
Bukan Bayiku
"Dok, tolong istri saya," Evan membawa Angel ke ruangan dokter pribadinya yang kebetulan sedang berada di dalam ruangan nya.
"Baringkan di sini," Pinta seorang wanita yang berumuran sekitar 40an. Evan pun membaringkan Angel di tempat yang telah di sediakan tersebut dengan hati-hati.
"Dok, anak saya dok." Ucap Angel dengan suara yang sangat lemah hingga akhirnya Angel benar-benar tak sadarkan diri.
"Angel, sudah aku katakan tetap buka kedua mata mu. Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan," Evan menepuk-nepuk kedua pipi Angel dengan berusaha membangun kan Angel. Terlihat jelas kekwatiran di wajahnya.
"Tenang Evan. Aku akan memeriksa keadaan nya," Ucap dokter pribadinya. Wanita tersebut mulai memeriksa keadaan Angel dan meminta dua orang perawat untuk membantunya.
"Evan, tunggu di luar. Kami akan menangani nya," Titah wanita tersebut.
"Apa aku tidak bisa di dalam saja?," Tanya Evan. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Angel.
"Tidak. Kau harus menunggu di luar." Tolak dokter tersebut. Evan yang mendengarpun akhirnya keluar dari ruangan. Di dalam, dokter mulai menangani Angel. Sementara di luar, Evan terlihat mondar-mandir menunggu pintu terbuka. Ia begitu mengkawatir kan keadaan Angel.
"Ya tuhan. Apa yang aku lakukan pada nya?, aku benar-benar sudah gila." Evan menampar kedua pipinya dengan kasar secara bergantian. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.
Evan terlihat mondar-mandir di depan ruangan itu menunggu dokter keluar dari ruangan. Ia benar-benar mengkawatir kan keadaan Angel saat ini. Evan benar-benar tidak bisa memaafkan diri nya jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri nya.
Evan masih mondar-mandir melihat pintu yang yang masih tertutup. Tak butuh waktu lama, dokter pun akhir nya keluar dari ruangan tersebut. Evan dengan cepat menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Angel.
__ADS_1
"Bagaimana dok?, apa dia baik-baik saja?," Tanya Evan panik.
"Untung saja kau membawa nya kemari dengan cepat. Jika terlambat, kemungkinan besar ibu dan calon bayi nya bisa saja tidak selamat," Tutur dokter.
"Bagaimana dengan keadaan ibu nya?," Tanya Evan. Ia tidak begitu peduli dengan keadaan calon bayi, yang ia pedulikan hanya keadaan Angel.
"Untuk ibu nya saat ini juga baik. Tapi masih lemah, kau harus menjaga nya," Jelas dokter. Evan yang mendengar pun mengiyakan. Dokter berlalu meninggal kan Evan. Kemudian Evan, sesegera mungkin masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Angel.
Sesampai nya di dalam, Evan berjalan menghampiri Angel. Ternyata Angel juga sudah tersadar. Angel berbaring sembari memperhatikan wajah suami nya yang menatap nya.
"Prof,"
"Apa kau baik-baik saja?," Tanya Evan. Angel menggangguk.
"Tidak apa-apa. Kata dokter calon bayi juga tidak apa-apa," Jawab Angel dengan memegang perutnya yang terlihat sedikit membuncit.
"Bayi mu?, maksud mu ini hanya bayi ku?," Tanya Angel. Ange benar-benar tak mengerti maksud perkataan suami nya.
"Aku tidak tau dia bayi siapa," Ucap Evan.
"Ini calon anak kita prof," Jelas Angel.
"Aku tidak yakin. Bagaimana aku bisa percaya dengan perkataan mu," Balas Evan dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Prof, kau masih tidak percaya pada ku?," Angel menatap Evan dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Perasaan nya begitu terluka mendengar perkataan lelaki di hadapan nya sekarang ini. Bagaimana bisa ia tidak mempercayai jika calon bayi di perut Angel bukan anak nya. Sementara yang menikah dengan Angel hanya lelaki ini saja. Angel benar-benar tak menyangka jika suami nya ini berpikir serendah itu pada nya.
"Sudah. Berhenti mengatakan bayi padaku. Aku tidak ingin mendengar nya. Jika kau baik-baik saja itu sudah cukup," Ucap Evan dengan memangku kedua tangan nya. Sementara Angel, ia hanya terdiam sembari memaling kan wajah nya membelakangi Evan. Angel tak mau berdebat dengan lelaki tersebut,il itu lah sebab nya ia memilih untuk tetap diam.
"Awal nya aku datang ke Amerika menemui mu untuk memberitahu kehamilan. Aku ingin memberi kejutan pada mu, dan aku yakin kamu sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Namun keadaan tidak sesuai yang aku bayang kan." Ucap Angel di dalam hati nya. Angel menghapus air mata nya yang keluar di sudut mata nya. Semnatara Evan, duduk di samping Angel dengan menatap punggung wanita di hadapan nya yang tidur membelakangi nya.
"Jika prof sibuk, prof bisa pergi saja. Aku tidak apa-apa di sini," Tutur Angel sembari menahan air mata nya agar tidak jatuh terlalu banyak.
"Aku tidak sibuk." Balas Evan.
"Kenapa?, kau mengusirku?," Tanya Evan.
"Bukan begitu. Aku dan calon bayi ku ini hanya tidak ingin merepotkan, prof," Ucap Angel.
"Berhenti mengatakan bayi pada ku. Aku benci mendengar kata itu!," Tegas Evan. Lelaki itu merasa sangat marah jika mengingat bayi di perut istri nya. Ia tak yakin jika bayi itu milik nya. Evan mengira jika bayi di perut Angel milik lelaki lain. Evan sudah terlanjur berpikir jika Angel pernah tidur dengan lelaki lain. Itu artinya bayi tersebut tidak milik nya. Ada pun Angel yang tadi nya membelakangi Evan, sekarang malah menoleh ke lelaki itu dengan kemarahan.
"Prof, aku tidak mengerti apa yang salah dengan mu. Kau tidak mempercayai ku sama sekali. Aku sudah mengatakan berulang kali jika itu semua kesalah pahaman. Kenapa prof masih tidak percaya?," Angel berkata dengan berlinangan air mata.
"Sudah kau istirahat lah. Aku tidak ingin berdebat dengan mu," Ucap Evan yang mengakhiri pembicaraan. Evan berdiri dari duduk nya dan keluar dari ruangan.
"Aku akan mengurus prosedur rumah sakit. Kau di sini istirahat lah dengan tenang." Tutur Evan sembari berlalu pergi. Angel pun akhir nya terdiam dengan menatap punggung suami nya yang sudah hampir menghilang di balik pintu.
"Maaf kan Dady ya. Dady hanya sedang marah jadi bayi jangan ambil hati dengan perkataan Dady." Ucap Angel dengan mengusap-usap perut nya dengan lembut. Angel tak ingin calon bayi nya mendengar apa yang di katakan Evan yang tak mengakui keberadaan nya.
__ADS_1
"Bayi juga jangan nakal di perut bunda. Sebab bunda masih lemah." Gumam Angel sembari menepis air mata nya yang terus menerus terjatuh. Angel sudah berusaha untuk tidak menangis, namun air mata nya tetap saja keluar dan membasahi pipi mulus nya.
Menunggu Evan, Angel hanya berbaring dengan memandangi langit-langit di ruangan itu. Dengan kedua mata yang terus menangis dan dengan tangan yang terus mengelus perut nya.