My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Itu Istrimu?


__ADS_3

Itu Istrimu?


Setelah selesai membayar biaya administrasi rumah sakit, Evan kembali menemui Angel di dalam ruangan. Lelaki itu berjalan mendekati Angel.


"Dokter mengatakan kau sudah bisa pulang hari ini. Kau hanya di minta untuk lebih banyak istirahat saja," Jelas Evan tanpa melihat ke Angel. Lelaki itu memalingkan wajah nya ke arah infus yang sedang melekat pada tangan istri nya.


"Bangun lah. Aku akan membawa mu pulang," Sambung Evan sembari memindah kan selang infus dan memegang nya.


"Apa infus nya tidak di cabut?," Tanya Angel sembari beranjak dari tempat tidur nya.


"Tidak. Dokter meminta kau memakai Infus tersebut hingga air nya habis," Jelas Evan. Angel mengangguk mengiyakan.


Angel mencoba untuk berdiri namun ia sangat lemah hingga akhir nya ia kembali duduk. Evan yang menyadari keadaan istri nya pun akhir nya menarik sebuah kursi roda di samping nya dan meletakan nya di depan Angel.


"Duduk lah di kursi ini. Aku akan mendorong mu menuju mobil," Titah Evan melihat Angel dengan wajah dingin nya.


"Prof, bisakah kau membantuku turun?. Aku kesulitan untuk turun," Pinta Angel dengan suara yang terdengar begitu lemah. Melihat hal itu, Evan pun merasa tak tega dengan istri nya. Walaupun ia sekarang ini dalam keadaan marah, Evan tetap memilih untuk membantu istri nya naik ke kursi roda. Tanpa berkata, Evan langsung saja mengangkat tubuh istri nya dan memindah kan nya ke kursi roda.


"Terima kasih, prof." Ucap Angel namun tak ada balasan yang terdengar dari mulut suami nya.


Lelaki itu mendorong kursi roda dengan hati-hati keluar dari rumah sakit. Sesampai nya di luar, Evan membuka pintu mobil dan kemudian mengangkat tubuh lemah istri nya ke dalam mobil. Setelah itu, ia pun ikut masuk. Tanpa menoleh ke samping Angel, Evan mulai melajukan mobil nya untuk kembali ke rumah.Di sepanjang perjalanan, Evan hanya terdiam dan tidak mengajak Angel berbicara sedikit pun.


"Prof, " Panggil Angel dengan lirih.


"hmm," Evan hanya menjawab dengan deheman.


"Aku lapar," Ucap Angel sembari menunduk. Saat ini Angel terlalu takut untuk menatap wajah dingin suami nya.


"Lalu?," Tanya Evan tak acuh.

__ADS_1


"Tidak bisakah kita membeli bahan makanan sebentar?," Tanya Angel.


"Tidak." Cetus Evan tanpa menoleh sedikit pun pada Angel. Angel yang mendengar pun hanya kembali terdiam. Di sepanjang perjalanan, Angel tak berani mengajak suami nya untuk berbicara. Ia hanya terdiam sembari memperhatikan jalanan di depan nya. Begitu pun dengan Evan yang hanya fokus mengemudi hingga tak terasa ia sudah sampai tepat di depan gedung apartemen. Evan turun dari mobil. Lelaki itu kemudian membuka pintu mobil untuk Angel dan menggendongnya masuk ke dalam apartemen. Di sepanjang perjalanan, Angel hanya terdiam dengan memeluk leher suaminya dengan erat. Agak sedikit malu bagi Angel karena harus di angkat menuju apartemen nya. Namun mengingat kondisi nya sangat lemah, membuat Angel hanya bisa terdiam dengan pasrah membiarkan suami nya mengangkat nya.


Sesampainya di depan pintu apartemen, terlihat ada seorang wanita yang berdiri di depan pintu. Angel yang melihat pun menatap wanita itu dengan heran. Sementara wanita itu, hanya tersenyum melihat ke arah Evan.


"Hai sayang," Sapa wanita itu. Evan membalasnya dengan senyuman.


"Sayang?," Tanya Angel menatap kedua nya secara bergantian.


"Tunggu sebentar Vina. Aku akan mengantar Angel masuk ke dalam," Ucap Evan sembari memegang bahu istri nya dan membawa nya masuk ke dalam. Sementara Vina yang melihat pun hanya menyapa punggung Evan dan Angel dengan senyum sinisnya.


"Siapa dia?," Tanya Angel sesampai nya di dalam kamar.


"Bukan urusan mu." Ucap Evan berjalan meninggalkan Angel.


"Istirahat lah di kamar. Jangan mencampuri urusan ku," Evan mengatup pintu kamar tersebut dan berlalu keluar dari apartemen untuk menemui Vina.


"Mau apa kau kemari?," Tanya Evan dengan sarkas. Lelaki itu menatap Vina dengan tatapan dingin nya.


"Tentu saja untuk menemui mu. Kenapa lagi," Balas Vina dengan memeluk Evan.


"Lepaskan Vina. Jangan memeluk ku begitu," Evan melepaskan tangan Vina dari dirinya.


"Apa itu istri mu?," Tanya Vina dengan melihat-lihat ke dalam apartemen .


"Jangan mengganggu nya," Tegas Evan.


"Muda sekali istri mu. Tidak seperti dia istri mu, bagi ku dia seperti adik mu," Ucap Vina dengan santai.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang dikatakan Vina memang benar adanya. Angel terlalu muda. Jika orang yang tidak mengenal mereka, memang akan menganggap Evan dan Angel kakak dan adik. Karena tubuh Angel kecil dan begitu ramping. Berbeda dengan Evan, yang memiliki tubuh kekar dan usia yang terbilang jauh dari Angel


"Sudah. Ikut aku keluar dari sini," Evan menarik tangan Vina dengan kasar untuk keluar dari apartemen.


"Masuklah!," Titah Evan sesampai nya di depan mobil. Vina pun membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Begitupun dengan Evan yang juga ikut masuk.


"Kau mau membawa aku kemana?," Tanya Vina.


"Membeli makanan," Jawab Evan dengan mulai mengemudikan mobilnya.


"Tumben sekali kau perhatian," Vina kembali memeluk bahu lelaki di samping nya sembari menyandarkan kepalanya di pundak lelaki tersebut.


"Bukan untuk mu. Aku membeli makanan untuk Angel. Dia sedang lapar," Jelas Evan. Vina yang mendengar pun dengan cepat berubah menjadi marah dan kesal.


"Apa istrimu itu bisa membantu perusahaan mu?," Vina bertanya dengan penuh penekanan. Ia merasa begitu kesal dengan Evan karena terus menerus menyebut Angel.


"Jangan membawa perkerjaan. Ini urusan pribadi kita bukan lingkup perkerjaan," Ucap Evan.


"Tapi jika kau terus mementingkan Angel dari pada aku, terpaksa aku harus mencampurkan antara urusan pribadi kita dengan perkerjaan bisnis," Ancam Vina. Evan yang mendengar pun sejenak terdiam dengan melihat ke arah Vina di samping nya.


"Kau jangan berani mengancam ku!," Tegas Evan.


"Aku tidak mengancam mu. Tapi kenyataan nya memang begitu. Lagi pula aku dan Angel sama-sama pernah tidur dengan mu. Beda nya kau menikahi wanita itu dan sementara aku, kau tidak mau menikah dengan ku," Bisik Vina di telinga Evan. Vina mengangkat sudut bibir nya tersenyum dengan penuh kemarahan.


"Aku tidak pernah memaksa kau untuk tidur dengan ku. Kau sendiri yang mau waktu itu," Jelas Evan. Sembari mengemudi, sesekali Evan melihat ke arah Vina.


"Sama saja. Kenyataan nya kau memang pernah tidur dengan ku dan merusak kesucian ku," Ucap Vina.


"Jika kau terus memperlakukan aku dengan dingin, dengan terpaksa aku harus memberitahu kan istri mu jika kau pernah tidur dengan ku." Ancam Vina dengan memegang bahu Evan.

__ADS_1


__ADS_2