My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Kembali Ke Apartmen


__ADS_3

Kembali Ke Apartemen


Di dalam kamar, terlihat seorang laki-laki yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari memandangi langit-langit kamar apartmen. Laki-laki itu tak lain ialah Evan. Evan masih memikirkan masalah yang ia hadapi saat ini. Ia sedikit kebingungan dengan perkataan pak Robert pada nya. Jika pak Robert benar-benar memutuskan kontrak kerja sama nya, maka itu akan menjadi masalah besar bagi perusahaan nya. Hal tersebut bukan hanya berdampak pada posisi nya saja, namun hal tersebut akan berdampak pada seisi perusahaan. Mengingat hal itu, membuat Evan sangat frustasi. Ia tak tau harus berbuat apa.


"Aku harus bagaimana?," Pikir Evan. Sesekali ia mengusap wajah nya dengan kasar.


"Aku harus membujuk pak Robert. Apa pun yang terjadi dan bagaimana pun cara nya aku tidak boleh kehilangan kontrak kerja sama tersebut dengan perusahaan Robert." Gumam Evan.


"Tapi permintaan pak Robert sungguh tidak masuk akal. Argghhhhh." Evan kembali mengusap wajah nya dengan kasar. Di saat Evan masih frustasi dengan masalah nya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Evan pun bangun dan berjalan menuju pintu.


"Siapa lagi yang datang." Ucap Evan sembari melibat Door Viewer. Di sana terlihat seorang laki-laki berjaz hitam yang tak lain ialah William.


"William" Evan pun membuka pintu dan menyambut William teman dekat nya di Amerika.


"Hai Bro," Sapa Evan di saat pintu terbuka.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat mu Evan," Ucap William sembari menerobos masuk dan berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu.


"Kenapa?, jangan bilang kau merindukan aku." Balas Evan sembari berjalan mengikuti William untuk duduk di sofa.


"Kau tetap masih narsis seperti biasa nya," Jawab William sembari membuka jaz hitam nya dan meletakkannya di atas meja di depan nya.


"Walaupun narsis, aku tetap tampan." Ucap Evan sembari menyandarkan punggung nya di sofa. William yang melihat pun hanya bisa menghela nafas dan tak menghiraukan perkataan Evan lagi.


"Kau menikah tak mengundang ku. Jahat sekali," William melihat ke arah Evan dengan tatapan mengintimidasi. Ia tak ikhlas jika Evan tak mengundang nya di acara pernikahan.


"Aku tau kau sibuk. Maka nya aku tidak mengundang mu," Ucap Evan.

__ADS_1


"Alasan mu saja. Katakan saja jika kau takut aku datang karena tak mau memperkenalkan istri mu pada ku," William memangku kedua tangan nya ke dada sembari menatap dingin ke arah Evan.


"Tidak begitu. Istri ku sangat cantik, aku tak bisa memperkenalkan mu padanya karena bisa saja malah terpesona," Ucap Evan dengan bangga nya.


"Tidak masalah. Aku merebutnya dari mu jika aku terpesona dengan nya," Kekeh William, pun Evan yang mendengar pun melihat ke arah William dengan tatapan tajam.


"Kau akan ku patah-patah kan tulang mu. Kau tidak tau saja bagaimana perjuangan ku menikahi nya," Tegas Evan dengan wajah datar.


"Hahahaha. . . Aku hanya bercanda, kenapa kau jadi marah. Tapi aku penasaran, bagaimana perjuangan yang kau maksud?," Tanya William setelah tertawa.


"Perjuangan panjang sekali. Mengingat dia umurnya masih sangat muda, hal tersebut membuat ku harus banyak bersabar menghadapi tingkah laku nya. Yang pasti nya aku sangat susah payah agar dia mau menjadi istri ku," Tutur Evan.


"Waah, tidak ku sangka seorang suhu memperjuangkan seorang wanita sholehah. Aku sedikit kagum pada mu, namun aku juga merasa lucu juga." Ucap William dengan menepuk-nepuk bahu Evan.


"Lucu kenapa?," Tanya Evan.


"Lucu saja. Aku hanya tidak habis pikir saja. Bagaimana bisa kau sangat tidak tau diri dan seberani itu mau menikahi seorang wanita yang sholehah sedangkan diri mu sering memasuki neraka," William bertanya sambil terkekeh. Pun Evan yang mendengar pun hanya menatap William dengan datar. Mengingat kehidupan Evan di Amerika yang memang sangat bebas. Ia keluar masuk Club, penggoda wanita, dan peminum Wine. Hal tersebut tentu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Angel. Angel adalah seorang wanita sholehah, taat agama, taat dengan sholat. Pasangan yang memiliki dunia yang jauh berbeda.


"Kau mau minum Wine dengan ku?," Ajak Evan.


"Minum?, di siang-siang begini?," Tanya William.


"Iya. Aku memiliki masalah dan itu sangat memusingkan. Jadi, sebaiknya kita minum saja untuk menenangkan pikiran," Tutur Evan.


"Masalah apa?," Tanya William dengan heran.


"Sambil minum saja ku ceritakan pada mu. Sekarang aku akan mengambil Wine di dapur." Ucap Evan sembari berdiri dari duduk nya dan melangkah menuju dapur. Pun William yang mendengar pun mengiyakan. Tak butuh waktu lama, Evan pun kembali membawa lima botol Wine dan dua gelas untuk meminum Wine tersebut bersama Wiliam.

__ADS_1


"Ini Wine sangat mahal. Jadi kita harus menghabiskan nya." Ucap Evan sembari meletakan Wine tersebut di atas meja. Pun William yang melihat pun hanya mengiyakan. Bukan teman namanya jika tidak sefrekuensi.


"Mari kita habis kan!" William membuka sebotol Wine dan menuangkan nya kedalam gelas.


"Eh, kau ada masalah apa?, katakan. Mana tau aku bisa membatu mu," Tanya William sembari meminum segelas Wine.


"Masalah ku dengan pak Robert. Ia ingin mengakhiri kontrak kerja sama jika aku tidak menikah dengan putri nya Vina." Jelas Evan yang ikut meneguk segelas Wine.


"Apa? wah. Jadi bagaimana?, kau mau menikah dengan Vina?," Tanya William dengan terkejut.


"Kau sudah gila?, kau sendiri tau kalau aku sudah menikah. Bagaimana mungkin aku menikah lagi," Ucap Evan.


"Untuk masalah mu kali ini memang cukup memberatkan " Ucap William yang ikut berpikir.


"Kau yang mendengar pun menjadi pusing apa lagi aku, Arggh." Evan membuka sebotol Wine lagi dan langsung meminum nya tanpa memakai gelas.


"Dan kau tau yang lebih memusingkan lagi?," Tanya Evan yang terlihat mulai sempoyongan.


"Apa?," Tanya William.


"Istriku, dia tidak menelpon ku sejak tadi. Aku sangat merindukan nya tapi dia tidak merindu kan aku sama sekali." Ucap Evan. Pun William yang mendengar pun hanya tertawa dengan keras.


"Hahahahahaha. . . Kenapa kau malah menjadi sebucin ini sekarang. Apa yang merasuki mu?, hahaha. . ." William tertawa dengan keras. Ia tak percaya seorang Evan malah menjadi sebucin ini dengan seorang wanita. Seorang laki-laki dingin dan playboy malah menunggu kabar dari seorang wanita. Hal tersebut tentu saja sangat lucu membuat William sungguh tak percaya dengan yang ia lihat sekarang ini.


"Kau belum mengenal nya. Jika kau mengenalnya, kau akan tau bagaimana istri ku." Ucap Evan.


"Bawa lah ia ke Amerika agar aku mengenalnya," Pinta William.

__ADS_1


"Aku sangat ingin membawa nya ke Amerika, tapi istri ku tidak mau. Ia sangat keras kepala dengan prinsipnya," Jelas Evan.


Evan dan William meminum Wine sembari bercerita banyak hal. Mereka menghabiskan lima botol Wine bersama-sama dan tak lama kemudian akhirnya mereka pun tertidur.


__ADS_2