My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Rindu


__ADS_3

Rindu


Hari yang cerah, dan cuaca yang sedang. Tidak panas dan tidak juga dingin, cukup mendukung untuk orang-orang keluar rumah berpergian atau pun jalan-jalan. Sama hal nya dengan Angel hari ini, ia begitu semangat nya mengajak Vani dan Dhio dan juga Bara untuk keluar dan jalan-jalan. Karena semenjak kepergian Evan ke Amerika beberapa hari ini, membuat Angel begitu merasa kesepian di rumah hal itu lah yang membuat Angel menghubungi teman-teman nya dan mengajak mereka untuk jalan ataupun nongkrong di luar rumah. Baik nya, teman-teman Angel juga mau mengiyakan dan tertarik dengan ajakan Angel.


"Kita kemana?," Tanya Dhio sembari menyetir. Sekarang ini Angel, Bara, Dhio dan juga Vani sudah berada di dalam mobil.


"Terserah Kemana saja," Balas Vani.


"Kemana nya mau kemana?," Tanya Dhio.


"Terserah saja Dhio," Jawab Angel.


"Bagaimana kalau kita ke cafe dan makan-makan?," Ajak Dhio.


"Tidak. Yang lain saja," Tolak Vani dan juga Angel.


"Bagaimana jika kita ke taman bunga?," Ajak Bara.


"Tidak. Selain taman bunga dan cafe," Tolak Vani dan juga Vina. Sementara Dhio dan Bara yang saat itu sedang duduk di depan pun hanya bisa menghela nafas panjang nya.


"Susah memang bersama makhluk yang bernama perempuan," Gumam Dhio sembari fokus menyetir tanpa arah yang pasti.

__ADS_1


"Nama nya juga perempuan. Makhluk yang suka bilang terserah." Ucap Bara dengan pasrah.


"Selain taman bunga dan cafe. Cari tempat yang bagus dan nyaman," Titah Angel sembari menyadarkan punggung nya ke kursi mobil.


"Benar kata Angel. Cari tempat yang bagus dan nyaman saja," Sambung Vani.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan." Kesal Dhio sembari menoleh kebelakang menatap Vani dan juga Angel. Begitu pun Bara yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Beri ide mau kemana kita hari ini? jangan hanya bilang terserah," Ucap Bara.


"Ke cafe saja," Ajak Vani dan di anggukan oleh Angel. Sementara Bara dan juga Dhio merasa begitu kesal dengan Vani juga Angel. Bagaimana tidak kesal? setelah beberapa lama berdebat dan Dhio memberi ide untuk ke cafe, Angel dan Vani menolak nya dan sekarang Vani dan Angel malah memberi pendapat untuk ke cafe. Sungguh menguji emosi seorang Dhio.


"Untung nya kalian berdua cantik, kalau tidak aku akan meninggalkan kalian berdua di pinggir jalan." Bara menoleh ke belakang dan melihat Angel dan Vani dengan tersenyum.


"Untung kalian teman ku, kalau tidak aku sudah melemparkan kalian berdua ke kandang buaya." Balas Vani. Angel yang mendengar pun hanya tertawa mendengar perkataan Vani.


Di sepanjang perjalanan menuju salah satu cafe, ke empat orang tersebut sibuk saling berdebat tak mau kalah. Mereka asyik dengan pendapat nya masing-masing. Hingga tak terasa beberapa lama mereka sampai di cafe yang ingin mereja tuju. Cafe dengan pemandangan indah di tepi danau. Vani, Angel dan Dhio serta Bara keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe.


* * * *


Sementara di lain tempat, alunan musik dj terdengar menggema di telinga. Lampu-lampu berkedip-kedip menambah semangat orang-orang untuk menari. Di satu kursi yang berada sudut ruangan, seorang lelaki terlihat sedang berbincang bersama seorang wanita **** sembari menikmati sebotol anggur. Seorang wanita tersebut berusaha sangat keras untuk merayu Evan. Namun sayang nya Evan tidak begitu tertarik dengan wanita tersebut. Evan tidak begitu terlalu mengacuhkan Wanita tersebut.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin menari bersama?," Tanya seorang wanita penghibur di dalam Club. Ia memakai baju tali kecil, rok pendek dan bermambut warna kkuning keemasan.Wanita tersebut berusaha merayu Evan yang saat itu dalam keadaan sedikit mabuk.


"Tidak. Kalian menari lah sendiri," Tolak Evan dengan menjauhkan tangan wanita tersebut dari diri nya.


"Ayolah, cobalah menari dengan ku," Ajak wanita tersebut dengan membelai wajah Evan dengan lembut. Evan menjauhkan tangan wanita tersebut dari wajah nya dengan kasar.


"Tidak. Aku harus pulang. Kau jangan memaksa kan aku," Evan berdiri dari duduk nya dan berjalan keluar dari keramaian untuk pulang.


"Menyebalkan sekali." Kesal wanita tersebut dengan melihat Evan yang pergi meninggal kan nya. Seorang wanita tersebut pun kemudian pergi mencari pria lain untuk di ajak minum bersama nya.


"Pulang, pulang." Ucap Evan sembari keluar dari club dan masuk ke dalam mobil. Karena ia sedikit mabuk, membuat dirinya berjalan sempoyongan ke arah mobil. Sesampai nya di dalam mobil, Evan pun mulai mengemudi untuk menuju apartemen nya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh beberapa menit, sampai lah Evan di apartemen nya dan masuk kedalam apartemen.


"Lelah." Evan berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air di dalam kulkas. Evan kemudian meminum air yang begitu dingin untuk menyadarkan nya lebih cepat. Setelah meneguk segelas air putih, Evan kemudian menyiram setengah sisa air putih tersebut ke kepalanya.


"Dingin sekali." Ucap Evan yang meletakan gelas di atas meja dan kemudian ia berjalan masuk kedalam kamarnya. Sesampai nya di dalam kamar, Evan kemudian membuka kancing kemeja nya serta melepaskan dasi nya dengan kasar. Evan merebahkan tubuh nya di atas size king.


"Kenapa wanita itu tidak menghubungi aku? apa dia masih mengaggap aku sebagai suami nya?," Celoteh Evan dengan menarik handphone nya dari dalam saku dan melihat layar handphone nya.


"Arghh. Benar-benar tidak ada perasaan sedikit pun. Kejam sekali." Gumam Evan sembari meletakan handpone nya kesembarang arah. Evan kemudian menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Evan sebenarnya begitu merindukan istri nya. Ia sudah mencoba banyak cara berusaha melupakan Angel. Mulai dari memyibukan diri nya untuk berkerja, menghabiskan waktu bersama Vina, menghabiskan waktu nya dengan berada di club namun pikiran nya tetap tertuju pada istri sah nya.


"Evan!sadar lah. Kau seorang lelaki. Kau harus tegas pada istri mu. Sedikit pun jangan lemah." Ucap Evan dengan menepuk-nepuk kedua pipi nya berusaha menyadarkan diri. Entah itu dari alkohol atau pun Angel. Kedua nya benar-benar membuat Evan sama-sama memasukan diri nya. Evan merenung begitu lama hingga beberapa lama termenung ia pun akhir nya tertidur dengan keadaan masih memakai sepatu, baju yang berantakan. Keadaan Evan yang sebenar nya sangat tersiksa karena masalah hubungan rumah tangga nya yang tidak begitu baik. Semenjak di Amerika, Evan berusaha sangat keras menyibukkan diri nya. Evan tertidur hingga datang nya pagi.

__ADS_1


__ADS_2