My Husband Cold Lecturer

My Husband Cold Lecturer
Kedatangan William


__ADS_3

Kedatangan William


"Prof, percayalah pada ku untuk terakhir kali nya. Tolong percayalah," Angel berjalan perlahan mendekati suami nya yang saat sedang duduk di tepian sofa di dalam kamar. Angel mencoba menenangkan suami nya.


"Pergilah! aku tidak ingin melihat wajah sok suci mu itu lagi. Jangan mendekati ku!," Tegas Evan dengan duduk membelakangi Angel. Evan berulang kali menarik nafas nya berulang kali mencoba meredam amarah nya.


"Prof dengar kan aku. Kau harus percaya pada ku," Ucap Angel dengan lirih.


"Keluar dari sini! apa kau tuli!," Teriakan Evan terdengar begitu menggema di dalam kamar. Ia masih duduk dengan membelakangi Angel. Angel begitu terkesiap mendengar teriakan suami nya tersebut. Ia sangat terkejut. Angel terdiam tidak bergeming. Ia menatap punggung suami nya dengan penuh pengharapan agar Evan percaya pada nya.


"Kau aku cer...," Belum selesai Evan berkata, Angel dengan cepat bersimpuh di hadapan suaminya memohon agar Evan tidak melanjutkan pembicaraan. Angel menangis dengan memeluk erat kaki lelaki di hadapan nya itu.


"Jangan katakan itu prof. Kau akan menyesali. Pikir kan calon anak kita," Ucap Angel dengan memeluk kaki suaminya. Angel benar-benar bersimpuh di hadapan Evan. Memohon agar Evan tidak melanjut kan perkataan nya.


"Anak kita?, apa kau sedang berdrama lagi?, kau kira aku akan mempercayai mu?, tidak akan!," Evan berdiri dan melepaskan kaki nya dari pelukan Angel. Kali ini Evan benar-benar memperlakukan Angel dengan sangat tidak berperasaan sama sekali. Di saat ingin melanjutkan pembicaraan nya lagi, tiba-tiba terdengar seseorang yang dari luar memanggil Evan. Seseorang tersebut berlari masuk ke kamar begitu saja dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Evan..Evan kau perlu tau ini!," Seseorang tersebut berbicara dengan menatap Evan dan Angel bergantian. Seseorang tersebut tak lain ialah William. Melihat keadaan yang ada sekarang ini, ia menyadari jika teman nya itu bersama istrinya sedang tidak baik.


"Jangan mengganggu William. Apa pun katakan nanti. Jangan asal masuk ke kamar!," Ucap Evan dengan suara yang meninggi.


"Apa yang kau lakukan dengan istri mu?," Tanya William dengan melihat ke arah Angel yang masih menangis di lantai.

__ADS_1


"Bukan urusan mu. Ini urusan aku dan dia. Kau keluar lah dari kamar," Evan mendorong tubuh William keluar dari kamar. Namun William menahan tubuhnya untuk tetap di sana. William menghempaskan tangan teman nya tersebut dengan kasar.


"Tenangkan diri mu! ada sesuatu yang penting mengenai permasalahan mu ini!," Teriak William yang ikut tersulut amarah dengan lelaki di hadapan nya.


"Apa maksud mu?," Tanya Evan.


"Tenang kan amarah gila mu itu. Dengar kan aku!," Kesal William. Ia menarik lengan Evan keluar dari kamar dan membawa nya menuju ruang tengah apartemen. Sementara Angel hanya terdiam dan menangis di dalam kamar. Ia sebenar nya ingin keluar mengikuti Evan namun Evan malah mengunci pintu kamar tidak membiar kan Angel keluar dari kamar tersebut.


"Apa yang ingin kau katakan?," Tanya Evan dengan melepaskan tangan William dari lengan nya.


"Apa yang kau lakukan pada istri mu?, apa kau sudah gila. Bagaimana bisa kau menghakimi nya sementara kau tidak mencari kebenaran yang sebenar nya hah?," Maki William. Ia sangat marah dengan Evan.


"Apa yang sedang ingin kau katakan cepat katakan. Apa kau ingin menjadikan wanita itu pelacur mu juga?,"


Mendengar perkataan Evan, tanpa sadar William melayangkan tamparan dengan keras di wajah teman nya tersebut. Bagaimana bisa Evan berpikir begitu tentang nya. Walau pun William seorang yang suka bermain dengan wanita, namun William tidak pernah merebut wanita dari teman nya. Apa lagi wanita tersebut sudah sah menikah.


Setelah menerima tamparan dari William, Evan hanya terdiam dengan menatap William di depan nya dengan kedua mata yang seperti ingin membunuhnya. Suasana terlihat begitu menyeramkan.


"Jaga bicara mu!, aku kemari untuk membantu mu. Apa kau tau yang sebenar nya mengenai istri mu?, tentu saja kau tidak tau. Sebab kau lebih mempercayai orang lain dari pada istri ku sendiri," Seru William dengan menunjuk Evan di hadapan nya dengan jari telunjuk.


"Apa maksud ku?," Tanya Evan.

__ADS_1


"Tenang kan diri mu. Duduklah. Aku akan mengatakan kejadian yang sebenar nya," William mendudukkan tubuh nya sembari menarik benda pipih di dalam saku Jaz hitam nya. William memang baru pulang dari perusahaan dan langsung menuju apartemen Evan hanya untuk memperlihatkan Evan sesuatu. Ada pun Evan yang melihat keseriusan dari teman nya tersebut, memilih untuk duduk dan mendengar kan. Walau sebenar nya ia enggan mendengar kan apa yang ingin di katakan William namun memaksakan diri untuk harus mendengarkan.


"Istri mu mengatakan hal yang sebenar nya pada mu. Dia tidak tidur dengan lelaki bernama Bara itu. Ini semua sudah di rencana kan oleh Vina dan Bara. Sadar Evan," Tutur William yang memegang bahu Evan.


"Kau tau dari mana?," Tanya Evan dengan serius. Kali ini Evan bertanya dengan nada yang sudah kembali normal.


"Aku meminta teman ku di sana mencari tahu hotel tempat Angel di bawa. Di sana ia bertemu dengan seorang pelayan hotel yang menceritakan segala nya. Pelayan tersebut yang tau persis kejadian nya karena dia lah yang menjaga Angel hingga istri mu tersebut tersadar," Jelas William. Evan yang mendengar nya pun begitu terkesiap. Evan tercenung beberapa saat sembari menatap ke arah William.


"Di mana pelayan tersebut?," Tanya Evan.


"Aku akan menghubunginya melalui Vidio. Kau berbicara lah dengan nya langsung." William menghubungi wanita pelayan hotel tersebut.


"Ini." William memberikan handpone nya ke Evan di saat panggilan tersebut tersambung. Evan mulai berbicara dan bertanya. Seorang wanita muda tersebut menjelaskan semua nya yang terjadi dengan kejadian malam itu. Sebelum panggilan berakhir, ia juga mengirim kan sebuah Vidio yang sempat ia rekam di luar pintu di saat malam kejadian tersebut. Ternyata di malam itu wanita itu merekam Vidio tersebut karena pada saat itu ia curiga dengan Bara yang sengaja memberikan Angel Wine yang sedikit meminum nya langsung membuat mabuk dan tak sadar. Apa lagi Angel sama sekali tidak pernah menyentuh minuman yang memabukkan.


"Tuan, jangan lupa membayar ku. Aku sudahemberitahu semua nya," Ingat wanita muda tersebut ke William. William pun mengiyakan dan mematikan panggilan.


"Mana Vidio nya?," Evan merebut handphone di genggaman William dan membuka Vidio yang sempat di kirim kan oleh wanita pelayan tersebut. Ia menonton nya bersama William. Melihat pa yang sebenar nya terjadi di dalam Vidio tersebut.


"Apa kau perlu kaca mata untuk melihat nya lagi?," Tanya William yang mengambil paksa handpone di tangan Evan. Sementara Evan hanya terdiam. Ia kembali teringat dengan apa yang ia lakukan pada Angel selama ini.


"Seharus nya aku mempercayai nya," Gumam Evan dengan menatap kosong di depan nya.

__ADS_1


"Selesaikan masalah ku. Aku harus pulang. Seharian ini aku tidak makan karena masalah mu itu." William berdiri dan menepuk bahu Evan. Karena ikut perihatin dengan masalah yang di hadapi teman akrab nya tersebut, membuat William tidak bisa diam saja. Mengingat tempramen teman nya yang ketika marah tidak bisa mengendalikan diri nya dan hanya mengandal kan amarah nya saja, membuat William harus turun tangan membantu nya. Seharian ini William mencari tau kejadian yang sebenar nya terjadi dengan Angel. William menghubungi para tamu yang hadr malam itu dan juga para pelayan. Setelah itu ia juga harus bernegosiasi dengan pelayan wanita tersebut untuk memberitahu kebenaran nya. Hal itu di lakukan William dengan susah payah. Ia harus mengeluar kan banyak uang hanya untuk meminta pelayan wanita tersebut memberitahu kejadiannya.


William keluar dari apartemen teman nya tersebut. Ada pun Evan, lelaki itu hanya terduduk dengan penyesalan. Ia menyesali perbuatan nya. Ia menyesal karena tidak mempercayai istri nya sendiri. Bahkan ia hampir saja mengatakan cerai pada Angel.


__ADS_2