My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Makan


__ADS_3

Makan


Setelah selesai memasak dan menata makanan diatas meja, Angelpun memanggil Evan untuk makan. Ia berjalan memasuki kamar mencari Evan. Sesampainya dikamar, terlihat Evan yang saat itu sedang terbaring di atas sofa sembari membaca buku. Angelpun berjalan menghampiri suaminya tersebut.


" Hemmm, Prof. Ayo makan, " ajak Angel, namun Evan hanya diam dan tidak menghiraukan keberadaan Angel didepanya.


" Apa prof masih marah padaku?, lama sekali marahnya. Seperti perempuan datang bulan saja. " Ucap Angel didalam hatinya. Angel berdiri dengan memperhatikan Evan.


" Prof, berhenti membaca buku. Ayo makan, " Angel mengambil buku ditangan Evan dan menutup buku tersebut.


" Apa prof tidak bosan setiap hari mempelajari isi buku?, sungguh hal membosankan. Apa prof tidak punya hoby selain membaca?, " tanya Angel. Tanpa disadari, lagi-lagi Angel berbicara dengan suaminya tanpa rem. Evan yang mendengarnya pun hanya diam memperhatikan Angel didepanya. Angel yang merasa diperhatikanpun akhirnya menghentikan ocehanya.


" Kenapa berhenti?, teruskanlah. Bukankah ocehanmu memang seperti air sungai yang mengalir tanpa disaring?. Teruskan, " ucap Evan.


" prof, aku tak bermaksud begitu " Angel menundukan kepalanya kebawah dihadapan suaminya.


" Aku sebenarnya hanya ingin meminta maaf. Tapi kenapa malah mengoceh lagi. Kenapa mengatakan maaf sangat sulit. " ucap Angel didalam hatinya.


" Sudah berapa kali kau mengatakan tidak bermaksud padaku?. sudahlah, " Evan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar untuk makan. Pun Angel juga ikut keluar kamar untuk makan. Sesampainya diruang makan, keduanya pun makan dengan tenang. Yang terdengar hanya suara dentuman sendok dan piring. Tak ada suara yang terdengar diantara keduanya. Mereka menyelesaikan makan siang dengan tenang, dan setelah selesai, keduanyapun memilih untuk tidur untuk beristirahat.


* * * *


Siang berganti, bulanpun menampakan sinarnya. Malam itu Angel terlihat sibuk merapikan lemari bajunya yang sedikit berantakan. Sementara ditempat lain, diatas sofa. Seorang laki-laki duduk dengan memperhatikan Angel dengan wajah datarnya. Laki-laki tersebut tak lain ialah Evan, suami sekaligus seorang dosen Angel. Evan duduk menyandarkan kepalanya dikepala sofa dan memperhatikan Angel yang sibuk didepan lemari.


" Prof, berhenti melihatiku. Aku tak nyaman di lihati begitu, " Angel menghentikan perkerjaan sejenak dan mengalihkan pandanganya ke Evan. Sedari tadi Angel memang menyadari jika Evan memperhatikanya.

__ADS_1


" Kenapa tidak boleh melihatmu?, ini mataku. Jadi bukan urusanmu aku melihat, " ucap Evan.


" Aku tau itu matamu. Tapi jangan memperhatikanku. Aku tidak nyaman jika terus diperhatikan, " Angel kembali merapikan pakaianya dan meletakanya didalam lemari.


" Memang ada ayat yang mengatakan berdosa memperhatikan istri sendiri?, kamu sungguh lucu " Evan tersenyum miring ke Angel. Angel yang mendengarpun hanya terdiam dan tak menghiraukan lagi.


" Baiklah. Lakukan saja sampai kedua mata Prof katarak, " ucap Angel.


" Apa kau sekarang sedang menyumpahi ku?, " tanya Evan.


" Tidak prof. Silakan lakukan apa yang ingin kau lakukan, " jawab Angel. Ia tak ingin berdebat lagi, beberapa hari ini sangat melelahkan bagi Angel. Itulah mengapa ia lebih memilih untuk mengalah dengan suaminya.


" Jadwal kuliahmu besok jam berapa?, " tanya Evan.


" Tidak. Aku tidak ada jadwal, " jawab Evan sembari merubah posisinya dari bersandar ke berbaring.


" Oo, apalah daya kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi, kuliah sesuai jadwal tanpa ada libur " Angel berjalan menghampiri Evan dan duduk dipinggiran sofa.


" Apa hebatnya libur?, dasar aneh. " Evan menggeleng-geleng dengan heran. Ia tak mengerti mengapa Angel terdengar sangat menyukai hari libur.


" Prof yang sangat mencintai belajar mana paham hari libur, " gumam Angel sembari mengambil ponselnya diatas meja dan membaca chat wa dari teman-temanya.


" Besok sehabis pulang kuliah jalan-jalan dulu yuk?, " begitulah isi chat wa dari Bara. Bara ialah seorang mahasiswa jurusan kimia yang kebetulan satu kampus dengan Angel. Bara ialah laki-laki tampan yang cukup populer dikalangan mahasisiwi. Selain tampan, Bara juga kaya, ia merupakan pemilik kebun karet terluas kedua di indonesia. Awal Angel mengenal Bara ialah disaat Angel masih semester 1 awal kuliah. Mengingat saat itu Bara sedang dikerumuni oleh banyak mahasiswi yang meminta no wa nya, hampir seluruh mahasiswi menyukainya. Terkecuali Angel. Disaat mahasisiwi sibuk mendekati Bara, berbeda dengan Angel yang hanya duduk membaca buku di taman kampus tanpa peduli dengan kehebohan mahasiswi lain yang mengerumuni Bara di lapangan yang jaraknya dekat dengan Angel ditaman. Hal tersebutlah yang membuat Bara heran, bagaimana bisa seorang gadis itu tak peduli dengan dirinya sementara mahasiswi lainya sibuk mengejarnya. Mulai dari situlah Bara mulai mencari tau tentang Angel melalui teman-teman dekat Angel dan akhirnya dekat dengan Angel. Butuh waktu berbulan-bulan Bara mendekati Angel dan akhirnya perjuanganya membuahkan hasil. Angel mulai mau berbicara dengan Bara dan mulai membalas pesan yang dikirim oleh Bara.


" Kemana?, ajak yang lain juga Bar jangan aku aja " balas Angel.

__ADS_1


" Iya. Tenang, aku udah ajak teman kamu si Vani juga ikut " jelas Bara. Tanpa berfikir panjang, Angelpun mengiyakan.


" Oke. Besok sekalian jemput aku dan Vani kekampus, kami berdua nebeng hehe, " Angel mengirim pesan tersebut sembari tersenyum. Angel tersenyum begitu lama memperhatikan layar ponselnya tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikanya didepanya.


" Kamu berbalas pesan dengan siapa?, " tanya Evan. Angel yang menyadari pertanyaan suaminya pun mengalihkan pandanganya.


" Tidak ada. Prof, besok tidak kekampus mengajarkan?, " tanya Angel.


" Tidak. Tapi aku tetap akan mengantarmu, " jawab Evan.


" Prof, besok tak perlu mengantarku. Aku besok akan berangkat dengan teman-temanku, " tolak Angel, sembari memainkan layar hanponenya. Evan yang mendengarpun memandangi Angel dengan heran.


" Siapa yang menjemputmu?, " tanya Evan.


" Teman-temanku prof, aku pulang juga tidak perlu dijemput. Temanku akan mengantarkan aku pulang, " jelas Angel, sembari merebahkan dirinya bersebelahan dengan Evan. Namun ketahuilah jarak antara dirinya dan juga suaminya berjarak antara sabang dan maraoke dan juga didindingi dua bantal ditengahnya. Evan yang melihatpun hanya bisa memperhatikan saja.


" Apa sangat perlu kamu memberi jarak? apa kamu kira aku akan memintanya?, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku belum kepikiran memintanya, " Evan tidur membelakangi Angel. Begitupun Angel yang membelakangi Evan.


" Resiko menikahi bocil. Tak ada dewasanya sama sekali, " Evan mendengus perlahan. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya yang menurutnya sangat kekanakan.


" Walaupun bocil, aku cantik prof " ucap Angel dengan bangga. Evan yang mendengarpun tanpa sadar tersenyum.


" Mana bisa mengaku cantik tanpa diakui oleh mata orang lain, " gumam Evan.


" Tidak perlu pengakuan dari orang lain. Semua perempuan memang terlahir cantik. Jika perempuan terlahir ganteng itu namanya transgender, " ucap Angel, ia tertawa dengan cecekiakan. Sementara Evan hanya diam tanpa membalasnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2