My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Sampai Dirumah


__ADS_3

Sampai Diruma****h


Setelah beberapa lama perjalanan, akhirmya sampailah mereka dirumah. Angel turun dari mobil dengan tersenyum senang. Pun Evan berdiri memperhatikan Angel didepanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Evan sungguh tak habis pikir dengan sifat Angel yang sering kali menggemaskan dimata Evan.


" Sampai kapan kau akan berdiri sambil tersenyum begitu?, apa kau akan berdiri sampai datang malam disini?, " tanya Evan. Evan mengambil beberapa barang dimobil dan membawanya masuk kerumah. Sementara Angel, ia tak begitu memperdulikan pertanyaan Evan sama sekali. Angel memperhatikan Evan yang berjalan masuk kedalam rumah diikuti Angel yang juga ikut masuk.


" Prof " panggil Angel. Ia mengekori Evan dari belakang.


" Ada apa?, " tanya Evan.


" Apa Prof tak lapar?, " tanya Angel. Evan yang mendengarpun sejenak menghentikan langkahnya dan kemudian membalikan tubuhnya. Ia memperhatikan Angel didepanya yang menunduk malu-malu.


" Apa kau lapar?, " tanya Evan.


" Sudah bukan lapar lagi Prof, tapi aku sudah sangat lapar. Kau tau sendiri aku ini manusia biasa. Harus makan kalau lapar, berbeda denganmu yang manusia yang tak masalah kalau tak makan, " jawab Angel. Evan yang mendengarpun hanya tertawa.


" Dalam keadaan butuhpun kau juga memakiku, " ucap Evan.


" Prof, aku serius. Aku sungguh lapar, " Angel memperhatikan suaminya denga kesal. Ia sungguh lapar. Bagaimana bisa suaminya hanya tertawa memperhatikan ia yang sedang kelaparan.


" Apa didapur sudah tidak ada yang bisa dimasak?, " tanya Evan.


" Tidak ada. Didapur hanya ada es batu dikulkas. Tidak mungkin aku memasak es batu, " jawab Angel. Evan yang mendengarpun dibuat kembali tertawa mendengar jawaban istrinya itu. Sungguh lucu dan menggemaskan bagi Evan.


" Baiklah, tunggu sebentar. Tunggu dimobil. Aku akan menyimpan barang-barang ini dulu, " titah Evan. Angelpun mengiyakan dan berjalan kembali memasuki mobil menunggu untuk Evan.


" Jangan lama prof. Aku akan mati kelaparan, " ucap Angel sambil berjalan. Namun Evan tak membalas ucapan Angel.

__ADS_1


" Bagaimana bisa ia tertawa di saat aku sedang kelaparan?, suami macam apa yang senang dengan penderitaan istrinya?, sungguh menyebalkan. " gumam Angel sembari duduk dimobil menunggu Evan.


* * * *


Tak butuh waktu lama. Setelah meletakan barang-barangnya tadi, Evanpun masuk mobil dan mulai mengemudi mobilnya. Evan mengemudi menuju supermarket dan memarkirkan mobilnya didepan. Angel turun dari mobil dengan heran.


" Prof, bukankah prof berniat mengajakku makan?, tapi kenapa malah berhenti disuper market?, " tanya Angel.


" Aku tidak mengatakan kita akan makan diluar, aku mengajakmu untuk membeli bahan makanan dan memasak dirumah, " jelas Evan. Evan dengan coolnya berjalan mendahului Angel memasuki super market.


" Kejam sekali. " gumam Angel. Ia berjalan mengikuti suaminya dengan kesal. Angel menghela nafasnya dengan panjang. Evan mengambil keranjang dan mulai mengambil beberapa sayuran dan juga buah-buahan. Sementara Angel hanya mengekori Evan dari belakang.


" Bantu aku memilihnya. Ambil apa saja yang ingin kau masak nanti, " titah Evan. Angelpun mengiyakan dengan pasrah. Ia ikut mengambil beberpa sayuran dan daging untuk dimasukan kekeranjang belanjaan. Setelah selesai, Evanpun membayar belanjaan tersebut.


" Berapa mbak?, " tanya Evan ke seorang wanita penjaga kasir.


" Prof, apa si mbak kasirnya salah dalam mentotalkan?, bagaimana bisa barang segini bisa satu juta lebih?, sungguh mustahil " Angel memperlihatlan barang belanjaan tersebut ke Evan.


" Apa yang mustahil?, apa kau tidak membaca kualitas yang tertempel didaging?, " tanya Evan. Angelpun mengambil satu kotak daging didalam plastik dan membacanya.


" Hanya ada tempelan yang bertulis A saja, prof " Zahra memperhatikan daging tersebut dengan teliti berharap ada tulisan lain selain A.


" Karena itulah huruf A lah yang membuatnya mahal. Daging ini berkwalitas A tentu saja harganya begitu, " jelas Evan, sembari mengemudi dan sesekali melihat ke Angel. Angel yang mendengarpun mengangguk pertanda mengerti.


" Pantas saja. Padahal, dipasar biasa ditempatku harga daging tidak semahal itu, " gumam Angel.


" Sudah, berhenti mempermasalahkan harga. Uang bukan masalah besar, aku punya cukup uang untuk membeli makanan untukmu " ucap Evan, sembari fokus menyetir dan sesekali melihat ke Angel disebelahnya.

__ADS_1


" Apa gaji seorang dosen itu besar prof?, " tanya Angel.


" Tidak juga, " jawab Evan singkat.


" Berarti prof tidak kaya, bagaimana bisa orang tua ku memilih calon suami yang tidak kaya, " ucap Angel pelan namun masih bisa didengar oleh Evan.


" Apa kau gadis yang hanya ingin lelaki karena materi?, dasar matre, " Evan menatap Angel dengan tatapan tajam. Kali ini ia tak suka dengan perkataan Angel padanya. Bagaimana bisa Angel berbicara begitu padanya.


" Tidak begitu prof, wanita itu separuh kebahagiaan terletak pada uang bukan cinta, " ucap Angel dengan tawaan. Namun Evan hanya diam dengan seribu bahasa. Angel memperhatikan wajah suaminya tersebut yang terlihat jelas sedang menahan amarah padanya.


" Prof?, aku hanya bercanda. Tenang saja, aku tidak meletakan kebahagiaan pada uang. Kenapa Prof jadi marah padaku, " Angel berbicara sembari melirik ke Evan disebelahnya. Ia tau jika suaminya saat ini sedang kesal dengan perkataanya.


Disepanjang perjalanan, tak ada suara diantara keduanya. Evan fokus mengemudi dan memperhatikan jalan. Pun Angel juga hanya terdiam memperhatikan kiri kanan jalan. Hingga beberapa menit berlalu, sampailah mereka dirumah. Evan membawa barang-barang belanjaan masuk kedalam rumah dan metakanya diatas meja dapur. Begitupun Angel yang okut masuk medapur untuk bersiap memasak.


" Prof, kau ingin aku memasak apa?, daging apa menu lain?, " tanya Angel ke Evan.


" Apa saja. " jawab Evan singkat, kemudian berjalan meninggalkan dapur. Pun Angel hanya terdiam memperhatikan punggung Evan yang hampir menghilang.


" Kenapa dia menjadi emosional begitu, sudah ku katakan kalau tadi aku hanya bercanda tidak benar-benar begitu. Lagi pula apa salahnya menyukai uang?. Sungguh aneh, " celoteh Angel, sembari memotong daging untuk dimasak lebih dulu. Angel sungguh tak habis fikir dengan suaminya tersebut. Bagaimana bisa ia marah hanya gara-gara tentang membahas tentang uang. Angel berfikir jika ia tak salah apapun, namun suaminyalah yang salah.


" Sudah aku katakan jika aku hanya bercanda, tapi ia tetap menganggap serius. Sungguh suami yang tak bisa diajak bercanda. " Gumam Angel, sembari fokus memasak Angel terus berceloteh dengan dirinua sendiri. Ia sebenarnya sedikit merasa bersalah dengan perkataanya, namun ia tak ingin disalahkan. Begitulah perempuan, namanya juga perempuan.


'


'


'

__ADS_1


'bantu vote guys


__ADS_2