
Siapa Vina?
Dimalam hari.
Angel berbaring dikasur begitupun dengan Evan. Malam ini begitu tenang dan damai. Karena malam juga sudah larut, membuat suasana diluar sangat hening dan yang terdengar hanya suara jangkrik. Dikamar, Evan dan Angel juga belum tidur. Keduanya sibuk masing-masing. Angel yang sibuk dengan Handphone nya, begitupun Evan yang juga terlihat sibuk dengan Handphone nya juga. Angel sibuk dengan pesan grup kelasnya berberbeda dengan Evan yang sibuk membalas pesan seorang wanita yang bernama Vina. Angel sebenarnya sejak tadi memperhatikan Evan. Namun ia hanya berpura-pura tak melihatnya.
"Apa yang kau lakukan sekarang?."
"Bagaimana kabarmu? sudah lama sekali aku tak melihatmu diclub."
"Aku merindukanmu Evan❤." Begitulah isi whatsap dari Vina. Yang lebih mengesalkan bagi Angel ialah Evan. Suaminya tersebut malah membalas pesan tersebut terlihat memiliki hubungan dengan wanita tersebut.
"Aku sedang berbaring."
"Aku baik. Aku sudah kembali ke indonesia."
"Baiklah."
Begitulah balasan yang Evan berikan ke Vina. Hal tersebut membuat Angel merasa kesal terhadap suaminya tersebut.
"Apa yang sedang kau lihat?," Tanya Evan. Ia sebenarnya sejak tadi juga menyadari jika Angel sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Aku tidak melihatmu, prof." Neyya mengalihkan pandanganya kearah layar Handphone nya sendiri.
"Kau berbohong." Evan mematikan layar Handphone nya dan beralih melihat Angel disampingnya.
"Prof, aku yang mencidukmu berselingkuh tapi malah Prof yang ingin menciduk ku." Ucap Angel.
"Kau sejak tadi memperhatikanku?, kenapa. Apa sekarang ini kau sedang cemburu?," Tanya Evan dengan senyuman.
"Cemburu?. Jangan menghayal Prof. Aku tidak cemburu, aku hanya tidak ingin kau berselingkuh selagi kau bersamaku. Dimana harga diriku dimata orang lain jika prof mempunyai wanita lain." Jelas Neyya dengan terbata-bata.
"Kau kawatir dengan pendapat orang lain apa kau kawatir dengan hatimu sendiri?," Tanya Evan dengan tangan yang mengelus pipi Angel dengan lembut.
"Jangan menyentuhku." Angel dengan cepat menjauhkan pipinya dari tangan Evan.
__ADS_1
"Sayang sekali. Padahal aku ingin kau mencoba merasakan sengatan listrik dari tangan suamimu ini," Ucap Evan dengan suara seraknya.
"Tidak perlu. Aku tidak berniat sama sekali!." Angel mengalihkan tubuhnya dengan cepat membelakangi Evan. Pun Evan yang melihatnya hanya tersenyum.
"Jika tidak mau, maka cepat tidurlah. Besok harus kuliah. Berhentilah bermain Handphone." Tegur Evan.
"Kenapa malah prof yang melarangku? bukankah prof juga sejak tadi bermain *Handphone?," Protes Angel.
"Aku sudah mematikanya. Jadi kau juga harus berhenti. sekarang sudah larut malam, tidurlah dan jangan bermain* Handphone lagi." Tutur Evan dengan mengambil benda pipih tersebut dari tangan Angel dan meletakanya diatas meja disebelahnya.
"Prof, kembalikan Handphone ku!," Angel berusaha mengambilnya kembali dari Evan namun tangan Angel tak mampu merebutnya kembali ditangan Evan.
"Angel, tidurlah. Jika kau tidak juga tidur, aku akan memberikan nilaimu D disaat ujian!," Ucap Evan menakut-nakuti Angel. Pun Angel yang mendengar ancaman nilai dari Evan, membiat Angel mau tak mau harus menrut dengan suaminya tersebut.
"Prof, selalu mengancamku dengan nilai. Baiklah. Aku akan tidur." Angel menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa kau tidak ingin memberi ciuman selamat tidur dulu padaku?," Goda Evan. Senang rasanya bagi Evan ketika melihat Angel tak nyaman bersamanya.
"Jangan berharap!" Ketus Angel.
"Baiklah. Tidurlah sekarang. Jika kau berniat untuk menciumku kau boleh memberitahukan langsung padaku," Gumam Evan. Terdengar bercanda namun sebenarnya ia serius. Evan terdiam menunggu jawaban dari Angel, namun Angel terlihat telah tertidur. Evan yang melihatpun memperbaiki selimutnya dan tak lama kemudian ia pun perlahan ikut tertidur.
Pagi kembali menyapa. Pagi ini, Angel telah selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya. Angel memanggil suaminya untuk sarapan.
"Prof, sarapan sudah siap!," Teriak Angel dari dapur. Evan yang mendengarpun beranjak menuju ruang makan.
"Kau masak apa?," Tanya Evan.
"Aku memasak bubur," Angel menghidangkan diatas meja untuk dirinya dan juga suaminya.
"Apa kau tidak ingin menyuapi suamimu?," Tanya Evan, sembari menarik satu kursi untuk duduk.
"Tidak terima rayuan di pagi hari." Balas Angel tak acuh.
"Apa kau hanya ingin menerima rayuan dimalam hari saja? itu membuatnya terlalu menarik," Evan mengambil segelas susu yang telah disiapkan Angel dan meminumnya.
__ADS_1
"Kenapa laki-laki ini semakin menggila saja rayuanya." Ucap Angel didalam hatinya. Angel memandangi Evan sekilas dan kemudian ia mengalihkan panadanganya kembali kemangkuk buburnya.
"Kenapa diam? apa jangan-jangan yang ku katakan benar?," Goda Evan. Tak habis-habisnya Wvan membuat Angel salah tingkah dengan rayuan yang ia keluarkan.
"Prof, kulihat prof benar-benar ahli dalam merayu wanita. Aku diam karena sedang melihat betapa playboy nya dirimu," Ucap Angel sembari memandangi Evan dengan tatapan curiga.
"Kenapa?, apa sekarang kau berhasil ku rayu?," Tanya Evan.
"Tidak. Perlu prof tau, bahwa imanku sangat kokoh. Tidak mudah runtuh oleh rayuan," Ucap Angel membela dirinya. Walau dalam kenyataan yang sebenarnya rayuan suaminya tersebut memang sering membuatnya malu namun ia menanhan nya dan seolah terlihat biasa saja.
"Aku suami mu. Suatu saat mau tak mau kau tetap akan memberikan nya pada ku," Ucapan yang terdengar lembut namun sangat mengganggu isi pikiran Angel.
"Kenapa pembicaraan jadi sejauh ini. Makan lah. Habiskan sarapan nya Prof. Aku juga pagi ini ada mata kuliah." Ucap Angel yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin percakapan pagi ini terlalu dalam.
"Bagaimana jika kau telah selesai wisuda? hal apa yang ingin kau lakukan?," Tanya Evan.
"Aku ingin berkerja." Jawab Angel sembari menyuapi buburnya.
"Tidak. Aku tidak membolehkan mu berkerja." Tolak Evan. Ia sama sekali tak berniat mengizinkan Angel untuk berkerja.
"Bagaimana bisa begitu, prof." Protes Angel, sembari meletakan sendok ditanganya.
"Tentu saja bisa. Aku suamimu jadi kau harus mendengarkan aku." Tegas Evan.
"Jika aku tidak berkerja aku harus apa?," Tanya Angel.
"Tidak perlu melakukan apa-apa. Setelah kau wisuda, ikutlah dengan ku ke America. Kita akan pindah kesana," Tutur Evan. Angel yang mendengarpun dibuat terkejut dengan pernyataan suaminya tersebut.
"Prof, apa kau serius?," Tanya Angel tak percaya.
"Tentu saja. Sebenarnya perkerjaanku yang sebenarnya di America bukan disini," Jelas Evan.
"Aku tidak mau. Prof saja ke America. Aku ingin tetap disini." Tolak Angel. Ia tak berniat sama sekali untuk ke America.
"Aku suamimu. Kau harus ikut kemanapun aku pergi," Tegas Evan.
__ADS_1
"Tidak, prof. Aku tidak memiliki perkerjaan di Amwrica dan aku tidak mengerti bagaimana harus hidup disana. Aku ingin disini saja dan berkerja." Ucap Angel.
"Tidak butuh pendapat dari mu. Aku hanya memberitahukan padamu. Kau suka atau tidak kau tetap ikut dengan ku. Dan Juga, tugas mu hanya mengurus ku bukan berkerja!." Tegas Evan sembari beranjak dari kursi untuk meninggalkan meja makan. Sementara Angel yang mendengar nya hanya terdiam tak memprotes lagi.