
Tembakan
Dentuman suara langkah kaki Vina terdengar semakin mendekat. Hal itu membuat Angel semakin ketakutan. Saking takut nya, hingga membuat Angel sampai tidak bisa bernafas. Bukan karena ia bersembunyi di dalam kulkas, tapi karena begitu takut melihat pistol yang di pegang oleh Vina.
"Ya Allah. Selamat kan aku dan bayi ku." Pinta Angel di dalam hati nya. Ia berdoa dan memohon kepada sang pencipta agar menyelamat kan diri nya dan juga calon bayi nya. Seluruh tubuh Angel menggigil kedinginan dan juga ketakutan.
Sementara Vina, sesampai nya di dapur, ia melihat potongan Apel yang berada di atas meja dan juga pisau. Melihat hal itu, membuat Vina menyadari jika Angel berada di dalam ruangan itu.
"Keluar kau wanita sialan!, keluar dari persembunyian mu!," Teriak Vina. Membuat Angel yang mendengar semakin ketakutan. Angel berusaha untuk tetap tenang dan diam di dalam kulkas. Ia berusaha untuk bernafas dengan normal namun karena di dalam kulkas sangat pengap dan minim udara, membuat Angel kesusahan untuk bernafas. Dada nya juga terasa mulai sesak. Namun Angel mencoba bertahan karena ia tidak punya pilihan lain selain bersembunyi di dalam sana.
"Aku tau kau sedang bersembunyi Angel. Keluar kau sekarang!. Berani sekali kau merebut Evan dari ku. Aku akan membunuh mu. Keluar kau!," Ucap Vina sembari mencari-cari keberadaan Angel. Karena tidak berhasil menemukan persembunyian Angel, membuat Vina begitu marah hingga ia menembak seisi ruangan. Semua lemari dan tempat lain nya di dalam sudah di tembus oleh anak peluru yang di pegang nya. Vina juga menembak dinding kulkas namun untung nya dinding kulkas tersebut cukup keras dan berbahan tebal, membuat peluru pada pistol nya tidak sampai menembus begitu dalam. Hanya di bagian luar nya saja. Vina sudah mencari setiap tempat di dalam sana namun tetap tidak menemukan keberadaan Angel. Karena tidak menemukan Angel di sana, membuat Vina bermaksud untuk mencari nya di tempat lain. Angel kemudian melangkah untuk keluar dari dapur, tapi tiba-tiba terdenga suara benda yang terjatuh.Vina menyadari jika suara benda tersebut berasal dari dalam kulkas. Ia kemudian berjalan menuju kulkas.
"Ya tuhan." Ucap Angel di dalam.hati nya setelah tidak sengaja kepala nya menghantam bagian atas kulkas yang membuat suara terdengar hingga keluar. Vina sudah dapat memastikan jika Angel lah yang berada di dalam sana. Vina tertawa dengan keras sembari memegang pistol nya.
"Hahahaha hahaha. Kau bersembunyi di sini ternyata. Sayang sekali aku berhasil menemukan mu. Mungkin tuhan juga ingin aku membunuh mu. Hahahaha." Vina tertawa seperti orang yang kehilangan akal. Setelah puas tertawa, ia kemudian membuka pintu kulkas tersebut.
__ADS_1
Benar saja. Saat pintu terbuka, terlihat Angel yang sedang berada di dalam nya. Angel begitu ketakutan. Namun Angel berusaha untuk menenang kan Vina.
"Vina, tenang lah," Ucap Angel sembari keluar dengan perlahan dari dalam kulkas.
"Jangan bergerak!, diam kau di sana. Aku akan menembak mu di dalam sana!," Vina menyodor kan pistol nya tepat di kepala Angel. Hal tersebut membuat Angel semakin ketakutan.
"Vina, cari lah kebahagiaan mu. Banyak lelaki yang menyukai mu di luar sana. Kenapa kau harus merebut suami ku?," Ucap Angel yang masih berada di dalam kulkas.
"Merebut nya?, kau bilang aku yang merebut Evan hah!. Bukan aku yang merebut Evan, tapi kau lah yang merebut Evan dari ku!," Teriak Vina dengan penuh kemarahan.
"Kau harus mati!," Lanjut Vina sembari mendekat kan pistol ke kepala Angel.
"Aku tidak peduli lagi. Setidak nya dia juga akan menderita karena kehilangan diri mu." Ucap Vina yang mulai menarik pelatuk pada pistol nya. Melihat hal itu membuat Angel memejam kan kedua mata nya. Ia tidak tau harus bagaimana lagi, Angel memili untuk berserah diri kepada Allah lah satu-satu nya.
Di saat suara tembakan terdengar, namun Angel tidak terluka sama sekali. Angel membuka kedua mata nya dan melihat Angel yang terjatuh dan tertembak. Belum sempat menarik pelatuk pistol nya, ternyata polisi lah yang lebih dulu menembak lengan Vina hingga membuat pistol tersebut terlepas dari tangan nya.
__ADS_1
"Angel! sayang," Panggil Evan yang berlari mendekati nya dan mendorong Vina dari depan kulkas. Evan dengan cepat membawa Angel keluar dari ruangan di saat Vina masih memegang tangan nya yang terluka.Ternyata, setelah menerima kabar dari Prislo tadi nya, Evan sempat meminta William untuk menghubungi polisi untuk datang ke apartemen.
"Jangan bergerak!," Beberapa polisi menyodor kan pistol ke Vina yang saat itu sedang berusaha mengambil pistol nya dengan tangan kiri nya. Sementara Evan, berhasil membawa Angel keluar dari dapur dan membawa nya ke dalam kamar. Evan mengunci Angel di dalam kamar, kemudian ia kembali ke dapur. Selain polisi, ternyata ada Robert, Bara dan juga William di sana. Mereka mencoba membujuk Vina untuk menyerah kan pistol nya kepada polisi namun Vina tidak mendengarkan ayah dan saudari tiri nya sama sekali. Semua orang yang ada di dalam ruangan terlihat begitu panik.
"Sayang, tolong sadar lah. Jangan begini," Bujuk Robert yang berusaha menenang kan putri nya tersebut. Begitu pun dengan Bara yang juga berusaha membujuk saudari nya.
"Pergi kalian semua!, aku akan membunuh wanita sialan itu. Kemana dia pergi!," Teriak Vina yang masih memegang pistol nya dengan tangan kiri nya. Tidak peduli darah yang mengalir di tangan kanan nya, Vina tetap tidak mau mengubah pikiran nya. Apa pun yang terjadi, ia tetap ingin menghabisi Angel. Butuh beberapa menit untuk menenangkan Vina namun tidak berhasil. Tidak punya pilihan lain, polisi menunggu di saat Vina lengah, namun wanita tersebut terlihat begitu sigap. Evan mencoba untuk mengulur waktu membuat Vina untuk lengah.
"Vina, apa yang sedang kau lakukan?, jangan begini. Ingat, walaupun kita tidak mencintai mu, tapi aku menyayangi mu sebagai teman. Aku tau kau orang baik Vina," Ucap Evan yang berdiri di belakang para polisi.
"Sebagai teman?, aku tidak mau kau hanya menganggap ku sebagai teman Evan. Aku mau kau menganggap ku sebagai wanita. Aku mencintai mu Evan hiksss hiksss," Balas Vina dengan air mata yang berhasil membasahi kedua pipi nya. Melihat situasi itu, polisi mengambil kesempatan untuk mengambil pistol dari Vina dan memborgol nya.
"Lepas kan!, apa yang kalian lakukan hah!," Teriak Vina di saat polisi berhasil mengambil pistol di tangan nya dan berhasil memborgol kedua tangan nya. Vina berusaha memberontak. Sementara Robert dan Bara hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menatap Vina dengan penuh kesedihan.
"Pa, tolong aku hiksss hiksss," Pinta Vina sembari melihat ke arah Robert.
__ADS_1
"Vina, maaf kan papa. Papa tidak punya cara lain selain membuat kan polisi membawa mu." Balas Robert dengan menitikan air mata. Ia sangat menyayangi putri nya, namun perbuatan putri nya tersebut memang tidak di benarkan walau bagaimana pun. Robert membiar kan polisi membawa Vina keluar dari apartemen. Begitu pun Bara, yang juga sangat bersedih dengan apa yang terjadi. Walau Vina hanya saudari tiri nya, tapi mereka berdua sudah bersama dari kecil.Ia sudah menganggap Vina sebagai saudari kandung nya walaupun tidak sedarah.
Setelah polisi membawa Vina, Robert dan Bara pun pamit kepada Evan untuk pergi. Sebelum pamit, Robert sempat meminta maaf kepada Evan atas segala kejadian yang terjadi. Begitu pun Bara yang juga meminta maaf karena perbuatan nya.