My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Evan berubah


__ADS_3

Evan Berubah


Pagi itu, Evan dan Angel turun dari hotel menuju lobi hotel. Evan berjalan menuju sebuah restouran di dalam hotel di ikuti Angel yang berjalan di belakang suami nya. Semenjak kejadian semalam, Evan semakin bersikap dingin terhadap Angel. Evan yang biasa nya banyak senyum ketika bersama Angel, kini berubah menjadi lelaki dingin dengan wajah datar. Angel yang melihat pun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman di perlakukan Evan begitu namun Angel sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.


"Kenapa masih berdiri?, duduk lah." Ucap Evan sembari menatap Angel yang hanya berdiri sembari melihat nya saat sampai di restouran.


"Iya aku ingin duduk." Balas Angel sembari ikut duduk.


"Kau mau pesan apa?," Tanya Evan dengan dingin. Entah apa yang terjadi sebenar nya dengan hati nya namun yang jelas perasaan nya masih sangat terluka dengan perlakuan Angel yang sering membuat diri nya terbakar api cemburu.


"Aku pesan yang sama dengan prof saja," Jawab Angel.


Evan yang mendengar pun memesan dua steek daging sapi dan 2 gelas jus jeruk pada pegawai restouran. Sembari menunggu makanan datang, Evan dan Angel tidak saling berbicara. Evan sibuk dengan ponsel nya, sementara Angel hanya bisa terdiam sembari memegang kepala nya yang terasa sangat pusing, di sertai perut nya yang terasa sakit.


"Seperti nya penyakit ku kambuh lagi. Aduh." ucap Angel di dalam hati nya sembari memijit-mijit kepala nya yang di tutupi kerudung.


"Umm, prof. Bisa kah aku keluar sebentar?," Tanya Angel. Ia bermaksud untuk membeli promag di apotik di sebrang hotel.


"Tidak. Kau boleh keluar ketika aku mengizin kan mu keluar." Tegas Evan dengan mata yang masih terpaku ke ponsel nya. Evan berbicara tanpa melihat ke Angel langsung.


"Tapi prof, aku ing.." Angel belum sempat menyelesai kan perkataan nya, namun Evan dengan cepat memotong nya dengan tegas.


"Tidak ada alasan apa pun. Jika aku berkata tidak boleh itu arti nya tetap tidak boleh!." Ucap Evan dengan suara yang terdengar marah. Evan mengalih kan pandangan nya ke Angel dengan tatapan dingin dan datar. Angel yang melihat pun hanya menunduk.


"Baiklah. Aku tidak akan kemana-mana." Angel menunduk kan kepala nya. Angel sama sekali tak membalas tatapan Evan .


"Aku salah apa sampai ia sebegitu nya." Pikir Angel. Ia sama sekali tak mengerti dengan perlakuan Evan pada nya sekarang ini.


"Ini makanan nya tuan dan nyonya," Ucap seseorang sembari menghidang kan makanan di atas meja. Seseorang tersebut tak lain ialah pegawai restouran.


"Terima kasih." Evan tersenyum pada karyawan tersebut.

__ADS_1


"Selamat menikmati makanan nya tuan dan nyonya. Saya permisi." Ucap seorang pegawai tersebut sembari pergi dari meja yang di tempat Evan dan Angel. Pun Angel yang mendengar pun hanya membalas dengan senyuman.


"Umm, Prof." Panggil Angel.


"Ada apa lagi?," Tanya Evan sembari memotong daging di piring milik nya.


"Bisa kah aku meminta air putih saja?," Tanya Angel ragu-ragu.


"Manja sekali. Minum saja apa yang sudah di pesan." Ucap Evan, yang saat itu terlihat sibuk memotong steek.


Deg


Sementara Angel yang mendengar pun di buat sangat terkejut akan perkataan suami nya. "Manja?" Kata tersebut membuat Angel terluka. Namun Angel berusah menahan diri nya untuk tidak mengatakan apa-apa. Angel hanya terdiam sembari memperhatikan steek di piring nya.


"Baik lah." Jawab Angel singkat.


"Makan lah makanan mu. Kenapa hanya diam saja," Ucap Evan. Pun Angel yang mendengar pun hanya terdiam sembari menahan sakit kepala nya yang terasa sakit.


"Terserah kau saja. Aku akan menghabis kan makanan ku." Evan memakan steek di piring nya tanpa memperduli kan Angel.


Menunggu Evan menyelesai kan makan pagi nya, Angel berusaha untuk tetap terlihat tenang dan biasa saja. Walau pada kenyataan nya, kepala nya terasa sangat sakit. Belum lagi perut nya yang terasa sangat pedih. Namun ia tetap berusaha untuk tetap bertahan menunggu suami nya selesai dari makan.


* * * *


Setelah selesai makan. Kedua nya pun keluar dari hotel dan memasuki mobil. Evan mulai mengemudi keluar dari parkiran menuju jalan raya.


"Prof, bisa kah kau berhenti sebentar di toko seberang sana?," Pinta Angel sembari menujuk ke toko di sebrang jalan.


"Tidak." Tegas Evan.


"Prof,ku mohon. Aku ingin membeli obat di apoteek sana. Ku mohon prof," Mohon Angel. Ia sudah benar-benar sangat kesakitan.

__ADS_1


"Kau kenapa?, untuk apa ke apateek?," Tanya Evan dengan melihat ke arah Angel. Evan memperhatikan wajah Angel yang terlihat sudah sangat pucat. Sejak tadi ia tak menyadari bagaimana keadaan istri nya sama sekali.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membeli obat. Jadi ku mohon sekali ini saja berhenti lah," Pinta Angel sembari terus memegang kepala nya yang sudah sangat pusing. Pun Evan yang melihat pun di buat sangat kawatir. Evan meletakan tangan nya ke pipi dan kening istri nya tersebut untuk mengecek suhu tubuh Angel yang ternyata sangat terasa panas.


"Kau demam? Kenapa tidak bilang dari tadi," Ucap Evan terdengar kawatir.


"Prof tidak memberi kan aku kesempatan untuk ku mengatakan nya," Balas Angel.


"Tunggu di dalam mobil. Aku akan membeli kan obat nya," Evan berhenti tepat di depan apoteek dan keluar dari mobil.


"Prof, biar aku saja," Ucap Angel.


"Tunggu lah di dalam mobil. Jangan keras kepala." Evan menghentikan langkah nya dan memutar kepala nya ke belakang untuk melihat ke arah Angel di dalam mobil.


"Apa prof tau obat yang ingin di beli?," Tanya Angel.


"Demam?," Tanya Evan lagi.


"Pil Promag untuk penderita sakit mag juga." Jelas Angel.


"Baiklah." Evan masuk ke apoteek dan membeli obat. Selang waktu tak beberapa lama, Evan pun kembali ke mobil dengan membawa kan obat yang di butuh kan Angel dan tak lupa Evan membeli kan sebotol Aqua untuk Angel.


"Ini." Evan mengulurkan obat di dalam kantong plastik pada Angel. Angel yang melihat pun mengambil kantong tersebut dari Evan.


"Ini juga." Evan memberi kan Angel sebotol Aqua.


"Terima kasih prof." Ucap Angel, namun tak di balas oleh Evan.


"Minum lah obat mu dengan cepat," Titah Evan. Angel yang mendengar pun mengiyakan dan meminum obat tersebut.


Evan mulai mengemudi mobil nya untuk kembali pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, sembari mengemudi sesekali Evan memperhatikan Angel di samping nya yang terlihat telah tertidur setelah meminum obat. Sesekali Evan memperhatikan wajah istri nya yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


"Sejak tadi dia sakit tapi hanya diam saja." Guman Evan. Ia sebenar nya sangat mengkawatir kan Angel, namun karena diri nya sudah terlanjur marah membuat diri nya tidak ingin terlihat kawatir walau sebenarnya ia sangat kawatir.


__ADS_2