
Pak Robert
Butuh waktu 27 jam menaiki pesawat, akhirnya Evan pun sampai di Amerika. butuh waktu lama, Evan di jemput oleh sopir pribadinya di sana yang telah siap menunggu kedatangan Evan. Evan yang melihat pun berjalan menuju mobil tersebut.
"Selamat siang tuan" Sapa seorang pria yang berusia 40an tersebut sambil berdiri di hadapan Evan.
"Siang. Ini koper ku antar langsung ke apartemen ku setelah kau mengantar kan aku ke perusahaan," Titah Evan dengan berjalan membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil.
"Baik tuan." Jawab sopir tersebut drngan mengambil koper tersebut dan meletakan nya di bagasi mobil belakang.
Tak butuh waktu lama, sopir pribadi Evan tersebut masuk kedalam mobil dan mulai mengemudi menuju ke perusahaan. Di sepanjang perjalanan, Evan mengajak sopirnya tersebut berbicara seperti biasa nya. Evan dan sopir pribadi nya sejak dulu memang sangat akrab.
"Bagaimana kabar mu, pak?," Tanya Evan.
"Tentu saja baik. Bagaimana dengan mu?," Tanya sopir pribadi Evan lagi.
"Aku juga baik. Lihat aku semakin tampan," Jawab Evan dengan bangga.
"Kudengan Tuan Evan sudah menikah, apa itu benar?," Tanya pak sopir tersebut.
"Benar. Kau tau dari mana?," Evan melihat ke sopir nya tersebut.
"Ku dengar dari pak Robert." Jawab pak sopir.
"Selamat menikah dan berumah tangga. Saya doakan semoga kekal selama nya," Ucap pak sopir tersebut dengan tersenyum.
"Terima kasih banyak atas doa nya pak." Balas Evan dengan ikut tersenyum.
Pak sopir mengemudi sembari asyik bercerita dengan Evan. Hingga tak terasa dua satu jam berlalu dan sekarang mereka telah sampai di depan pintu perusahaan.
"Sembari mengantar koper ku ke apartemen, tolong minta pengurus apartemen untuk memberusih kan apartemen ku sebelum aku kembali. Kau tau sendiri pak jika aku sangat tidak suka dengan ruangan yang tidak rapi." Pesan Evan sembari membuka pintu mobil.
"Baik Tuan." Jawab pak sopir nya tersebut. Pun Evan yang mendengar pun berjalan memasuki perusahaan. Sesampai nya di perusahaan, Evan di sambut hangat oleh orang-orang yang berada di dalam perusahaan. Orang-orang terlihat sangat senang dengan kedatangan CEO nya tersebut.
__ADS_1
"Selamat siang pak," Begitu lah sapaan yang terdengar di telinga Evan sepanjang perjalanan nya menuju ruang kerjanya.
"Pak Evan, selamat datang." Sapa seseorang yang tak lain asisten nya bernama Selena. Evan yang mendengar pun hanya membalas nya dengan tersenyum.
"Pak, di ruangan anda telah di tunggu oleh pak Robert," Jelas Selena.
"Hanya pak Robert sendiri?," Tanya Evan.
"Pak Robert bersama putri nya," Jawab Selena.
"Bersama Vina?,"
"Iya pak." Jawab Selena.
"Baiklah." Evan pun masuk ke dalam ruangan kerja nya. Dan di saat masuk, terlihat pak Robert yang sedang duduk bersama putri nya di sofa.
"Hallo pak Robert," Sapa Evan saat sampai di dalam ruangan.
"Hai Evan," Sapa Vina dengan tersenyum senang.
"Hai Vina." Sapa Evan dengan sopan.
"Maaf Evan. Aku seperti nya mengganggu waktu istirahat mu," Ucap Robert.
"Tidak pak. Saya tidak merasa terganggu sama sekali," Evan duduk bersebelahan dengan Robert.
"Syukurlah jika begitu. Begini Robert, ada sesuatu kendala yang ingin saya beritahukan pada mu mengenai kontrak kerja sama perusahaan kita." Ucap Robert mulai membuka pembicaraan.
"Mengenai hal apa ini pak Robert?, Kendala masalah apa?," Tanya Evan dengan tenang. Pun Robert yang mendengar pun menghela nafas nya sembari melihat ke putri nya.
"Begini, kami tidak bisa mengimpor bahan dasar dari perusahaan kami sebanyak biasa nya karena bahan tersebut sudah tidak bisa kami produksu sebanyak dulu." Jelas pak Robert dengan tenang. Pun Evan yang mendengar pun ikut mendengar nya dengan tenang.
"Jadi bagaimana solusi terbaik nya, pak? perusahaan kami sangat membutuh kan bahan dasar tersebut untuk membuat Tas mahal pak," Ucap Evan.
__ADS_1
"Ada solusi terbaiknya yaitu kau m. . ., " Belum selesai Vina berbicara, Robert dengan cepat menghentikan Vina dan menatap putrinya. Pun Vina yang melihat pun kembali terdiam.
"Aku bisa memberi nya sebanyak yang dulu tapi, ada syarat nya," Ucap Robert.
"Syarat?," Tanya Evan dengan heran.
"Iya syarat. Perusahaan kita akan terus berkerja sama bahkan bisa bersatu jika kamu mau menikah dengan putri ku Vina," Tutur Robert. Sementara Evan yang mendengar pun di buat sangat terkejut dengan perkataan Robert pada nya.
"Tapi pak Robert. Saya sangat minta maaf dengan persyaratan ini saya tidak bisa memenuhi nya pak. Karena saya sudah menikah" Tolak Evan langsung. Pun Vina yang mendengar pun hanya bisa mengepal kedua tangan nya berusaha menahan amarah.
"Tidak masalah Evan. Istri mu berada di indonesia. Dia tidak tau jika kau menikah di Amerika," Usul Robert.
"Kau bisa menceraikan nya Evan." Ucap Vina. Evan yang mendengar pun hanya bisa menghela nafas nya dan kemudian tersenyum.
"Maaf pak Robert. Saya tidak bisa menikahi putri bapak." Evan berbicara terdengar tegas namun tetap sopan.
"Jika kamu tidak mau menikah dengan putri saya, dengan terpaksa saya harus mengakhiri kontrak kerja sama kita sampai di sini saja," Ancam pak Robert dengan tersenyum. Evan yang mendengar pun di buat sedikit terganggu atas ancaman tersebut. Mengingat perusahaan nya sangat membutuh kan bahan dasar tersebut, hal tersebut membuat Evan hanya terdiam tak membalas perkataan Robert. Evan tak tau harus mengatakan apa di hadapan pak Robert dan juga Vina. Perusahaan milik Evan sama sekali tidak bisa terputus dari bahan dasar tersebut. Namun Evan tidak mungkin menikah dengan Vina. Hal tersebut sedikit mengganggu pikiran Evan.
"Kau harus menikah dengan ku Evan!" Tegas Vina. Evan yang mendengar pun hanya terdiam tak membalas perkataan Vina.
"Pikir kan baik-baik. Ingat, ini demi perusahaan mu juga." Ingat pak Robert.
"Jika kau menikah dengan ku, aku akan memberi kan semua saham ku untuk mu Evan." Ucap Vina.
"Jadi pikir kan dulu Evan. Kalau begitu kami permisi dulu dan selamat beristirahat." Pamit Robert.
"Ayo Vina. Kira pulang terlebih dahulu. Biarkan Evan berpikir untuk memutuskan piluhan terbaik." Titah Robert sembari keluar dari ruangan dan di ikuti Vina di belakang nya.
"Pikir kan baik-baik sayang." Bisik Vina sebelum keluar dari ruangan.
Sementara di dalam ruangan kerja, Evan hanya terdiam sejenak. Ia tidak bisa kehilangan kontrak kerja sama nya dengan Robert. Sebab, perusahaan nya sangat membutuh kan bahan dasar tersebut untuk membuat tas mahal dan sepatu mahal. Hal tersebut membuat Evan kebingungan.
"Aku harus memikirkan cara terbaik agar tidak memutuskan kontrak kerja sama tersebut. Aku tidak bisa kehilangan kontrak kerja sama tersebut." Gumam Evan.
__ADS_1