My Favorite Prince

My Favorite Prince
Permohonan Isabella


__ADS_3

Pencahayaan minim dilengkapi dengan bau lembab seakan tak bisa menjadi penghalang bagi Rossy mengunjungi tempat terburuk di dalam istana. Suara kakinya menggema, menuruni satu persatu anak tangga menuju penjara bawah tanah.


Dengan lilin yang ia bawa, Rossy mencari sel baru tempat dimana Isabella dipenjara. Hingga dirinya melihat Isabella yang tengah meratapi diri menghadap tembok yang dipenuhi lumut.


"Lady Nore," sapa Rossy tetapi tak ada jawaban sama sekali dari Isabella.


Kondisi Isabella semakin terlihat menyedihkan, gadis itu bahkan tak menyentuh makanannya hingga membusuk dan menimbulkan aroma tak sedap.


.


"Lady, Saya tahu Anda membenci saya. Tetapi, Saya benar-benar harus berbicara pada Anda," ucap Rossy walaupun Isabella tak bergeming dari tempatnya berada.


Hanya suara tetesan air yang terdengar di ruangan pengap dan terasa dingin tersebut. Rossy sama sekali tidak menyangka, jika seorang gadis angkuh yang selalu memiliki tenaga ekstra untuk tunggu dirinya kini terlihat bagaikan cangkang kosong.


Rossy menghela napasnya dan terus berpikir cara untuk menarik perhatian Isabella. Karena bagaimana menyebalkannya sikap Isabella pada dirinya, gadis itu bukanlah karakter antagonis yang menjadi ancaman bagi Alexander ataupun William. Namun sebaliknya, Rossy khawatir jika Marquess Nore memilih bergabung dengan Robert dan meninggalkan kesetiannya pada istana.

__ADS_1


"Saya akan membantumu untuk lepas dari penjara ini. Mungkin akan membutuhkan waktu tetapi saya akan berusaha."


"Nona sungguh beruntung karena terlahir dari keluarga kaya raya dan tumbuh dengan limpahan kasih sayang. Sampai saat anda salah pun, ada seseorang yang tanpa malu tengah mengiba setiap hari, membuang seluruh martabatnya demi anda." Rossy terus berkata apapun yang ingin ia ucapkan, ia pun mencurahkan seluruh perasaan di hatinya tentang pengorbanan Marquess Nore yang sangat mencintai putrinya.


Rossy menghela napasnya, lalu duduk di lantai penjara tanpa peduli jika gaun yang ia kenakan akan kotor. 


"Saya kehilangan kedua orang tua pada usia yang sangat muda. Tapi, saat memiliki kedua orang tua pun tidak terasa perbedaan yang nyata, karena saya selalu hidup sendiri sementara orang tuaku hanya sibuk untuk mengejar kekayaan materi."


"Ya ... saya tahu jika kisahku ini amat sangat penting bagi anda. Saya cuma memberitahukan alasan mengapa saya tergerak untuk membantu anda. Bukan karena anda sendiri ataupun karena saya benar-benar melupakan semuanya. Saya hanya tidak tega melihat ayah anda terus pergi ke Istana hanya untuk berlutut memohon keringanan hukuman anda."


"Anda adalah wanita cerdas, saya pikir anda tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama," jawab Rossy tersenyum.


Tangisan Isabella mulai pecah kembali, artinya kayak puasa saat memikirkan bagaimana keadaan ayahnya saat ini. Seandainya saja dirinya dengarkan perkataan ayahnya dan membuang seluruh ego yang ia punya, mungkin sekarang diri ya masih berada di dalam mansion dengan kehidupan yang nyaman.


Gadis itu pun terus menangis tersedu-sedu, dan berkata lirih, "Aku ingin keluar dari sini, tolong aku!"

__ADS_1


"Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan berusaha membantu anda tetapi tolong hiduplah dengan baik setelah anda keluar dari tempat ini dan kembali ke dalam pelukan keluarga anda."


Sementara kabar kedatangan Rossy kedalam penjara bawah tanah pun sudah terdengar di telinga putra mahkota dan juga Alexander. Keduanya pun langsung bergegas hingga mereka bertemu di satu titik yang sama saat hendak menyusul Rossy.


Kedua pria bermata biru itu terdiam saling bertatapan, atmosfer dingin sontak terasa walaupun udara terasa panas saat itu.


"Alexander, mau kemana kau? Sepertinya sudah sangat lama kita tidak bertemu."


"Saya hendak menyusul Lady Rossy, Yang Mulia. Saya mendapatkan kabar jika dia tengah berada di dalam penjara bawah tanah, jadi saya pikir jika saya harus segera menyusulnya karena takut terjadi sesuatu pada Lady."


"Tidak perlu khawatir karena keselamatan Lady adalah tanggung jawab saya. Lantas saya dengar kau ingin pergi ke menara sihir, jadi kapan waktu anda berangkat?" tanya William kembali.


Alexander tersenyum dan menjawab, "Benar, Yang Mulia. Saya akan berangkat sekitar empat hari lagi."


"Baguslah, nikmati perjalananmu. Semoga menyenangkan!" seru William sambil tersenyum seringai, pria itu menepuk pundak sang adik lalu kembali berjalan meninggalkan Alexander sendiri.

__ADS_1


__ADS_2