung menepis semua pikirannya untuk melarikan diri.


Melarikan diri ataupun tidak, akhirnya akan tetaplah sama untuk dirinya. Adele meyakini jika dirinya tidak mungkin bisa selamat dari tangan Duke Robert Ferus.


Gadis itu mengigit bibir bagian bawahnya hingga terluka dan berdarah, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah keluarganya terutama sang ayah yang sedang sakit keras.


Suara langkah kaki yang berasal dari sepatu para ksatria terdengar mendekat, membuat nyali Adele seketika semakin menciut dan membuatnya ingin menangis ketakutan.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika aku dipenjara, bagaimana nasib orang tua dan adikku?"


Perlahan pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Jenderal Caine dengan seragam lengkap serta sebilah pedang yang disematkan di pinggangnya.


Sorot matanya terlihat tajam dan dingin, kian menggetarkan mental Adele yang sudah terpuruk.


"Lady Orien. Tolong segera ikut saya!" titah Caine dengan suara yang lantang.


Adele menundukkan kepalanya, berjalan mengikuti Caine dari belakang dengan wajah yang terlihat pucat pasi tanpa bertanya sepatah katapun. Gadis itu trus memainkan jemarinya dengan gemetar, matanya sayu menyiratkan jika ia tengah berada di bawah tekanan yang membuatnya berada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Tolong jangan tegang, saya tidak ingin siapapun berasumsi jika Anda tengah berada dalam ancaman saya!" seru Caine kembali.


"B-baik, Sir," jawab Adele lirih.


Alih-alih di bawa menuju penjara bawah tanah istana, kini mereka pergi ke arah Istana Bintang berada. Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya, tetapi kini semua itu tidaklah penting karena yang lebih utama cara agar Pangeran ataupun Putra Mahkota tidak turut menghukum dan mengeksekusi keluarganya hanya karena kesalahan yang telah ia lakukan.


Tok! Tok! Tok!


"Yang Mulia, saya sudah membawa Lady Orien."


Deg!


Kehadiran Putra Mahkota, Pangeran Alexander, Rossy, serta kepala pelayan sontak membuat Adele kian tak mampu berkutik. Jangankan untuk bersuara, menatap pun rasanya sudah tak mampu. Hanya air mata penyesalan dan ketakutan yang mulai turun membasahi wajahnya.


"A-ampuni saya, Yang Mulia. S-saya s-sangat terpaksa. S-saya mohon ampuni saya." Adele memohon belas kasih dari William dan juga Alexander. Isakan tangisnya memenuhi ruangan yang terasa sangat sesak bagi gadis itu.


"Apa kamu benar-benar meremehkan kami, hingga kamu berani mengkhianati keluarga Kekaisaran? Kamu tahu, kan, apa konsekuensinya mengkhianati kami?" tanya William murka, sementara Rossy dan Alexander terlihat lebih tenang dan memilih untuk menyembunyikan ekspresi wajah mereka.


"S-saya terpaksa. A-ampuni saya, Yang Mulia."


Rossy tersenyum seringai lalu menghampiri Adele dan berkata, "Apakah aku kurang baik padamu? Padahal jika kau berada dalam kesulitan, kau bisa meminta bantuan dari kami. Tapi kenapa kau lebih memilih menjadi mata-mata Robert?"

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona. Saya sangat menyesal, tolong ampuni saya."


"Menyesal?  Kenapa kau tidak berpikir sebelum melakukan sesuatu?" 


Tekanan di dalam ruangan megah itu kian terasa, Rossy terus menerus menghujani Adele dengan berbagai pertanyaan yang semakin tak mampu gadis itu jawab. Dalam tangisannya Adele hanya terus mengatakan penyesalan dan  juga memohon ampunan atas pengkhianatannya.


"James, hukuman apa yang layak di dapatkan oleh pengkhianat?" Alexander yang sejak tadi tampak diam dan tenang tiba-tiba saja membuka suaranya. 


James yang berdiri di sampingnya pun menjawab dengan tenang, "Eksekusi mati atau pemusnahan seluruh keluarganya, Yang Mulia."


"Tidak! Saya mohon belas kasih, Yang Mulia! Tolong jangan libatkan keluarga saya, mereka tak mengetahui apapun atas kejahatan yang saya lakukan." 


Jawaban dari James semakin membuatnya histeris. Adele semakin bersyukur hingga keningnya menyentuh lantai dengan tangisan yang semakin menggelegar.


"Lebih baik saya yang mati, daripada keluarga saya. Saya mohon ampuni saya, Yang Mulia."


"Dayangku yang baik. Kamu ingin belas kasihan dari kami?"


Rossy berjongkok perlahan lalu mengusap rambut Adele sambil tersenyum. Seketika gadis itu sedikit mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan cepat.


"Apakah kamu mau melakukan apapun yang kamu suruh?" tanya Rossy kembali.

__ADS_1


"T-tentu saja, Nona. Apapun akan saya lakukan."


"Baik. Tapi kau harus terikat kontrak sihir, dan jika kau melanggar ataupun berdusta maka hidupmu akan berakhir saat itu juga, mengerti!"


__ADS_2