
Sifat Evan
Pagi itu, seluruh mahasiswa dan mahasiswi terlihat serius mendengar dan memperhatikan Rey menerangkan didepan. terkecuali Angel dan teman laki-laki dikelas itu bernama Dhio. kedua manusia tersebut,terlihat sibuk saling berbisik satu sama lain dan tertawa tanpa bersuara. Rey yang memperhatikan keduanya dengan penuh amarah yang rasanya sangat ingin ia lepaskan. namun mengingat dirinya seorang dosen, dengan terpaksa ia harus menahan emosinya dan berbicara dengan tenang.
"Kalian berdua tolong ulangi apa yang saya jelaskan barusan"perintah Evan. ia menunjuk Angel dan Dhio dengan suara yang terdengar sedikit keras.
"Kami Prof?" tanya Dhio, ia bertanya dengan ragu. begitu pun Angel yang terdiam dan ragu-ragu memperhatiakn Evan yang menatapnya dari arah devan dengan tatapan yang terlihat seperti ingin memakanya.
Dhio laki-laki yang bertubuh jangkung dan kaya serta cukup tampan itu, teman Angel yang paling dekat. mereka berdua sering dikira pasangan yang serasi oleh orang-orang kampus karena sering makan dan duduk bersama disaat dikampus. Dhio ialah teman dekat Angel dari semasa SMA hingga sekarang. entah kebetulan atau ketidaksengajaan, disaat kelas tiga SMA keduanya berteman begitu dekat sampai berkuliah, ditambah lagi mereka berada dalam satu kelas dan satu jurusan yang sama. itulah mengapa dari dulu mereka berdua sering diisukan berpacaran. namun Angel ataupun Dhio tidak pernah mengatakan bahwa mereka berpacaran. hal tersebut membuat teman-teman lainya bingung dengan hubungan mereka berdua. Evan yang saat itu tak sengaja mendengar pembicaraan mahasiswi lain saat ia ingin masuk kelas tadi, membuat amarahnya ingin meledak saat ini juga.
"Ternyata benar mereka punya hubungan? awas saja!"ucap Evan didalam hatinya. ada kecemburuan yang tertanam didal dirinya saat melihat Dhio begitu dekat dengan istrinya.
"Iya, coba kalian berdua ulangi apa yang baru saja saya jelaskan!"Rey mempersilakan Dhio dan Angel untuk mengulangi apa yang ia jelaskan baru saja.
"Bagaimana Dhio? apa kau mendengar yang Prof tadi jelaskan?"tanya Angel berbisik ke Dhio. keduanya terlihat bingung dan malu.
"Kenapa malah diam? cepat jelaskan apa yang baru saja saya jelaskan"ucap Rey. kedua matanya memperhatikan Angel dengan tajam. pun mahasiswa dan mahasisiwi lainya memperhatikan Angel dan Dhio yang terlihat takut dan malu.
"Maaf Prof, saya tidak mendengar yang Prof jelaskan"jelas Dhio.
"Dhio! kenapa hidup mu polos sekali. bagaimana bisa kau mengatakan kepada Prof begitu? ini namanya diibaratkan menggali kubur untuk diri sendiri"bisik Angel. ia tidak habis pikir bagaimana bisa laki-laki disebelahnya ini begitu jujur.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi? kita memang tidak memperhatikan"gumam Dhio. ia tersenyum kikuk ke Angel.
"Bukan urusan saya kalian memperhatikan atau tidak, tapi saya tidak mau tau alasan apapun dari kalian berdua. pokokbya sekarang kalian harus mengulangi yang saya katakan. coba ulangi Angel!"titah Rey. ia berdiri didepan papan tulis dengan kedua matanya yang mengarah ke Angel.
"Maaf Prof. bisa jelaskan sekali lagi?"tanya Angel.
"Tidak. jika kalian tidak bisa mengulanginya, kalian berdua akan saya suruh keluar dan jangan masuk lagi di mata kulaih yang saua ajar"tutur Evan sembari membuka kaca matanya.
"Saya akan keluar Prof, tapi tolong biarkan Angel tetap masuk. biar saya saja yang menerima hukumanya"kata Dhio. Evan yang mendengar pun semakin dibuat marah dengan apa yang baru saja diucapkan Dhio.
"Berani sekali laki-laki ini mengganggu istriku!"batin Evan. ia semakin dibuat marah oleh Dhio. rasanya ingin sekali ia menarik kerah baju laki-laki yang dekat dengan istrinya itu dan memukulnya sampai puas. namun mengingat ini kampus membuat ia harus menahan emosinya.
"Angel awas saja kau! tunggu sampai dirumah. mungkin selama ini akau terlalu lembut padamu hingga kau berani tertawa dengan laki-laki lain selain suamimu"Rey mengepalkan kedua tanganya dengan keras.
"Seram sekali kedua matanya"ucap Angel dalam hati.
sementara Rey terdiam sejenak memperhatikan Angel. ia berusaha keras untuk tetap fokus menahan amarahnya yang sedari tadi ia tahan. ia melanjutkan mata kuliahnya hingga jam mengajarnya habis, setelah selesai mengajar, Evan pun langsung pulang kerumah tanpa menunggu Angel yang saat itu masih dikampus.
****
sesampainya Angel dirumah, ia dihadapakan dengan Evan yang berdiri didepanya dengan muka yang tidak seperti biasanya. laki-laki itu menatap Angel dengan penuh amarah. Angel pun dibuat takut dengan laki-laki didepanya sekarang ini.
__ADS_1
"Prof, kenapa kau menghalangi jalanku? aku mau lewat"ucap Angel.
"Apa yang salah dengan laki-laki ini"batin Angel.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?,"tanya Evan. ia mengeraskan rahangnya sembari mendorong Angel ke dinding dengan kasar.
"Auwwhh, Prof ada apa? lepaskan"Angel mengaduh kesakitan karena kedua tanganya digenggam kasar oleh Evan.
"Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?,"tanya Evan. ia semakin memegang kedua tangan Angel dengan kasar tanpa peduli gadis didepanya itu mengaduh kesakitan.
"Apa yang harus aku jelaskan? aku tidak mengerti Prof ingin aku mengatakan apa. tolong lepaskan tangan ku, sakit,"ucap Angel. kedua tangannya terasa sangat sakit karena saking kuatnya Evan memegang tangannya.
"Dhio siapanya kau?berani sekali kau tertawa dengan laki-laki lain! apa kau lupa sudah bersuami?"teriak Evan. ia benar-benar sudah kehilangan kesabaran, amarahnya benar-benar memuncak mengingat bagaimana Angel tertawa berasama Dhio.
"Auwhh. Prof, lepaskan dulu tangan ku.kau menyakiti tanganku ini sakit. Dhio hanya teman kampusku"tutur Angel. bulir-bulir bening mulai mengalir dikedua pipinya, Angel benar-benar takut dengan laki-laki didepanya sekarang ini.
"Mungkin karena selama ini aku terlalu lembut padamu makanya kau seenaknya saja! Angel kau dengar ini! tidak ada yang namanya teman biasa antara wanita dengan seorang laki-laki kau mengerti?,"bisik Evan dengan suara yang begitu dingin.kemudian ia melepaskan kedua tangan Angel dan meninggalkan Angel yang masih mematung dengan penuh ketakutan.
"Berani sekali dia menyakitiku hiks hiks"Angel melepaskan tangisnya dengan terduduk dilantai. kedua kakinya melemah begitupun tubuhnya.ia benar-benar tidak percaya bagaimana Evan berani menyakitinya dan meneriakinya.
"Aku hanya berteman mengapa dia semarah itu hiks hiks"ycap Angel lirih. ia mengusap air matanya dengan kedua tanganya dengan berat. Angel benar-benar dibuat takut oleh Evan, bagaimana bisa laki-laki yang ibunya pilih untuk menjaganya namun malah menyakitinya.
__ADS_1
Angel masih menyandarkan tubuhnya ditepi dinding sembari menangis.jujur saja baru kali ini ada laki-laki yang berani menyakitinya hingga kedua tangannya membiru.