My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Pembatalan Kontrak


__ADS_3

Pembatalan Kontrak


"Maaf semua nya. Saya terlambat untuk rapat hari ini," Ucap Evan sesampai nya di perusahaan. Saat ini Evan baru saja sampai di dalam ruangan rapat. Terlihat orang-orang yang telah menunggu nya di sana.


"Kami sudah menunggu di sini selama berjam-jam, apa kau kira kamu tidak punya perkerjaan lain?," Protes seseorang di sana. Semua orang yang berada di dalam ruangan rapat tersebut ikut mendukung pernyataan rekan nya.


"Saya tau itu. Saya minta maaf sebesar-besar nya. Saya tidak akan mengulangi nya lagi," Balas Evan dengan bersikap tenang. Evan menarik kursi dan duduk.


"Kamu sudah menyia-nyia kan waktu bagi kamu di sini. CEO macam apa yang tidak kompeten begini," Ucap seseorang lain nya di sana. Evan terdiam beberapa saat, ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak marah pada orang-orang tersebut.


"Sudah. Mari kita mulai rapat nya," William yang berusaha untuk menenangkan semua yang ada di dalam. Evan akhir nya pun memulai rapat mereka. Walau rekan bisnis nya di sana masih terkesan marah dengan Evan, tapi tetap saja mereka dengan profesional menyelesai kan rapat tersebut.


Setelah beberapa jam berlalu, rapat pun telah selesai. Orang-orang sudah keluar dari ruangan. Saat ini yang tertinggal di dalam nya hanya Evan, William dan juga Robert.


"Evan, ada yang ingin aku katakan pada mu," Ucap Robert dengan menyilangkan anak jarihya di atas meja. Lelaki itu terlihat begitu serius. Melihat ekspresi Robert, membuat William memilih untuk keluar dari ruangan itu. Ia tau jika ini sesuatu pribadi antara Evan dan juga keluarga Robert.


"Saya permisi keluar." Pamit William dan di balas anggukan oleh Evan dan juga Robert. Setelah William keluar, Robert pun kembali melanjutkan pembicaraan nya bersama Evan.


"Ada hal penting apa, pak Robert?," Tanya Evan.


"Aku ingin memastikan hubungan kamu dan Vina. Aku ingin kalian menikah secepatnya," Robert berbicara dengan tenang namun penuh penegasan. Lelaki itu tersenyum ke arah Evan. Di ruangan yang cukup luas tersebut menjadi sunyi beberapa saat. Evan terdiam beberapa menit untuk memantap kan pembicaraan dengan tenang namun matang.


"Maaf sekali pak Robert. Seperti nya saya memang benar-benar tidak bisa untuk melanjut kan hubungan dengan Vina apa lagi sampai harus menikah," Tutur Evan dengan sopan.


"Kenapa?, apa alasan nya?. Apa yang kurang dari anak saya Vina?," Tanya Robert dengan wajah yang terlihat kecewa.


"Tidak ada yang kurang dari Vina. Hanya saya saja yang tidak mencintai nya, karena saya mencintai istri saya lebih dari apapun," Balas Evan dengan senyuman. Robert yang mendengar pun juga tetap terlihat tenang. Suasana yang di anggap Evan akan menjadi kacau, ternyata tidak seburuk yang ada di pikiran Evan. Robert tidak menampakan amarah nya sama sekali.

__ADS_1


"Baiklah jika itu keputusan mu. Aku juga tidak bisa memaksakan nya," Ucap Robert yang menghela nafas nya dan kemudian tersenyum.


"Terima kasih sudah mengerti pak," Balas Evan.


"Tidak masalah. Tapi untuk urusan kerja sama kita, seperti nya memang tidak bisa lagi kita lanjut kan. Kontrak kerja sama perusahaan kita, harus di akhiri," Jelas Robert.


"Jika itu sudah menjadi keputusan bapak, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mari kita akhiri," Evan mengiyakan. Evan mengeluarkan sebuah file yang ada di dalam tas nya dan mengulurkan nya ke Robert. Ternyata sebelum nya, Evan sudah siap untuk mengakhiri nya. Ia tau akan terjadi begini, jadi Evan sengaja menyiapkan lebih dulu sebelum nya.


"Sepertinya kau sudah menyiapkan nya." Pak Robert mengambil dan menandatangan pembatalan kontrak kerja sama di dalam kertas tersebut.


"Bagaimana perusahaan mu setelah tidak berkerja sama dengan kami?," Tanya Robert yang sedikit ingin tau. Mengingat bahan utama pembuatan tas bermerk, hanya dari perusahaan nya. Itulah kenapa Robert bertanya pada Evan.


"Tidak masalah pak Robert. Saya akan memproduksi sendiri bahan nya," Jelas Evan.


"Apa kau yakin?, memproduksi bahan dan sekigus membuat tas, membutuhkan biaya yang cukup besar," Tanya Robert yang sedikit ragu dengan keputusan Evan. Ia tidak yakin Evan bisa menangani hal sebesar itu.


"Tidak masalah pak. Saya akan berusaha." Ucap Evan.


Setelah kepergian Robert, Evan yang tadi nya tersenyum, sekarang malah mengerut kan kening nya sembari menekan tangan nya untuk menahan kepala nya di atas meja. William masuk dan duduk bersama Evan setelah pak Robert keluar.


"Bagaimana?, apa urusan sudah selesai?," Tanya William tak sabaran.


"Bagaimana apa nya? aku sudah memutuskan kontrak kerja sama kami," Jelas Evan yang terdengar frustasi. Ia kebingungan bagaimana nasib perusahaan nya di bidang tas bermerk.


"Pilihan yang bagus. Memang ini konsekuensi dari pilihan mu," Ucap William menenangkan.


"Aku tau itu. Bantu aku William," Pinta Evan dengan begitu serius.

__ADS_1


"Apa?," Tanya William santai.


"Perusahaan mana yang memiliki bahan sebagus perusahaan Robert?," Tanya Evan. William hanya mengangkat bahu nya pertanda tidak mengetahui jawaban pertanyaan Evan.


"Yasudahlah. Jika memang tidak ada, saya terpaksa membuat bahan sendiri," Evan menyandarkan punggung nya di kursi sembari menyilang kan kaki nya.


"Tidak masalah. Perusahaan kita bisa berkerja sama dalam modal untuk melakukan nya," Balas William.


"Kau memang teman ku yang baik." Ucap Evan sembari berdiri menghampiri Evan dan menepuk-nepum bahu teman nya tersebut.


"Bagaimana kau dan Angel?," Tanya William. Evan yang mendengar pun kemudian terdiam dan kembali ke tempat duduk nya.


"Aku tebak Angel tidak memaafkan mu," Tebak William yang menyadari hal itu ketika melihat raut wajah Evan yang seketika berubah.


Di saat Evan dan William masih berbincang, tiba-tiba pintu terbuka dan terhempas dengan keras. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan. Wanita tersebut berjalan mendekati Evan. Tanpa berbicara, ia langsung saja menampar wajah tampan Evan. Evan hanya terdiam saat wanita itu menampar nya. Ada pun William, ia berdiri bermaksud mencegah wanita tersebut namun Evan menghentikan nya dengan bahasa tangan nya yang ia beri pada William. William pun kembali duduk. Wanita tersebut tak lain ialah Vina. Setelah di beri tahu Dady nya Robert jika Evan menolak nya, Vina langsung ke perusahaan mencari Evan.


"Apa yang kurang dari ku hah?," Tanya Vina yang berdiri di hadapan Evan. Vina menatap lelaki di hadapan nya dengan penuh kemarahan. Ia seolah tidak terima dengan penolakan Evan pada nya.


"Maaf Vina. Aku tidak bisa mencintai mu. Sampai kapan pun itu. Karena aku mencintai istri ku," Ucap Evan dengan berdiri. Mendengar hal itu Vina kembali menampar wajah nya.


"Istri istri istri istri! aku lebih cantik dari istri mu!. Kau akan beruntung menikah dengan ku tapi kau malah menolak pernikahan kita!," Teriak Vina dengan berlinangan air mata. Ia menatap lelaki di hadapan nya.


"Maaf Vina." Balas Evan yang tetap tenang walau wanita di hadapan nya menangis.


"William, bantu aku." Panggil Evan dengan melihat ke William seolah memberi kode agar William menangani Vina. William mengangguk mengiyakan. Evan berlalu pergi keluar dari ruangan. Vina bermaksud mengejar lelaki itu, namun William menahan nya.


"Vina, jangan mengganggu Evan lagi. Dia sudah beristri." Ucap William sembari mengunci pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


"Bukan urusan mu! kau tidak perlu ikut campur!," Teriak Vina yang masih menangis. Ia berusaha membuka pintu untuk keluar dari ruangan dan mengejar Evan. Namun William tidak membuka nya.


Setelah beberapa menit, di rasa Evan sudah keluar dari perusahaan, William pun membuka pintu tersebut dan membuat kan Vina pergi.


__ADS_2