
Sesampainya disana, Angel dan Vani benar-benar sangat takjub dengan pemandangan yang ia lihat sekarang ini. Sungguh indah. Ladang bunga mawar merah. Ternyata tujuan Bara mengajak Angel dan Vani ialah ke tempat Ladang bunga mawar.
" Sungguh indah " Angel memandangi sekelilingnya. Semua dipenuhi bunga mawar merah yang terlihat sangat subur dan indah.
" Waah. Bara, bagaimana kamu bisa tau tempat seindah ini?, " tanya Vani.
" Tentu saja aku tau. Karena ini semua milikku. Aku pemilik semua bunga mawar ini, " Jawab Bara, dengan sombong ia memamerkanya. Vani dan Angel yang mendengarpun dibuat semakin terkejut.
" Bara, kamu sungguh kaya. Bagaimana bisa aku lupa jika kamu orang kaya, " ucap Angel.
" Wah. Bara, kamu memang luar biasa, " Vani memegang bahu bara. Ia tak habis pikir seberapa banyak harta yang dimiliki oleh Bara.
" Santai. Kalian bisa memandangi mawar-mawar ini kapanpun, " Bara mempersilakan kedua temanya untuk melihat pemandangan mawar yang luas ini.
" Tapi Bara, untuk apa kamu menanam mawar seluas ini?, " tanya Angel sembari berjalan.
" Bunga mawar banyak kegunaanya. Aku berniat membuat banyak produk dari mawar. Seperti sabun mandi, sabun wajah, farfum dan produk lainya, " jelas Bara.
" Oo begitu. Apa aku boleh memetik 100 mawar?, " tanya Angel. Ia bertanya dengan penuh harap ke Bara. Pun Bara yang melihatnya hanya tersenyum.
" Jangankan 100 mawar, sekebun inipun aku beri untukmu Angel, " ucap Bara didalam hatinya.
" Bara?, kenapa diam?, boleh tidak?, " tanya Angel. Ia memperhatikan Bara yang menatapnya dengan tersenyum. Hal tersebut tentu membuat Angel kebingungan dengan temanya tersebut.
" Aku juga Bara, aku juga mau membawa pulang 100 mawar, " ucap Vani.
__ADS_1
" Baiklah. Kalian berdua boleh mengambil 100 mawar. Jangankan 100 mawar, 1000 mawarpun akan kuberi, " Bara mengizinkan. Angel dan Vani yang mendengarpun, dengan sangat antusias mengambil mawar-mawar merah tersebut. Setelah selesai memetik 100 mawar, Angel dan Vanipun menbawa mawar-mawar tersebut masuk kemobil. Mereka berkeliling mengelilingi ladang mawar tersebut beberapa jam. Dan setelah puas dan juga mengingat hari juga sudah sore, membuat Angel, Vani dan Bara memilih untuk kembali pulang. Angel dan Vanipun diantar pulang oleh Bara kerumah. Mulai dari mengantar Angel dan setelahnya Vani.
* * * * *
Sesampainya dirumah, Angel membawa pulang 100 mawar tersebut dan memamerkanya ke Evan. Ia dengan senangnya memperlihatkan mawar tersebut ke suaminya yang saat itu sedanh duduk diruang tamu.
" Prof, lihat aku membawa bunga yang sangat banyak. Bunga-bunga ini nantinya akan kuletakan disetiap ruangan rumah ini agar aromanya bisa diciuam setiap s udut dan ruangan, " Angel meletakan mawar-mawar tersebut diatas meja .
" Jangan meletakan bunga mawar dirumah, " titah Evan. Ia melihati Angel dengan tatapan marah.
" Prof, bunga mawar ini harganya mahal. Kenapa tidak boleh diletakan didalam rumah?, "tanya Angel. Ia berdiri didepan Evan sembari memperlihatnya mawar-mawar tersebut.
" Aku tidak suka mawar. Jadi, jangan meletakan mawar dirumah, " ucap Evan dengan raut wajah yang dingin.
" Tidak suka kenapa prof?, " tanya Angel.
" Ada hal apa?, " pikir Angel. Ia memperhatikan Evan dengan heran. Sementara Evan hanya melihat ke arah Angel dengan tatapan dingin. Angelpun bisa merasakan bagaimana tatapan itu padanya. Angel mengerti jika sekarang ini Evan sedang marah namun Angel tak mengerti alasan mengapa suaminya marah.
" Tentang kita, " tegas Evan.
" Ada apa memangnya prof?, katakan " Tanya Angel sembari menyadarkan kepalanya dikepala sofa.
" Kau sadar jika kita sudah menikah?, " tanya Evan.
" Aku tau itu prof. Aku tidak pikun jadi tidak perlu mengatakanya, " Jawab Angel dengan santai. Ia tak begitu peduli jika begitu pertanyaan dari suaminya.
__ADS_1
" Jika tau, sebaiknya berhenti berteman dengan laki-laki lain selain suamimu!, " Evan berbicara dengan nada suara yang sedikit meninggi.
" Prof, ada apa sebenarnya? " tanya Angel. Ia masih tak begitu mengerti perkataan Evan sekarang ini.
" Berhenti akrab dengan teman lelakimu, " tegas Evan.
" Teman lelaki? maksud prof Bara?, " tanya angel.
" Bukan hanya Bara, tapi semua lelaki. Aku sering sekali melihatmu berteman begitu akrab dengan teman lelaki, istri macam apa yang begitu banyak teman lelaki?, " ucap Evan. Evan seringkali melihat istrinya dikampus yang sering berbincang dengan teman lelaki. Walaupun teman sekelas atau sejurusan atau pun Bara, namun tetap saja menurut Evan itu bukan hal yang wajar.
" Memang kenapa tidak boleh?, apa prof sedang mengekangku?, " tanya Angel dengan kesal. Bukan Angel namanya jika tak membantah pembicaraan. Pun Evan yang mendengarnya pun, sejenak terdiam dengan kedua mata yang menatap Angel. Mendengar perkataan Angel kali ini sungguh membangkitkan amarah. Namun Evan tak ingin memperlihatkan sisi jahatnya ke Angel. Evan memangku kedua tanganya kedada sembari memberi jeda dengan amarahnya berharap mereda dan hilang.
" Apa kamu sama sekali tidak menganggap keberadaan ku sebagai suamimu?, " tanya Evan dengan tenang. Ia sekuat tenaga berusaha untuk tidak memarahi Angel berlebihan.
" Pertanyaan semacam apa begitu, jika sudah menikah mau tidak mau sudah jadi suami " gumam Angel. Ia menundukan kepalanya kelantai untuk menghindari tatapan dingin Evan padanya.
" Aku sudah mengingatkanmi untuk tidak terlalu akrab dengan laki-laki lain, jadi kuharap kamu mendengarkan dan menuruti perkataanku, " ucap Evan, sembari berdiri dari sofa dan melangkah pergi masuk kekamar. Pun Angel, hanya terdiam memperhatikan punggung Evan yang sudah hampir tenggelam dibalik pintu.
" Prof, kemana aku meletakan bunga-bunga ini?, " tanya Angel dengan sedikit berteriak. Ia masih tak begitu peduli dengan teguran suaminya padanya.
" Buang! " jawab Evan dengan singkat. Rasanya ia benar-benar ingin memarahi istrinya namun ia lebih memilih untuk menahan amarahnya agar tidak menyakiti Angel.
" Buang?, dengan susah payah aku memetik dan membawanya pulang bagaimana bisa aku membuangnya? tentu saja tidak akan, " Angel mengambil bunga-bunga mawar dan membawanya kedapur untuk dibersihkan lebih dulu.
" Suami yang tak punya hati nurani. Teganya ia memintaku membuang semua bunga cantik ini, jelas saja tidak akan ku buang " celoteh Angel didapur sembari membersihkan dan menyusun bunga-bunga. Angel terlihat begitu senang melihat bunga-bunga mawar itu. Ia merapikan bunga mawar satu persatu dan menaruhnya disetiap pas bunga yang ada disetiap ruangan rumah ataupun disetiap lemari sekalipun. Angel menata bunga-bunga mawar kedalam pas.
__ADS_1
" Sungguh cantik. Bunga secantik ini bagaimana bisa prof tidak menyukainya?, dasar suami yang tidak romantis. Aku sengaja membawa pulang bunga-bunga ini untuk memperlihatkan padanya namun ia tak menghargainya, " gumam Angel. Sembari menata bunga, ia terus menesurus menggerutu tentang suaminya.