
Memancing
Hari minggu merupakan hari libur semua orang, termasuk Evan. seperti halnya pagi ini, Evan terlihat keluar dari kamar dengan memakai kaos putih yang dilapisi jaket jeans hitam dan juga celana jeans. ia berjalan menuju dapur untuk memanggil Angel yang saat itu sedang berada didapur.
" Bersiaplah, " perintah Evan. ia memperhatikan Angel yang saat itu sedang mengupas buah apel.
" Bersiap kemana?, " tanya Angel. ia mengalihkan pandanganya ke Evan. Angel memperhatikan pakaian yang Evan kenakan sekarang ini sungguh membuat Angel terpana. namun dengan cepat Angel mepiskan pikiranya.
" Ikut saja. aku akan membawamu untuk jalan-jalan. " ucap Evan.
" Baiklah. " Angel pun beranjak dari dapur dan berjalan kekamar untuk bersiap. Angel sebenarnya juga merasa senang ketika mendengar kat jalan-jalan. mengingat setelah menikah, Angel hanya boleh keluar rumah ketika kuliah saja. untuk jalan-jalan itu sudah tidak pernah lagi.
" Ada angin apa tiba-tiba saja ia mengajak jalan-jalan. " ucap Angel didalam hatinya.
" Tidak perlu terlalu cantik. pakaian santai saja, " teriak Evan. Pun Angel yang mendengar hanya tersenyum.
" Berarti secara tidak langsung Prof memang mengatakan aku cantik. " balas Angel. Evan hanya terdiam tak membalas lagi. laki-laki dingin ini memang tidak suka banyak bicara.
Menunggu Angel bersiap, Evan membawa tas berwarna hitam yang berisi pancing dan juga beberapa kebutuhan lainya untuk memancing yang ia ambil dari gudang rumahnya. Evan membawa peralatan tersebut masuk kedalam mobilnya. selang 15 menit, Angel terlihat keluar dari rumah menuju mobil.
" Ayo Prof, " ajak Angel setelah masuk kedalam mobil. Evan sejenak memperhatikan Angel dengan sedikit kesal. bagaimana tidak, Evan menunggu terlalu lama untuk Angel bersiap. hal tersebut membuat dirinya mengantuk menunggu didalam mobil.
" Lama sekali. aku kira kau sudah tertidur didalam lampu aladin sehingga begitu lama. " ucap Evan.
" 15 menit itu sangat cepat. prof, apa kau mau aku seperti orang gila keluar rumah karena 15 menit itu lama? prof juga yang akan malu nantinya dikatai orang-orang kalo istrinya gaya berantakan! " tutur Angel.
" Sekarang pun kau tetap seperti orang gila. tidak ada yang berubah sama sekali, jadi apa gunanya kau menghabiskan waktu 15 menit untuk bersiap. " gumam Evan. ia memperhatikan Angel disebelahnya. Angel sebenarnya terlihat begitu cantik, namun Evan memilih untuk berbohong agar Angel marah dan kesal.
__ADS_1
" Prof, kendarai saja mobilmu. jangan bicara lagi padaku " Angel memalingkan mukanya kearah lain agar tidak melihat suaminya diselahnya. demi apa pun Angel begitu kesal mendengar ucapan Evan padanya.
" Mengesalkan sekali. ingin sekali rasanya ku rebus muka datarnya tersebut! " ucap Angel didalam hatinya. pun Evan hanya mulai mengendarai mobilnya, sesekali ia memperhatikan Angel yang hanya diam disepanjang perjalanan. tidak ada suara apa pun, sangat sunyi. Evan pun fokus menyetir mobilnya. tak terasa sudah sekitaran 1 jam lamanya, namun tempat yang ingin diingin dituju masih belum sampai. sekarang ini, Evan berbelok ke arah hutan dan juga jalanan yang berlubang tanpa aspal. Angel memperhatikan sekelilingnya.
" Prof, sebenarnya kita ini mau kemana? kenapa malah membawa ku kehutan belantara begini, " tanya Angel.
" Kita akan memancing hari ini, " balas Evan dengan santai.
" Memancing? yang benar saja prof. kau mengatakan kalau ingin jalan-jalan bukan memancing, " Angel rasanya benar-benar ingin merebus kepala laki-laki disampingnya saat ini.
" Bukankah dari tadi kita melewati jalan? bukankah namanya itu jalan-jalan. kau ini bodoh sekali, " ucap Evan. ia masih fokus mempeehatikan jalan yang ia lewati.
" Prof! kau ini. jika tau begini aku lebih baik dirumah saja! " kesal Angel.
" Sudah diam saja. sebentar lagi kita akan sampai, " ucap Evan. Angel sangat merasa kesal, bagaimana bisa ia diajak memancing didalam hutan yang terlihat menakutkan ini. tidak ada rumah sama sekali. sungguh kali ini membuat Angel hipertensi terhadap suaminya ini.
Sudah beberapa menit berlalu, Evanpun turun dari mobil dan tak lupa sebelum turun ia mengambil peralatan memancingnya yang berada didalam mobil .Angel pun ikut turun dari mobil mengikuti Evan. Angel memperhatikan sekelilingnya seperti mencari sesuatu dengan kebingungan.
" Tumben kau benar. aku memang akan memancing harimau dan kau sebagai umpanya, " balas Evan. Angel yang mendengarpun semakin dibuat takut mendengarnya. Angel tanpa sadar berlari ke arah Evan dan memeluk lengan kekar suaminya tersebut. Angel memperhatikan sekelilingnya, ia terlihat benar-benar ketakutan.
" Prof, kau jangan mengada-ngada, " Angel memperkuat memeluk lengan Evan. sementara Evan hanya menahan tawa memperhatikan Angel yang terlihat sangat ketakutan.
" Penakut sekali, padahal aku hanya bercada saja. kita akan memancing disungai, dan sungainya terletak disana. kau lihat ada pohon bambu yang banyak disana?, " Evan menunjuk kearah pohon bambu yang berjarak sekitar 100 meter dari mobilnya.
" Hanya pohon bambu. dimana sungainya?, " tanya Angel. ia memperhatikan pohon-pohon bambu yang tumbuh dengan lebat disana. suasana didepanya saat ini menurut Angel begitu mengerikan. ditambah lagi ini dihutan yang lebat. hal tersebut membuat suasana horor bagi seorang Angel
" Sungainya tidak terlihat dari sini karena tertutupi pohon bambu itu. ayo jalan, " Evan pun mengajak Angel berjalan kesana. seraya berjalan, Evan sesekali memperhatikan lenganya yang dipeluk oleh Angel begitu erat. ada rasa senang didiri Evan melihat istrinya saat begini.
__ADS_1
Sesampainya disana, Angel memperhatikan sungai dibalik pepohonan bambu tersebut. air bebatuan yang terlihat begitu bersih dan sangat jernih. ia memperhatikan Evan yang terlihat sedang menyiapkan peralatan memancingnya, mulai dari memasang umpan dan juga mempersiapkan kursi lipat outdoor untuk dirinya dan juga untuk Angel.
"Lepaskan lenganku sebentar. lihat aku kesusahan menyiapkan kursi ini untuk kita duduk," Evan memperlihatkan kursi tersebut ke Angel. dari tadi Angel tidak melepas lengan Evan sama sekali. ia malah memgang lengan suaminya dengan tambah erat.
"Maaf prof. aku tidak sengaja," Angelpun melepaskan lengan Evan. ia sama sekali tidak sadar jika sejak tadi ia memeluk lengan suaminya begitu lama.
"Duduklah." Evan mempersilakan Angel duduk setelah menyiapkan kursi untuk diduduki. Angel pun duduk dengan patuh. ia memperhatikan Evan yang telah melempar umpan kesungai.
"Prof, kapan kita akan pulang?," tanya Angel. ia kembali memegang lengan Evan disebelahnya.
"Kita baru saja sampai, bagaimana bisa kau bertanya tentang pulang, " Evan menghela nafasnya dengan panjang.
"Kita akan berapa jam berada disini prof?," tanya Angel. terlihat jelas dikedua matanya yang sangat ketakutan.
"Tidak tau. mungkin kita akan membuat tenda dan bermalam disini," balas Evan.
"Aku tidak mau prof," Angel terlihat semakin takut.mengingat disana tidak ada manusia seorangpun selain mereka berdua. bagaimana bisa Evan membaqa Angel untuk bermalam dihutan begini.
"Kenapa memangnya? bukan kah ada aku disini. jadi kau tidak perlu takut, " Evan bersuara terdengar begitu lembut ke Angel. ia sebenarnya juga merasa kasihan melihat Angel yang sangat ketakutan saat ini. pun Angel yang mendengarnya hanya terdiam. ada rasa lega didalam dirinya mendengar ucapan suaminya.
"Sudah jangan protes lagi. memancing itu kita tidak harus banyak bicara." ucap Evan. ia kembali fokus memperhatikan pancingnya. begitupun Angel, ia hanya terdiam dan duduk dengan patuh. jika bisa, rasanya Angel ingin sekali kembali pulang dan meninggalkan Evan sendirian disini. namun Angel sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berjalan sendirian di hutan begini.
'
'
'
__ADS_1
'
Bantu Vote nya ya guys