
"Apa kau sudah mengerti dengan yang aku katakan?," Tanya Vina di telpon setelah panjang lebar menjelaskan ke Bara. Adapun Bara yang mendengar pun kemudian tersenyum dengan miring.
"Baiklah. Tidak ada salah nya mencoba," Balas Bara.
"Kabari aku apapun hasil nya," Ucap Vina.
"Iya aku akan mengabari mu. Tidak salah jika kau menjadi kakak tiri ku." Balas Bara sembari mengakhiri panggilan.
"Seperti nya tuhan memang mentakdirkan aku mengejarmu Angel. Tunggu, aku yakin kau bisa menyukai ku," Bara meletakan handphone yang ke sembarang tempat. Ia menatap langit-langit kamar dengan hayalan nya bersama dengan Angel. Tak sabar sekali rasa nya diri nya untuk mendapatkan Angel. Bukan Bara namanya jika ia tidak bisa mendapat kan apa yang ia ingin kan.
"Mulai hari ini, aku akan mengejarmu dengan cara apapun." Ucap Bara. Bara terlihat begitu semangat untuk mendapatkan Angel. Semenjak bertemu dengan Angel, ia tidak pernah sama sekali menyukai perempuan lain. Angel merupakan sosok yang sangat sempurna di mata Bara. Seumur hidup nya, Bara tidak pernah sesuka itu pada seorang perempuan selain pada Angel. Karena saking suka nya terhadap Angel, Bara dengan Rela harus menjadi sosok yang menyenangkan dan berbaur bersama teman Angel. Padahal Bara yang sebenarnya adalah seorang laki-laki dingin yang tidak suka berbaur dengan sembarang orang. Bara ialah seorang yang terlahir dari keluarga kaya raya dan berteman dengan orang kaya juga. Namun semenjak ia bertemu Angel, Bara dengan terpaksa harus berteman dengan orang biasa saja untuk mendekati Angel. Tidak terhitung bagaimana besar nya Bara menyukai Angel.
* * * *
Sementara di lain tempat, seseorang terlihat sedang duduk di sebuah restoran. Seseorang tersebut ialah Evan. Sepulang dari perusahaan, Evan memilih untuk berhenti di salah satu restoran untuk makan malam bersama dengan teman dekat nya William. Karena ia tinggal sendirian, hal itu lah membuat Evan jarang memasak dan makan di apartemen. Setiap hari Evan lebih memilih untuk makan di restoran entah itu hanya sendirian atau pun bersama orang lain.
"Bagaimana kerja sama mu dengan pak Robert?," Tanya William sembari meminum segelas jus.
__ADS_1
"Jalani saja dulu. Aku tidak punya jalan keluar," Jawab Evan dengan santai.
"Apa kau yakin ingin menjalani saja dulu?, ini masalah serius dan akan berdampak dengan rumah tangga mu," Tanya William. Ada pun Evan yang mendengar pun sejenak menghentikan suapan nya dan menoleh ke William.
"Yakin atau tidak, aku harus bagaimana lagi. Aku tidak punya jalan keluar," Jelas Evan dengan keputusasaan.
"Bagaimana dengan istri mu?," Tanya William.
"Aku tidak tau. Dia juga seperti nya tidak ingin tau masalah ku," Ucap Evan.
"Bagaimana kau tau dia tidak ingin tau masalah mu sedangkan kau sendiri tidak menghubungi atau pun memberi no mu di sini," William menatap Evan dengan helaan. Adapun Evan yang mendengar nya pun kembali terdiam. Apa yang di katakan Wiliam memang ada benar nya juga. Evan memang tidak menghubungi Angel setelah di Amerika hal tersebut tentu membuat Angel tidak bisa menghubungi nya.
"Sudah. Habis kan makanan mu. Apa kau mau tidur di restoran ini." Balas Evan dengan kembali memakan makanan nya. Wiliam pun juga ikut mekan dan menikmati makan malam.
"Kau harus memahami wanita. Apa lagi dia umurnya masih lebih muda dari kita. Sudah pasti berbeda dengan pikiran nya. Dia tidak begitu mengerti rumah tangga, jadi kau sebagai suami harus mengerti dan memahami dia," Tutur Wiliam. Entah sejak kapan Wiliam si laki-laki pemain wanita menjadi begitu bijak dalam menasehati teman nya masalah cinta.
"Sejak kapan kau belajar menasehati masalah percintaan?, aku benar-benar salut pada mu kali ini," Evan menepuk bahu Wiliam dengan tak percaya.
__ADS_1
"Kau jangan salah. Sebagaimana playboy nya aku, aku tetap mencintai dengan serius ketika aku telah menemukan wanita yang tepat," Ucap Wiliam dengan tersenyum. Di saat Evan sedang berbincang-bincang bersama Wiliam, tiba-tiba handphone nya berdering di dalam saku Jaz nya. Evan pun menarik handphone nya dari dalam saku Jaz. Evan melihat sebuah panggilan yang tertulis atas nama Vina.
"Kau lihat ini Wiliam, satu hari pun dia tidak pernah berhenti mengganggu hidup ku," Evan memperlihatkan panggilan tersebut pada Wiliam.
"Kenapa kau sudah tidak mau di ganggu. Dulu juga kau tidak masalah Vina mengganggu mu setiap waktu. Bukan kah kau dan aku sama-sama pemain," Sindir Wiliam
"Bermain tidak masalah, tapi aku tidak pernah mengatakan jika aku serius dengan nya. Sungguh menyebalkan," Ucap Evan dengan menatap layar panggilan tersebut hingga berakhir dengan sendiri nya.
"Jika kau tidak mengangkatnya, dia akan menelpon mu berkali-kali lagi," Ingat Wiliam dengan tawaan.
"Aku akan mematikan handphone ku." Evan mematikan handphone nya dan kembali memasukan nya ke dalam saku Jaz nya.
"Apa rencana mu setelah ini?," Tanya William.
"Kita pergi ke sebuah Club saja," Ucap Evan.
"Seperti nya itu ide yang bagus. Tak sabar bertemu wanita-wanita sexy di sana," Balas William membayang kan dengan senang.
__ADS_1
"Sekarang saja, ayo." Ajak Evan. Wiliam pun mengiyakan. Setelah membayar makanan nya, Evan dan Wiliam masuk ke mobil dan mengemudi menuju sebuah club yang tak begitu jauh. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit, mereka pun sampai di club. Saat masuk, sesuai yang di katakan Wiliam. Para wanita-wanita sexy mulai mendekati nya dan mengajak mereka berkenalan. Seperti biasanya, setiap perkenalan pasti akan berakhir di hotel dan tempat tidur. Bukan hanya Wiliam saja. Evan malam ini juga begitu, terasa sudah mabuk, ia pun mengajak wanita yang bersama nya malam ini ke hotel untuk menemani nya. Wiliam di hotel yang berbeda dari Evan begitu pun sebalik nya. Memang setelah sampai di club, Evan dan Wiliam tidak bersama lagi. Kedua nya terpisah karena ada nya wanita-wanita sexy yang membawa nya duduk di tempat yang berbeda-beda. Sebagaimana pun lelaki tetap lah lelaki yang tidak bisa lepas dari perempuan. Itulah sifat lumrah lelaki. Setiap selesai, ia akan membayar wanita-wanita tersebut dengan harga mahal sebagi bentuk penghargaan karena telah menemani nya semalaman. Karena Amerika adalah negara bebas, wanita-wanita tersebut tidak begitu peduli dengan kesuciannya. Mereka bebas melakukan apapun yang mereka sukai. Karena negara Amerika merupakan negara yang tidak ada larangan untuk hal-hal yang tidak begitu. Amerika berbeda budaya dengan negara Indonesia. jadi bersama sebelum menikah, bersama walaupun tidak ada hubungan apapun, mereka tidak mempermasalahkan nya da ln sudah merupakan sesuatu yang biasa saja.