My Favorite Prince

My Favorite Prince
Stay by Me, Lady!


__ADS_3

Helaian surai panjang berwarna putih bercampur abu-abu itu tampak berterbangan, terhempas angin musim dingin yang terasa menusuk hingga ke jantung. Alexander menatap hamparan tanah yang diselimuti salju dari kamarnya, pikirannya melayang memikirkan sebuah penawaran yang ditawarkan oleh Isabella.


"Aku harus bagaimana?" Alexander bergumam sambil mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.


Waktu tak terasa sudah berjalan lewat dari satu pekan sejak kedatangan Isabella ke istana. Gadis itu dengan beraninya menemuinya untuk bernegosiasi dengan Alexander.


'Aku akan memberitahukan siapa saja yang membantu Duke Robert berserta buktinya, tetapi sebagai gantinya anda harus menerima lamaran dari saya.'


Perkataan gadis itu sungguh mengusik dan membuat Alexander merasa tidak nyaman. Isabella memang terkenal akan sifatnya yang terlalu berani, tetapi bukankah terlalu beresiko bagi dirinya ikut campur masalah tersebut?


"Yang Mulia, Yang Mulia!"


Suara seorang wanita yang terdengar jauh sontak saja membuyarkan lamunan Alexander. Pandangan matanya melirik ke kanan dan ke kiri berusaha mencari ke arah sumber suara.


"Yang Mulia, di sini!"


"Rossy, sedang apa kamu di sana?" Alexander tersentak melihat Rossy yang tengah melambai-lambaikan tangan sambil memanggil Alexander di tengah taman yang berselimut salju. Senyuman gadis itu semakin sumringah dan cerah bak mentari di musim semi.

__ADS_1


"Ke sini, Yang Mulia!" seru Rossy berusaha membujuk Alexander untuk bertemu dengan dirinya.


Tanpa berpikir panjang, sang pangeran berparas rupawan itu segera melompati balkon kamarnya yang terletak di lantai tiga, berusaha secepat mungkin menghampiri Rossy yang tengah menunggu kehadirannya.


"Rossy, mengapa kau keluar dibtengah salju seperti ini? Bagaimana jika kamu sakit atau kedinginan lagi?" tanya Alexander dengan raut wajah khawatir.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Alexander, tetapi gadis itu hanya tertawa kecil. Rossy melangkahkan kakinya menuju sebuah gazebo lalu duduk di sana dengan tenang.


"Sudah tujuh hari aku tidak melihat anda, ternyata anda semakin bawel ya!" ucapnya dengan tawanya.


Hatchi!


Pria itu kembali memfokuskan pikirannya, lalu memancarkan sihir untuk menghangatkan suhu pada area gazebo tersebut.


"Kamu ini benar-benar nekat, bagaimana kalau kamu jatuh sakit? Tubuhmu itu, kan tidak tahan dengan suhu dingin!" omel Alexander.


"Memang sengaja biar saya demam, supaya saya ada alasan untuk mangkir bekerja. Saya benar-benar kesal dan capek menghadapi Yang Mulia Putra Mahkota yang sangat menyebalkan itu," keluh Rossy dengan raut wajah kesalnya, mengingat sikap William yang seakan membalas dendam pada dirinya.

__ADS_1


Seminggu penuh dirinya disibukkan akan pekerjaan yang tak berarti. William terus memerintahkannya mengerjakan hal-hal tak masuk akal, yang bahkan membuat Rossy tidak dapat sedikitpun memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Alexander.


"Benarkah? Aku pikir kamu sudah melupakannya aku karena terus bersama dengan William," goda Alexander yang berhasil membuat Rossy membuat raut wajah kesal.


Seakan tak ada rasa jenuh bagi Alexander menatap paras gadis yang sudah hadir secara ajaib di kehidupannya. Tawa Rossy ataupun sikap ekspresi-nya bak sebuah angin segar kala kepenatan tengah melanda dan memenuhi pikiran.


Rossy terus saja menceritakan kegiatannya dengan menggebu-gebu, tak terkecuali akan sikap William yang menurutnya amat sangat menyebalkan.


"Anda bayangkan, saya harus menghitung jumlah biji wijen pada dissert-nya! Astaga, jika dia bukan putra mahkota, sudah saya pukul kepalanya!" ungkap Rossy.


"Oh ya, dia tidak seperti William yang aku kenal."


"Aku rasa Yang Mulia sudah kerasukan hantu penjaga pohon maple! Atau kepalanya terbentur pilar istana!" seru Rossy.


Gadis itu menghela napasnya, lalu kembali melanjutkan perkataannya, "Namun, bagaimanapun aku harus tahan. Dengan begini aku bisa kembali ke duniaku berasal."


Deg!

__ADS_1


Bak tertusuk sebilah pisau tak kasat mata, hati Alexander terasa perih, napasnya bahkan tercekat seakan ada sesuatu yang mencekik dirinya.


Tatapannya sendu, dengan lembut Alexander pun bergumam, "Bisakah kamu tetap disini?"


__ADS_2