
Skala mulai mengerutkan keningnya. Dia merasa kesal dengan kelakuan hantu berdua ini. Ingin sekali Skala menampol wajah kedua hantu ini. Namun itu tentu saja tidak bisa ia lakukan, mengingat ada Radit yang sedang berjalan di belakang nya.
Skala terus diam sambil menarik nafas panjang. Menunggu momen yang tepat untuk memberi pelajaran pada kedua hantu ini.
"Hmmm Firasat ku mengatakan kalau jangan-jangan ini adalah usaha Skala untuk mengusirkan dari lantai ini!!!!" Rutuk Miss K, dan menatap sewot ke Skala.
"Kalau dia benar ! Dia pasti ingin mengusir kita semua! Kita harus segera melaporkan hal ini pada tuan Aether! Jadi dengan begitu kita bisa terlebih dahulu harus mengusir orang-orang yang dibawanya." Si hantu nenek-nenek sedang menekan setiap katanya di telinga Skala.
Setelah mengatakan hal tersebut kedua hantu itu pun menghilang. Sudah dapat di pastikan kalau kedua hantu itu pergi mencari Aether.
“Cih! Pasti pada ingin melapor pada Aether! Laporkan saja! Aku tidak takut degan malaikat maut sengklek itu.” Gumam Skala dalam hati.
"Ada apa Pak?" Tanya Radit saat Skala tiba-tiba menghentikan langkah nya mendadak di depan Radit.
__ADS_1
"Heemm, tidak ada apa-apa! tadi hanya ada nyamuk yang terus berdenging di telinga ku sejak tadi." Ucap Skala, dan melihat ke arah Radit. "Tapi sekarang sudah menghilang."
"Nyamuk? Di gedung semahal ini? Kau pasti bercanda Pak."
"Terserah, kau percaya atau tidak. Radit.”Sebut Skala. “Ayo kita sudah dekat. Di depan sana adalah apartemen ku. .." tunjuk Skala ke sebuah pintu yang ada di ujung lorong.
"Baik, Pak." Radit pun mempercepat langkah kaki nya.
“Masuklah...” Skala membukakan pintu dan mempersilahkan Radit untuk masuk.
Mata Radit langsung terperangah dengan apa yang ada dia lihat saat ini. Jika di lorong-lorong yang mereka lewati tadi hanya di terangi dengan lampu-lampu dengan penerangan seadanya. Maka sangat berbeda keadaan nya dengan apa yang Radit lihat di dalam apartemen nya Skala.
Bagian dalam apartemen ini benar-benar sangat bertolak belakang dengan keadaan di lorong. Lampu menyala dimana-mana. Bahkan tidak ada satu tempat pun di dalam apartemen ini yang kekurangan cahaya. Semua nya sangat terang. Saking terang nya mata pun bisa sakit jika menatap terlalu lama pada sebuah titik.
__ADS_1
“Ayoo tunggu apa lagi? Masuk lah! Anggap rumah mu sendiri.” Skala yang sudah ada di dalam apartemen nya kembali menyuruh Radit untuk masuk sebab sedari tadi Radit hanya diam mematung semenjak melihat keadaaan dalam apartemen Skala.
Tapi lagi-lagi Radit hanya diam tidak bergerak.
“Ini anak kenapa? Tidak mungkin dia shock melihat semua cahaya ini kan??” Seru Skala dalam hati yang teringat kata-kata Aether kalau Skala terlalu berlebihan memasang begitu banyak lampu di dalam apartemen nya.
Tapi hal ini bukan tanpa alasan Skala lakukan. Skala terpaksa memasang banyak sekali lampu untuk membuat pembeda antara wilayah nya dan wilayah Aether.
Selain ruangan kantor yang harus menjadi shared room nya dengan Aether, lantai ini pun harus dia bagi dengan Aether. Dan lebih parahnya, di lantai ini kekutan Aether sangat besar. Itu lah sebab nya lampu-lampu di sepanjang lorong tadi menjadi remang, bahkan terkadang ada yang mati dan ada pula berkedip-kedip. Itu semua karena aura kegelapan sangat pekat disana..
“Hei?! Kau jadi masuk atau tidak? kalau tidak aku akan menutup pintu ini dan kau bisa tidur di lorong yang remang-remang itu jika kau mau!” ucap Skala setelah menepuk bahu Radit.
“Hah? Tentu saja tidak pak! Mana kuat jantung saya tidur bareng jurig di luar sana!” jawab Radit, yang langsung feeling kalau di sepanjang lorong yang mereka lewati tadi penuh dengan setan jurig nya.
__ADS_1