
Di Ketahui Dhio dan Vani
Setelah selesai kuliah, Angel keluar dari kelas bersama teman-teman nya untuk pulang. Angel berjalan bersama Dhio dan juga teman-teman nya yang lain menuju parkiran.
"Dhio, bisa kah kau mengantar kan aku pulang hari ini?," Tanya Angel.
"Ehem." Vani yang mendengar pun berdehem mendengar Angel yang meminta Dhio mengantarkan nya untuk pulang. Vani tersenyum sembari melirik ke Angel di sebelahnya.
"Boleh saja. Jangan kan mengantar kan mu pulang. Membawa kau ke pelaminan pun Dhio pasti siap." Kekeh Vani sembari menepuk-nepuk bahu kekar Dhio.
"Vani! berhenti menggoda ku begitu. Aku dan Dhio hanya teman sama seperti Dhio berteman dengan mu." Ucap Angel. Dhio yang mendengar pun hanya ikut mengiyakan walaupun kenyataan nya ia sebenar nya sangat kecewa dengan pernyataan Angel.
"Iya. Sudah ayo masuk. Aku akan mengantarkan kalian berdua pulang dengan selamat. Masuk lah." Titah Dhio mempersilakan kedua teman nya tersebut untuk masuk ke mobil nya. Angel dan Vani pun masuk kedalam mobil Dhio.
"Betapa beruntung nya kami berdua memiliki teman lelaki seperti diri mu Dhio," Angel menepuk-nepuk pelan bahu Dhio di sebelah nya dengan tersenyum.
"Benar. Kami sangat beruntung," Sambung Vani yang duduk di kursi belakang.
"Kalian berdua memuji ku di saat butuh saja. Teman lakhnat!," Sembur Dhio. Vani dan Angel yang mendengar pun hanya membalasnya dengan tawaan.
Dhio mulai mengemudi keluar dari parkiran dan mengemudi keluar dari kampus. Namun saat sampai di gerbang, tiba-tiba sebuah mobil menghalangi jalan nya di depan.
"Mobil siapa yang sengaja di parkir di tengah-tengah gerbang begini?," Ucap Dhio.
Tok..tok
Seseorang mengetuk pintu mobil Dhio dari samping. Seseorang tersebut tak lain ialah Evan. Dhio yang melihat pun di buat begitu terkejut. Ada perlu apa dosen tersebut mengehentikan nya. Begitu pun dengan Vani dan juga Angel.
"Prof, apa ada yang bisa saya bantu?," Tanya Dhio sembari membuka pintu mobil dan keluar menghampiri dosen tersebut.
__ADS_1
"Iya. Aku sengaja menghalangi jalan kalian karena aku ingin mengambil istri ku yang berada didalam mobil mu," Evan tersenyum dengan ramah dengan kedua mata memandang ke arah Angel di sebelah Dhio.
"Istri? siapa?," Tanya Dhio terheran.
"Angel, turun lah. Naik lah mobil suami mu. Jangan menaiki mobil laki-laki lain." Titah Evan sembari menarik tangan Angel keluar dari mobil Dhio. Pun Dhio begitu juga dengan Vani yang melihat nya membuat mereka sangat terkejut.
"Angel, apa maksud nya ini?," Tanya Vani dengan penuh kebingungan. Pun Dhio juga tak kalah bingung.
"Prof! apa maksud mu. Prof ini sudah kenapa?," Angel berusaha melepaskan genggaman tangan Evan dari pergelangan tangan nya. Angel berusaha untuk tetap menghindari pertanyaan dari kedua teman nya.
"Bukan apa-apa." Elak Angel.
"Masuk lah ke mobil ku sekarang!," Tegas Evan ke Angel dengan tatapan dingin nya.
"Prof, aku bisa mengantar teman ku pulang. Jadi Prof, tidak perlu kawatir," Ucap Dhio berusaha menghentikan Evan.
"Suami? Angel apa maksud nya ini?," Tanya Dhio dengan sangat tersentak.
"Dhio, besok akan aku jelas kan pada kalian berdua." Jawab Angel. Tanpa menunggu lama, Evan menarik tangan Angel masuk kemobil nya. Dhio berniat untuk menghentikanya, namun Vani dengan cepat menahan Dhio untuk membiarkan Angel bersama Evan.
"Biar kan saja. Apa kamu tidak dengar apa yang di katakan prof pada kita. Jika Angel adalah istri nya. Jadi biar kan mereka pergi jangan menahan nya." Ucap Angel.
"Tapi aku tidak percaya!." Dhio dengan perasaan campur aduk kembali masuk kedalam mobil.
"Sudah. Besok kita akan menayakan langsung ke Angel." Vani berusaha menenangkan teman nya tersebut. Walau sebenarnya ia sendiri juga sangat terkejut.
* * * *
Di mobil Evan. Evan mengemudi dengan tenang. Di dalam perjalanan pulang, Evan tak mengajak Angel berbicara satu kata pun. Sikap nya berubah dingin.
__ADS_1
"Prof, bukan kah saat kita menikah kau berjanji untuk tidak mengungkit pernikahan pada teman-teman ku? bagaimana bisa prof mengingkari janji. Aku malu dengan teman-teman ku," Angel berbicara dengan nada tinggi dengan suami nya.
"Sampai kapan kau ingin menyembunyikan tentang fakta bahwa kau sudah menikah?," Tanya Evan. Ia bertanya tanpa memandangi Angel.
"Setelah aku siap. Tapi prof malah memberitahukan mereka. Prof sungguh keterlaluan!." Kesal Angel sembari mengalihkan memunggungi Evan di samping nya.
"Kapan kau akan siap? apa setelah kau bermain-main dengan banyak laki-laki!." Evan berbicara dengan nada tinggi. Angel yang mendengar pun di buat sangat terkejut.
"Prof, apa maksud mu? bermain dengan laki-laki? apa yang prof katakan?," Tanya Angel. Ia sama sekali tak mengerti maksud Evan yang sebenar nya.
"Bukan kah sudah aku katakan pada mu , jangan berteman dengan laki-laki. Apa telinga mu tidak berfungsi lag?." Kali ini Evan berbicara dengan menahan amarah.
"Tapi aku hanya berteman tidak lebih. Bagaimana bisa prof mengekang ku begitu," Gerutu Angel.
"Mengekang mu?, Angel. Dengan aku, kamu itu sudah menjadi istri seorang laki-laki. Dan laki-laki itu aku yang menjadi suami mu. Jadi kamu sebagai istri ku harus menurut dengan ku." Tegas Evan. Ia tak tau lagi harus melakukan apa pada Angel. Rasa nya selama ini Evan selalu memaklumi Angel sebagai istrinya dan memaklumi kelakuannya. Namun kali ini Evan tak bisa memaklumi jika Angel begitu dekat dengan laki-laki lain.
"Tapi tidak begini cara nya, prof!." Ucap Angel.
"Sudah Angel. Berhenti lah berbicara. Aku tak bisa terus memaklumi mu. Untuk itu aku mohon kau berhenti lah berbicara. " Tegas Evan sembari kembali fokus mengemudi. Pun Angel yang mendengar perkataan suami nya hanya terdiam. Angel mengerti jika sekarang ini Evan sedang menahan amarah pada nya. Walau pun sebenar nya Angel ingin sekali memprotes Evan, namun ia dengan terpaksa menahan nya.
Tak butuh beberapa lama, sampailah mereka tepat didepan rumah. Angel turun dari mobil dan masuk kedalam rumah tanpa menunggu Evan.
"Lain kali jangan menaiki mobil laki-laki lain lagi." Titah Evan sembari berjalan dibelakang Angel.
"Urusan ku, menjadi urusan ku dan urusan prof menjadi urusan prof. Jangan mengekang ku!," Ucap Angel dengan berjalan masuk kekamar. Sementara Evan yang mendengarnya menarik tangan Angel dan memegangi bahu Angel dengan kasar. Kali ini Evan tak sanggup lagi mengendalikan dirinya.
"Angel! kau dengar. Apa pun yang terkait dengan mu itu menjadi urusan ku! jadi kau harus menurut dengan ku!. Jangan biarkan kesabaran ku habis memaklumi mu." Teriak Evan dengan keras. Angel yang mendengarpun hanya terdiam memandangi Evan di depan nya. Tak ada kasih sayang yang terlikat di kedua mata Evan. Yang terlihat hanya amarah yang berapi-api.
"Angel, jika kau terus begini. Jangan salah kan aku jika aku tidak bisa lagi mengendalikan diri ku." Ucap Evan sembari mendorong Angel dengan kasar menuju sofa.
__ADS_1