
Kedatangan William
"Mengobati luka mu." Ucap Angel dengan mendudukkan Evan di kursi. Angel kemudian mengambil potongan kain di dalam lemari nya dan membalut luka di tangan Evan. Pun Evan yang melihat pun hanya terdiam membiar kan Angel mengobati nya.
"Tadi dia seperti tidak ingin melihat ku, sekarang malah peduli pada ku." Ucap Evan di dalam hati nya. Seketika hatinya malah luluh dengan kepedulian istrinya.
Di saat Angel masih sibuk membalut luka di tangan suami nya, tiba-tiba terdengar suara perut yang keroncongan. Angel sejenak terdiam memegang perutnya, kemudian ia kembali menyelesaikan membalut luka ditangan suaminya. Evan yang menyadari jika wanita di hadapan nya saat ini sedang lapar, ia kemudian membuka satu bungkus makanan ringan dan memberikan pada istri nya.
"Hmm. Ini makan lah," Ucap Evan dengan merapikan perban di tangan nya. Evan terlihat tidak peduli, namun sebenar nya ia peduli. Angel pun mengambil makanan tersebut dan kemudian memperhatikan tulisan yang tertulis di plastik makanan tersebut.
"Itu sudah halal." Gumam Evan yang mengerti jika Angel ragu memakan makanan tersebut.
"Oh." Angel mencoba memakan makanan tersebut sembari merasakan rasanya. Makanan tersebut terasa enak.
"Jika kau ingin kau rasa lapar, masak lah sendiri. Di dapur sudah ada bahan makanan," Ucap Evan sembari berdiri dan keluar dari kamar. Pun Angel yang mendengar pun hanya terdiam dengan memperhatikan punggung suami nya hingga menghilang di balik pintu.
Setelah kepergian Evan, Angel kembali menikmati makanan nya. Maklum ibu hamil, bawaan nya selalu lapar dan ingin makan. Angel menghabiskan makanan ringan tersebut satu persatu hingga habis dan tidak tersisa lagi. Selain lapar dan bawaan hamil, Angel sebenarnya juga merasa sangat sedih dan tersakiti oleh perselingkuhan dan perkataan suaminya, itulah sebab nya ia memakan habis makanan ringan hanya untuk meredakan segala kesedihan nya.
Di dalam kamar sendirian, Angel memikirkan banyak hal. Ia memikirkan setiap resiko dan akibat yang akan terjadi dengan jalan yang ia ambil. Angel memang seseorang yang belum terbilang dewasa dalam menyelesaikan masalah, namun sebelum memutuskan sesuatu di dalam hidupnya, Angel akan memikirkan resiko dan akibat nya. Ia selalu berpikir dalam dua sisi. Bahaya nya, ia tidak berpegang pada perasaan saja , namun juga berpegang pada logika.
* * * *
Di lain tempat, Evan duduk bersama William di ruang bersantai. Saat Evan keluar dari kamar tadi nya, William datang ke apartemen menemui nya. Mereka saat ini sedang berbicara.
"Di mana istri mu?," Tanya Wiliam dengan melihat-lihat di sekeliling nya. Wiliam memang mengetahui kedatangan Angel ke Amerika dari Vina.
"Di dalam kamar nya," Jawab Evan.
"Kamar nya?, maksudmu?," Tanya William penasaran.
"Aku dan dia di kamar yang berbeda," Jelas Evan sembari menyandarkan kepalanya di kursi.
"Apa?, kenapa?," Tanya William tak percaya. Bagaimana bisa ada pasangan yang tidur di kamar terpisah.
__ADS_1
"Kau tau sendiri kasusnya. Aku tidak ingin dekat dengan nya namun aku juga tidak bisa jauh dari nya," Gumam Evan.
"Secinta apa kau pada nya?," Tanya William dengan tersenyum.
"Aku tidak bisa menjelaskan besar nya, karena tidak terbatas. Lagi pula untuk apa kau menanyakan sesuatu begitu," Kesal Evan. William pun tertawa.
"Hahahaha...."
"Apa yang lucu?, kau kira masalah yang aku hadapi saat ini lucu?," Evan menatap Wiliam dengan kemarahan.
"Lucu bukan masalah nya. Tapi aku tertawa karena cara kau menghadapi masalah," Ucap Wiliam dengan menepuk bahu Evan.
"Apa maksudmu?," Tanya Evan.
"Tentu saja lucu. Kau tidak punya pendirian ketika menghadapi masalah. Kau takut melepaskan istri mu tapi kau juga tidak mau bersama nya," Tutur Wiliam.
"Sekarang aku ingin tahu, jika seandainya dia memang pernah tidur bersama lelaki lain, apa kah kau masih mau menerima nya atau tidak?," Tanya William dengan serius.
"Kau bertanya apa. Itu sangat membuat ku semakin tidak bisa berpikir," Evan menjauhkan tangan William dari bahu nya.
"Aku mencintai nya, tapi aku ti....," Belum selesai Evan menyelesaikan perkataan nya, Wiliam dengan cepat memutuskan nya.
"Itu artinya kau tidak bisa meninggalkan nya. Jadi kau harus menerima nya, Evan. Apapun yang terjadi, kau tetap harus menerima nya karena kau mencintai nya," Tutur William.
"Tidak semudah itu, William. Kau tidak tau bagaimana jadi aku." Ucap Evan dengan gusar.
"Aku sangat paham perasaan mu. Tapi kenyataan nya jika kau tidak bisa meninggalkan nya, kau harus bisa menerima walaupun sangat pahit," Jelas William. Evan terdiam sejenak. Ia memikirkan perkataan William. Apa yang di katakan Wiliam memang benar ada nya. Namun, tetap saja Evan tidak bisa menerima nya.
Di saat Evan dan William masih melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba Angel berjalan melewati ruang santai untuk ke dapur. Di saat William sedang serius berbicara, lelaki itu kemudian ternganga memperhatikan Angel yang melihat ke arah nya dan juga Evan.
"Dia?," Tanya William dengan melihat ke arah Angel yang sedang melihat ke mereka berdua. Evan pun mengalihkan pandangan nya melihat ke arah yang William lihat.
"Angel." Jawab Evan dengan mengalihkan pandanganya ke William.
__ADS_1
"Angel, hai," William berdiri dengan tersenyum ke arah Angel. Pun Angel membalas dengan tersenyum.
"Kau mau apa?," Tanya Evan yang kemudian melihat ke arah istrinya.
"Bukan urusan mu!," Balas Angel sembari berlalu pergi begitu saja menuju dapur.
"Di depan lelaki lain dia tersenyum, dengan suami sendiri dia malah bersikap begitu." Ucap Evan di dalam hati nya. Ada rasa cemburu melihat Angel tersenyum pada William.
"Itu istri mu?," Tanya William yang kembali duduk.
"Iya. Apa yang kau lihat?," Tanya Evan dengan menatap William.
"Masih muda sekali dia. Dia juga sangat cantik," Ucap William. Evan hanya terdiam mendengar nya. Sebenar nya Evan tak suka William memuji istri nya.
Angel terlihat keluar dari dapur membawa kan sepiring anggur dan jeruk untuk di bawa kembali ke kamar. Namun di saat melihat William melihat ke arah nya, Angel memilih untuk menghampiri Evan dan juga William. Melihat hal itu, William kembali berdiri untuk menyapa Angel.
"Hai. Aku William teman nya Evan," William mengulurkan tangan nya untuk bersalaman. Angel yang melihat pun hanya membalas nya dengan senyuman.
"Maaf, saya Angel." Balas Angel. Ia tak menyalami lelaki di depan nya. William yang mengerti pun menarik kembali tangan nya.
"Tuan berasal dari Indonesia juga?," Tanya Angel berbasa-basi.
"Tidak. Aku asli orang Amerika," Jelas William.
"Maaf, saya kira tuan berasal dari Indonesia juga. Sebab bahasa Indonesia nya sangat fasih," Ucap Angel.
"Iya, saya memiliki banyak teman orang Indonesia," Jelas William.
"Angel kembali lah ke kamar. Kau mengganggu pembicaraan kami," Putus Evan sembari menatap Angel dengan tatapan dingin nya. Ia tak suka Angel terlalu lama berbicara dengan William. Pun Angel yang melihat tatapan dingin dari suami nya, memilih untuk kembali ke kamar nya.
"Saya permisi tuan William." Pamit Angel. William pun mengiyakan.
"Cantik sekali istrimu, Evan," Ucap William.
__ADS_1
"William, kau memuji istri orang lain."