My Favorite Prince

My Favorite Prince
Rayuan Putra Mahkota


__ADS_3

"Yang Mulia," Rossy membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan saat berpapasan dengan William dan Alexander di pintu penjara.


Gadis itu tersenyum tipis seakan mengetahui apa yang membuat kedua pangeran tersebut nampak tergesa-gesa.


"Lady, sedang apa kau di sini? Ini adalah tempat yang berbahaya," tanya William.


"Saya hanya ingin melihat kondisi Lady Nore. Sebelumnya, izinkan saya untuk berbincang kepada Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," pinta Rossy.


William tersenyum, sambil sedikit melirik ke arah Alexander yang berada di sampingnya.


"Baiklah, mari ikut saya!" titah William dan berbalik arah, meninggalkan Alexander yang masih terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun diikuti Rossy yang berjalan di belakang William.


"Rossy, kau menghindariku?" Alexander berbisik seraya mengkaitkan jari tangannya dengan jari tangan Rossy, hal tersebut membuat Rossy tersentak dan seketika menghentikan langkah kakinya.


"Saya harus berbicara kepada Yang Mulia Putra Mahkota, saya permisi dulu, Yang Mulia."


Jangankan untuk saling bertegur sapa, setelah kejadian itu Rossy bahkan selalu memalingkan wajahnya saat melihat Alexander, seakan membatasi diri dan menolak perasaan Alexander tanpa berbicara.

__ADS_1


Alexander memandangi jemari tangannya yang tersentuh tangan Rossy. Rasa sunyi, hampa, dan putus asa yang sudah lama hilang kembali ia rasakan. Pria bersurai panjang dengan warna bak salju itu hanya bisa menyesal karena telah mengungkapkan perasaannya.


"Mungkin aku telah membebanimu."


***


Sementara itu William membawa Rossy menuju rumah kaca, semerbak harum bunga seketika menyeruak diiringi hangatnya sinar sang mentari.


Ingatan Rossy kembali saat dirinya pernah berbincang dengan Alexander di sana. Setiap hal yang ia lewati bersama sang pangeran kedua, tak ada satupun yang ia lupa, semuanya terukir dengan baik di hati dan pikirannya.


"Silahkan duduk, Rossy!" seru William.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Yang Mulia, saya tahu ini berlebihan tetapi, bolehkan saya meminta keringanan untuk hukuman Lady Nore?" pinta Rossy.


"Mengapa? Apakah kau diancam dengan Marquess Nore?" tanya William curiga.

__ADS_1


Rossy menggelengkan kepalanya, lalu kembali menatap William dan berkata, " Bukan seperti itu. Ini ada niat tulus dari saya sendiri. Saya benar-benar tersentuh dengan kasih sayang Marquess kepada putrinya, dan saat tadi saya mengunjungi Isabella, saya sangat yakin jika dirinya sudah berubah."


"Yang Mulia, selain dua hal tersebut sebenarnya saya juga mengkhawatirkan sesuatu," sambung Rossy kembali.


Kening William berkerut sambil menatap Rossy dengan seksama. Pria berambut pirang itu menyiratkan tatapan mata penuh tanda tanya, dan hal tersebut tidak terlewatkan oleh Rossy yang sudah menyadarinya.


"Saya yakin kondisi ini akan dimanfaatkan oleh Duke Robert Ferus beserta antek-anteknya. Ini akan sangat berbahaya dan merugikan, karena keluarga Marquess terkenal akan kesetiaannya pada pihak istana. Kalau kita sampai kalah jumlah karena terlalu banyak bangsawan yang condong ke sana, nyawa anda akan terancam!" seru Rossy.


"Jadi kau mengkhawatirkanku?" William bertanya seraya tersenyum sumringah pada Rossy.


Pria itu bangkit dan berjalan menuju kumpulan tanaman bunga Lily yang didominasi berwarna putih lalu memetiknya setangkai.


"Ya, saya sangat mengkhawatirkan keselamatan anda. Anda adalah kaisar selanjutnya dan anda merupakan pilar dari Kekaisaran ini. Saya harap anda selalu berada di dalam keselamatan," jawab Rossy dengan tenang.


"Lady, apa kau ingin aku segera mengumumkan untuk naik takhta?" tanya William kembali.


"Tentu saja, saya ingin anda segera naik takhta dan menjadi kaisar yang bijaksana."

__ADS_1


Langkah kaki William mendekat kepada Rossy lalu pria itu menyisipkan bunga yang baru saja ia petik di telinga gadis itu. Tak hanya hal tersebut, Rossy sama sekali tidak menduga William menyentuh helaian rambutnya lalu mengecupnya seraya berkata, "Aku akan menjadi kaisar, jika kau bersedia untuk menjadi permaisuri ku."


__ADS_2