
Pertengkaran
Setelah Bara dan Vina pergi, Angel membawa masuk suami nya tersebut dan mengatup pintu.
Sebelum masuk, ia meminta maaf pada orang-orang yang melihat kejadian malam itu.
"Lepas!," Evan menajuhkan tubuh nya dari Angel.
"Prof, tenangkan diri mu. Jangan menyelesai kan masalah dengan amarah," Tutur Angel.
"Bagaimana aku tidak marah?, lelaki mana yang tidak marah ketika istrinya lebih membela selingkuhan nya dari pada suami nya sendiri hah?," Evan memegang bahu Angel dan tanpa sadar mengguncang tubuh Angel dengan kasar.
"Prof jangan begini. Kau menyakiti calon bayi," Ucap Angel yang melepaskan tangan suami nya dari bahu nya. Pun Evan yang tersadar pun melepaskan tangan nya.
"Prof, jika kau begini terus. Aku tidak bisa memaklumi nya," Angel menatap lelaki di hadapan nya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia sangat kecewa dengan sifat suami nya tersebut. Angel kemudian berjalan meninggal kan Evan yang masih berdiri di sana.
"Apa maksud mu dengan perkataan begitu?," Evan berjalan mengikuti Angel yang masuk ke dalam kamar nya.
"Jika kau tidak bisa menyelesai kan kesalaha pahaman ini, aku benar-benar akan pergi dari sini. Kau sudah berulang kali menyakiti aku dan bayi," Tegas Angel dengan menatap suami nya tersebut dengan menitikan air mata. Angel benar-benar tidak mengerti mengapa suami nya tersebut berubah menjadi seperti itu. Evan berulang kali mengasari nya hanya karena kesalah pahaman.
"Oh. Aku mengerti kenapa kau berkata begitu. Karena lelaki itu sudah di sini, jadi kau ingin meninggal kan aku," Ucap Evan dengan senyuman terpaksa. Senyuman yang hanya untuk menahan rasa marah nya yang membara.
__ADS_1
"Ya tuhan. Aku tidak bisa lagi menjelaskan apapun padamu. Begini saja prof, jika kau sudah tidak bisa menerima ku lagi karena pikiran buruk mu itu. Kenapa kau tidak mencerai kan aku saja?, aku sangat tertekan jika setiap hari harus bertengkar dengan mu," Angel menghela nafas berat nya. Ia tak tau lagi harus menjelaskan bagaimana pada suami nya tersebut. Sebab bagaimana pun ia menjelaskan, lelaki di hadapan nya sekarang ini tidak pernah sedikit pun mempercayai nya. Mendengar perkataan Angel, Evan berhasil terdiam dan mendudukkan tubuh nya di atas sofa.
"Sifat buruk yang tercipta ialah gambaran diri kita. Kau yang berselingkuh tapi kau malah menuduh ku," Ucap Angel. Evan di buat semakin terdiam.
"Kau selesaikan masalah mu dengan selingkuhan mu lebih dulu. Cari jalan keluar nya antara kalian berdua," Tutur Angel dengan menepis air mata nya yang berhasil membasahi pipinya.
"Prof, kau marah pada ku atas kesalah pahaman yang tidak aku lakukan. Sementara aku, harus menahan segala kekecewaan ku pada mu karena kau sudah jelas melakukan perselingkuhan," Lanjut Angel. Pun Evan hanya terdiam tak bergeming di tempat yang sama. Ia menatap Angel sejenak kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Apa yang masih prof lakukan di kamar ini?, keluar lah. Kembali ke kamar prof saja," Usir Angel dengan menarik tangan suami nya dan mendorong nya keluar dari kamar. Pun Evan hanya bisa pasrah membiarkan Angel mengusir nay keluar dari kamar.
"Bukan kah prof sendiri yang mengatakan jika tidak ingin satu kamar dengan ku. Jangan melupakan hal itu!," Tegas Angel sembari mengatup pintuk dan mengunci nya dari dalam. Pun Evan tidak membalas perkataan Angel. Ia hanya terdiam sembari berdiri menatap pintu. Apa yang dikatakan Angel memang benar ada nya. Evan lah yang meminta Angel untuk tidur terpisah dengan diri nya.
Malam berganti pagi. Pagi ini Angel menghubungi Bara dan meminta nya untuk bertemu di salah satu restoran di sebrang apartemen. Bara pun mengiyakan.
Sekarang ini, Angel telah bersiap-siap untuk keluar dari apartemen menuju restoran. Namun, melihat suami nya yang saat itu masih belum berangkat ke perusahaan, membuat Angel hanya bisa terdiam di dalam kamar. Ia tak mau harus berpapasan dengan suami nya. Karena setiap bertemu, Evan akan memulainya dengan pertengkaran. Itulah sebab nya pagi ini Angel memilih untuk berada di kamar menunggu Evan keluar dari apartemen.
Angel sudah berulang kali memeriksa suami nya di kamar sebelah, dan tetap saja lelaki itu masih terlihat sedang duduk sendirian di dalam sana. Melihat hal itu, membuat Angel kembali ke kamar nya.
"Kapan dia akan pergi. Jika aku yang lebih dulu keluar dari apartemen, dia akan mengajak ku bertengkar lagi." Keluh Angel sembari menyandarkan punggung nya di pintu kamar.
Beberapa saat kemudian, terdengar Evan yang keluar dari kamar. Lelaki itu berjalan keluar apartemen. Mendengar suara langkah kaki Evan yang sudah menjauh, Angel pun keluar dari kamar nya. Angel membiarkan Evan pergi lebih dulu dari apartemen. Setelah beberapa lama, saat di rasa Evan sudah benar-benar pergi. Angel pun keluar dari apartemen untuk menemui Bara di sebuah restoran di sebrang jalan sana.
__ADS_1
Sesampai nya di sana, terlihat Bara yang telah menunggu kedatangan Angel. Lelaki itu tersenyum ketika melihat Angel yang berjalan menghampiri nya.
"Angel, senang bisa bertemu dengan mu lagi," Bara menarik satu kursi dan meminta Angel untuk duduk di sana.
"Bara, sekarang jelaskan pada ku. Apa maksud mu dengan mengambil gambar ku seolah kita pernah tidur bersama?," Angel bertanya dengan penuh penekanan.
"Kau serius sekali. Pesan dulu makanan nya," Bara memberikan daftar menu makanan pada Angel. Lelaki itu terlihat biasa saja dengan keadaan yang terjadi saat ini.
"Aku tidak ingin makan. Aku menemui mu disini karena ingin tau kenapa kau mengambil gambar yang membuat orang lain salah paham," Tegas Angel.
"Bukan aku yang mengambil gambar nya. Bagaimana bisa kau berpikir aku lah mengambil gambar itu," Ucap Bara dengan santai.
"Lalu siapa yang mengambilnya?, kau jangan membohongi ku!," Balas Angel dengan tegas.
"Percaya pada ku. Bukan aku yang mengambil gambar itu. Kita berdua hanya di jebak oleh orang lain," Tutur Bara dengan menarik tangan Angel dan menggenggam nya. Pun Angel dengan cepat menarik kembali tangan dari genggaman Bara.
"Jangan menyentuh ku." Tegas Angel.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Bara terlihat seolah menyesalinya.
"Di saat kau mabuk, aku hanya membantu mu membuka sedikit jilbab yang kau kenakan agar kau bisa bernafas dengan luas. Itulah alasan ku membuka penutup kepala mu. Namun sayang nya orang lain malah mengambil gambar tersebut," Jelas Bara yang terlihat begitu serius. Pun Angel yang mendengar pun sejenak terdiam memikirkanperkataan Bara. Angel menatap kedua mata lelaki itu untuk mencari celah kebohongan namun Bara terlihat begitu serius dan tidak ada kebohongan sedikit pun di sana.
__ADS_1