
Angel Takut
Sore berganti malam, malam itu Evan terlihat duduk dengan santai diatas size kingnya sambil membaca buku. namun disela-sela Evan membaca buku, ia malah tidak bisa fokus dengan benar dikarenakan ada hal yang mengganggu isi pikiranya dari tadi. pikiranya terganggu karena Angel, sejak sore tadi Angel tidak terlihat masuk ke kamar sama sekali. sekarang sudah jam 10.00 malampun Angel juga tidak masuk kekamar. hal tersebut membuat Evan menjadi tidak enak hati dan juga kawatir. Evan mengakhiri membaca buku dan menutup buku tersebut. ia meletakan buku tersebut kebawah bantal.
"Apa aku marah terlalu berlebihan?" pikir Evan.
"Bukan aku yang berlebihan. dia saja yang membuatku berlebihan,"ucap Evan. ia berdebat dengan dirinya sendiri. Evan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar berniat mencari Angel diruang tengah rumahnya. sesampainya diruang tengah, Evan mendapati Angel yang terlihat sudah tertidur diatas sofa diruang tamu. Evan berjalan mendekati Angel dan memperhatikanya beberapa saat. ia sedikit berjongkok memperhatikan Angel yang sudah tertidur pulas dengan mata sembab yang dikarenakan menangis terlalu lama. Evan memperhatikan Angel dengan lekat. ia menyelipkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah cantik tersebut kesamping.
"Apa aku berlebihan memarahinya?," tanya Evan dengan dirinya sendiri. ada rasa bersalah pada dirinya saat ini. ia merasa sangat menyesal karena kejadian sore tadi. mengingat bagaimana Angel menangis dihadapanya tadi membuat dirinya semakin menyesal. sebenarnya Evan tidak berniat membuat Angel menangis, namun hanya saja tadi dirinya tidak bisa lagi mengontrol emosi. bagaimana tidak emosi? suami mana yang tidak marah jika melihat istrinya begitu dekat dengan laki-laki lain. ia tidak suka jika Angel begitu dekat dengan laki-laki selain dirinya. apalagi tertawa dan berbicara sebegitu akrabnya. walaupun Angel belum mencintainya, tapi setidaknya Evan berharap Angel menghargainya sebagai suami.
Evan berniat memindahkan Angel untuk tidur dikamar. ia mengangkat Angel dengan penuh hati-hati agar Angel tidak terbangun dari tidurnya. Evan berjalan pelan menuju kamar, sesampainya dikamar Evan pun memindahkan Angel diatas size king dengan hati-hati. ia kemudian menyelimuti Angel agar tidak kedinginan.
Setelah memindahkan Angel, Evan berjalan menuju balkon didepan kamarnya. ia menghirup udara malam yang sudah mulai dingin. Evan menarik kursi disudut balkon untuk duduk. ia memperhatikan pemandangan disekeliling rumahnya yang hanya terlihat lampu-lampu taman dan juga menikmati suara jangrik yang terdengar seolah saling bernyanyi menghabiskan malam. malam yang cukup dingin ini, Evan menikmatinya tanpa rasa kedinginan. ia berada dibalkon begitu lama. ada banyak beban pikiran yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Apa yang aku harapkan? bukankah kau tau resikonyo Evan. " gumam Evan. ia kemudian mengalihkan pandanganya ke kamar yang menampakan Angel yang terlihat tertidur dengan begitu pulas diatas sana. gadis itu terlihat begitu tenang ketika tidur. berbeda sekali jika terbangun, wajah yang terlihat mengesalkan, keras kepala dan juga kekanakan. disaat mengingatnya, Evan hanya tersenyum.
* * * *
Malam berganti pagi, Angel terlihat keluar dari kamar mandi telah lengkap dengan bajunya. ia memperhatikan sekeliling kamar untuk mencari Evan, namun Evan tidak terlihat sama sekali pagi ini. sejak Angel bangun subuh tadi, sampai sekarang pun ia tidak melihat sosok Evan dikamar. ia kemudian tak sengaja melihat kearah balkon yang saat itu kacanya masih terbuka. Angel berjalan berniat untuk menutup jendela kaca tersebut. namun tak sengaja ia melihat Evan yang tertidur disana dengan hanya menggunakan selimut tipis.
"Apa dia tidur disini?," pikir Angel. bagaimana bisa ada manusia yang bisa tidur dalam keadaan duduk dan hanya berselimut tipis begini. Angel memperhatikan dengan jarak yang sangat dekat, ia berniat untuk memastikan apakah Evan benar-benar tidur atau pingsan.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat?," tanya Evan. ia membuka matanya ketika sadar jika Angel melihatnya dengan jarak begitu dekat.
" Ya tuhan! Prof kau mengagetkan saja " Angel menjauhkan wajahnya dari Evan. ia benar-benar terkejut bukan main.
" Kenapa memangnya? apa wajah ku begitu tampan hingga kau melihatku begitu, " ucap Evan.
" Tampan? apanya. " gumam Angel.
" Prof, apa kau tidur disini semalaman?, " tanya Angel.
" Iya. aku tak sengaja tertidur, " balas Evan. ia kemudian merentangkan kedua tangan kekarnya untuk merilekan otot-ototnya yang kram dikarenankan tidur dalam posisi yang tidak baik.
" Aku mendengar apa yang kau katakan, " ujar Evan. ia kemudian berdiri dan berjalan masuk kekamar.
" Terimakasih Prof. " ucap Angel, ia mengikuti Evan yang masuk kekamar.
" Prof. terimakasih karena telah memindahkan aku kekamar, " ucap Angel. demi apa pun ia merasa begitu malu harus mengucapkan langsung ke Evan.
" Kau tau dari mana aku yang memindahkanmu? " tanya Evan.
" Tau saja. siapa lagi yang bisa memindahkan aku selain Prof " balas Angel.
__ADS_1
" Apa berterima kasih saja bisa cukup? " tanya Evan. ia kemudian mendekati Angel yang berdiri dibelakangnya.
" Lalu harus bagaimana?, " tanya Angel. ia juga tidak mengerti harus bagaimana meminta maaf selain mengucapkan maaf.
" Terimakasih akan diterima jika kau menciumku, " bisik Evan ke Angel. ia berjarak begitu dekat dengan Angel. Angel yang mendengarpun, dengan cepat menjauhkan dirinya dari Evan.
" Prof! aku tidak akan berterimakasih lagi. " ucap Angel. ia kemudian berlari keluar dari kamar. sungguh apa yang diucap kan Evan padanya sangat menggelikan menurutnya.
" Apa terima kasihmu tidak jadi?, " goda Evan. ia menahan tawanya memperhatikan Angel. demi apapun gadis itu sangat lucu jika sedang salah tingkah begini.
" Tidak! " teriak Angel dari luar kamar.
" Jangan sampai kau merayu nantinya agar aku menciummu. " ucap Evan.
" Apa dia sengaja menggodaku? tenang Angel, " ucap Angel. ia memegang kedua pipinya yang terasa begitu hangat dan memerah seperti memakai make up.
" Apa? aku merayu agar bisa menciumnya? hah sembarangan saja! tidak akan! jangan bermimpi terlalu berlebihan Prof. " balas Angel dengan suara yang sedikit keras.
" Dia kira dia setampan Le Min Ho sehingga aku ingin dicium olehnya hah. " celoteh Angel. sungguh tidak masuk akal jika seorang Angel meminta Evan mencium dirinya. sampai kapanpun tidak akan terjadi.
" Awas saja kau termakan omonganmu sendiri. " balas Evan. namun tidak ada jawaban lagi dari Angel. karena tidak ada balasan lagi dari Angel, Evanpun memilih untuk segera kekamar mandi untuk mandi. sebelumnya, ia menyiapkan pakaianya lebih dulu dan meletakanya diatas size king. dikarena kan hari ini hari minggu, membuat Evan sedikit berlama-lama dikamar mandi untuk bersantai menenagkan dirinya.
__ADS_1