
Maaf
Setelah termenung beberapa lama, lelaki itu kemudian tersadarkan dari lamunan nya. Ia beranjak dari sofa dan berlari menuju kamar yang di tempati oleh Angel. Evan membuka pintu tersebut. Di saat pintu sudah terbuka, terlihat Angel yang terduduk di lantai sembari menangis. Melihat hal itu, Evan berhambur memeluk tubuh istri nya. Ada pun Angel yang tadi nya sedang menangis, di buat terdiam dan kebingungan.
"Maaf kan aku," Ucap Evan dengan suara serak nya. Ia memeluk dan memberikan banyak ciuman di kepala Angel.
"Prof?," Panggil Angel yang melepaskan pelukan suami nya tersebut.
"Berdiri lah. Apa yang kau lakukan di lantai," Evan membawa Angel duduk di atas sofa. Sementara Angel hanya terdiam dengan kebingungan.
"Maaf kan aku karena tidak mempercayai mu," Evan kembali memeluk tubuh wanita di samping nya. Ia memeluk nya dengan begitu lama.
"Apa kau sudah percaya pada ku?," Tanya Angel sembari membalas pelukan suami nya tersebut.
"Maaf kan aku karena tidak pernah mau mendengar kan apa kata mu. Tidak. Aku yang harus bersujud pada mu," Evan berdiri dan berlutut di depan kaki Angel yang terjuntai di tepian sofa.
"Maaf kan aku. Tidak seharus nya aku begitu," Ucap Evan dengan penuh penyesalan. Mengingat bagaimana perlakuan nya selama ini pada Angel, hal tersebut membuat dada nya terasa sangat sesak dan sakit. Ia benar-benar menyesali perbuatan nya.
Ada pun Angel yang melihat nya, ia memegang bahu suami nya dan meminta Evan untuk berdiri. Angel tidak mau jika suami nya tersebut bersujud di kaki nya.
"Jangan begini prof. Bangun lah, aku tidak meminta mu untuk bersujud pada ku," Titah Angel, namun Evan tetap berlutut di hadapan istri nya tersebut.
__ADS_1
"Jika kau tidak bangun, aku tidak ingin lagi melihat mu!," Tegas Angel yang berusaha membangunkan suami nya dari hadapan nya. Ada pun Evan yang mendengar nya, dengan cepat berdiri dan kembali memeluk istri nya tersebut. Ada pun Angel, sebenar nya ia masih marah pada suami nya tersebut karena tidak mempercayai nya. Namun melihat bagaimana suami nya saat ini yang terlihat begitu menyesali perbuatan nya, membuat Angel mengurung kan niat nya untuk memarahi suami nya tersebut. Angel lebih memilih diam beberapa saat.
"Tolong maaf kan aku," Ucap Evan yang masih memeluk erat istri nya. Namun Angel hanya terdiam tidak membalas pelukan suami nya tersebut. Bagaimana bisa semudah itu mengatakan maaf, di saat beberapa menit yang lalu dia memarahi Angel dan juga hampir saja menceraikan Angel. Sekarang dengan mudah nya lelaki itu meminta maaf.
"Aku memang lelaki yang sangat bodoh. Seharus nya aku mempercayai istri ku sendiri. Tapi aku lebih mempercayai orang lain," Gumam Evan dengan penuh penyesalan.
"Sudah bisa kah kau melepaskan pelukan mu sekarang prof?," Pertanyaan tersebut membuat suami nya tersebut melepaskan pelukan. Evan kemudian ikut duduk di tepian sofa di sisi Angel.
"Aku berjanji pada mu, tidak akan meragu kan mu. Aku tidak akan meninggal kan mu," Evan mengambil kedua tangan Angel dan menggenggam nya dengan erat.
"Setelah hampir saja kau ingin menceraikan aku, sekarang mudah nya meminta maaf," Angel melepas kan kedua tangan nya dari genggaman suami nya tersebut. Angel masih marah dengan semua perlakuan Evan pada nya. Bagaimana bisa mengatakan maaf setelah melukai perasaan nya dan juga batin nya. Tidak semudah itu. Tidak semua kata maaf mampu menjadi penenang di saat luka sudah terlanjur tergores di dalam dada.
"Aku tau. Aku sudah sangat keterlaluan. Aku juga tidak mengerti kenapa aku sejahat itu. Maaf kan aku," Evan mengambil tangan Angel kembali, namun Angel juga kembali menghempaskan nya.
"Lalu aku harus bagaimana?, katakan aku harus apa sayang?," Tanya Evan. Ia sangat berharap kemaafan dari Angel.
"Keluar dari kamar ini!, aku tidak ingin melihat wajah menyebalkan itu!, " Usir Angel dengan memalingkan wajah nya ke arah lain. Sebenar nya Angel lega dengan kebenaran yang sebenar nya sudah terungkap, namun Angel juga kesal dengan suami nya yang tidak mempercayai perkataan nya.
"Tapi aku ingin kau memaaf kan aku lebih dulu," Ucap Evan.
"Tidak! keluarlah. Keluar!," Tegas Angel yang memindah kan posisi nya duduk membelakangi suami nya tersebut. Ada pun Evan yang melihat hal itu pun sejenak terdiam memandangi punggung istri nya tersebut. Evan sebenar nya masih ingin memeluk Angel, namun melihat Angel yang marah pada nya. Dengan terpaksa ia memilih keluar dari kamar dan membiar kan Angel menenangkan diri nya.
__ADS_1
"Jika kau marah pada ku sekarang, tidak masalah. Aku akan keluar. Aku tau kesalahan ku tidak bisa termaaf kan." Evan berdiri dari duduk nya. Ia memilih untuk keluar dari kamar tersebut.
* * * *
Beberapa lama mengurung diri di dalam kamar, tiba-tiba perut nya yang sudah mulai terlihat sedikit membuncit tersebut terasa sangat lapar. Mengingat seharian ini, Angel memang tidak makan. Hal tersebut tentu membuat nya sangat kelaparan. Karena rasa lapar nya tersebut, membuat Angel tidak bisa tertidur malam itu.
"Apa kau sangat lapar, bayi?," Angel memegang perut nya dan mengelus nya dengan lembut.
"Maaf kan mami karena tidak memperhatikan mu seharian ini. Tapi sekarang mami akan memberi mu makan yang banyak," Ucap Angel dengan tersenyum menatap perut nya. Angel beranjak dan keluar dari kamar untuk mencari makan di dapur. Ada pun Evan, mendengar pintu kamar yang terbuka, lelaki itu dengan cepat keluar dari kamar nya.
"Mau kemana?," Tanya Evan sesampai nya di luar kamar dan terlihat Angel yang sedang menutup pintu. Ange tak membalas pertanyaan suami nya tersebut. Amarah nya pada Evan sampai saat ini masih belum reda dan aman. Angel berjalan begitu saja tidak memperduli kan pertanyaan dari suami nya tersebut.
"Sayang, mau kemana?," Ulang Evan yang ikut berjalan mengikuti Angel di depan nya. Sementara Angel tetap tidak membalas pertanyaan dari suami nya tersebut. Angel terus berjalan menuju arah dapur.
"Apa kau lapar?," Tanya Evan yang ikut berjalan memasuki dapur.
"Tolong jangan mengganggu ku. Pergi lah di hadapan ku," Angel berkata sembari membuka kulkas dan mengambil sayur dan ikan di dalam kulkas mereka.
"Biar aku yang memasak," Evan mengambil beberapa yang ada di tangan Angel. Namun sayang nya Angel mengambilkan kembali sayur dan ikan tersebut.
"Sayang, duduk lah. Biar kan aku yang memasak untuk mu dan juga calon anak kita," Tutur Evan dengan nada suara yang begitu lembut.
__ADS_1
"Calon anak kita?, apa aku tidak salah dengar?," Angel berpindah menuju wastafel untuk membersih kan ikan. Pun Evan hanya kembali terdiam.
"Sekali ini saja, biar kan aku memasak untuk kalian berdua sebagai penebusan rasa bersalah ku," Pinta Evan namun Angel tetap tidak mengizin kan nya.