My Favorite Prince

My Favorite Prince
Berpisah


__ADS_3

Air mata Rossy mengalir saat bibir mereka bersatu. Ciuman yang terasa hangat dan menyampaikan pesan tulus itu seakan mengoyak hati kecilnya.


'Aku tidak ingin berpisah denganmu.' Rossy bergumam di dalam hatinya, seraya menikmati sentuhan kecupan manis Alexander.


Namun, suara misterius yang menuntutnya secepatnya menyelesaikan misi kembali menarik kesadarannya yang sudah terhanyut akan pesona sang pangeran.


"Lady, seumur hidupku aku tidak pernah sebahagia ini. Aku bahkan bahagia setiap saat menyadari jika kamu masih di sini," bisik Alexander kembali.


Alexander memeluk Rossy kembali dengan sangat erat. Menumpahkan segala kerisauan dan kegundahan hatinya. Aroma tubuh Rossy yang menyegarkan, membuat dirinya tak berniat beranjak sedikitpun dari posisi itu.


"Yang Mulia, ada atau tidaknya saya disini. Tolong berjanjilah satu hal pada saya, jangan pernah terlalu larut dalam kesedihan karena saya sangat menginginkan kebahagiaan anda," pinta Rossy


Alexander menutup bibir gadis itu dengan jari telunjuknya lalu kembali berkata, "Tolong jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sejengkal pun dari sisiku!"


Sang rembulan yang bersinar menemani kedua insan yang tengah mengungkapkan perasaan mereka yang terpendam, berusaha menembus batas dimensi kehidupan yang masih terbalut akan misteri yang tak dapat dicerna akal logika.


Bukannya Alexander tak mengetahui seluruh rencana Rossy, tetapi dia berusaha menahan dan menutup mata. Hatinya terasa perih membayangkan apa yang akan terjadi di depan matanya, tetapi hal itu juga yang akan membuatnya lebih keras berusaha untuk mencari celah akan batas yang tiada berbentuk.

__ADS_1


"Saya mohon jangan pernah melupakan saya, Lady."


***


Sinar matahari menelusup lewat jendela kamar yang sudah di buka oleh beberapa orang pelayan. Rossy mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali.


Rossy terduduk di atas ranjang seraya mengusap-usap kedua kelopak matanya, lalu tersadar akan sesuatu hal. Dengan cepat gadis itu menarik tali lonceng yang berada di samping ranjangnya, hingga tak lama seorang pelayan datang ke dalam kamarnya dan berkata, "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"


"Sekarang jam berapa?" tanya Rossy panik.


Jawaban yang diucapkan pelayan tersebut sontak membuat gadis itu terperanjat. Rossy melompat dari atas ranjangnya lalu berlari keluar walaupun masih mengenakan pakaian tidur dan tanpa alas kaki.


Napasnya kian memburu, menyusuri koridor istana yang megah. Rossy sama sekali tidak peduli walaupun banyak pasang mata menatap ke arahnya.


Beberapa kali dirinya terjatuh, hingga kakinya terluka dan gaun tidurnya pun menjadi kotor. Namun, semua itu tak lantas membuat gadis itu menyerah.


Rossy terus berlari menuju Istana Bintang, berharap jika kedatangannya belum terlambat.

__ADS_1


'Aku mencintaimu.'


'Saya mohon, tolong jangan lupakan saya.'


Setiap kalimat yang diucapkan Alexander semalam terus berputar di dalam kepalanya, membuat keyakinan di hatinya menjadi goyang dan nyaris runtuh saat itu juga.


"Aku mohon Alex, aku mohon!" rancau Rossy.


Kini dirinya sampai di pelataran Istana Bintang, terlihat beberapa ksatria berkumpul bersama dengan Sir Caine dan James yang menatap lurus ke arah depan.


"Sir, Y-yang Mulia ma-na?" tanya Rossy dengan napasnya yang masih tersengal-sengal.


Rossy yang menyadari jika perkataannya tidak jelas, berusaha untuk menenangkan diri dan mengatur napasnya. Terlihat James dan Caine saling beradu pandang satu sama lainnya tanpa ada yang mengucap sepatah katapun.


"Di mana, Yang Mulia Alexander?" tanya Rossy dengan intonasi yang lebih jelas.


James menggelengkan kepalanya perlahan lalu berkata lirih, "Yang Mulia Pangeran Alexander, sudah pergi menuju menara sihir."

__ADS_1


__ADS_2