
Mia yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sendiri. "Ups!! Sorry aku lupa! hehehehee" seru nya sambil menutup mulutnya. Dia tidak menyangka kalau dia membuat Maria merasakan kehadirannya.
“Angin?” Rain melihat ke sekeliling kamar Mia. “Semua jendela di sini tertutup. Bagaimana ada angin yang bisa masuk?” ujar Rain dalam hati.
“Iya, benar Rain! Aku merasakan ada semilir angin menembus diri ku!! Apa kau tidak merasakannya?” tanya Maria penasaran, apakah hanya diri nya yang merasakan angin tersebut.
“Aku rasa kau sedang tidak sehat Maria. Sebaiknya kau kembali saja ke rumah mu.” Ujar Rain yang khawatir dengan kondisi Maria. Mungkin saja Maria terlalu shock karena melihat kondisi Mia yang seperti tadi.
“lalu, bagaimana dengan Mia?” tanya Maria. Bila dia harus pergi, lalu siapa yang menjaga Mia? kalau seandainya Rain yang akhirnya akan menjaga Mia maka Maria merasa lebih baik jika dia tetap ada disini.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan diri ku Maria! Aku ada disini untuk menjaga tubuh ku itu!!” Ungkap Mia, tepat di depan Mia. Untuk sesaat Mia lupa akan Skala. Mungkin karena dia terlalu senang dapat bertemu tubuh nya, keluarga nya serta tunangan dan sahabat nya. Dia lupa kalau Skala tidak landing di tempat itu bersama nya.
“Kau tenang saja, Aku akan panggilkan perawat untuk menjaga Mia.” Ujar Rain dari belakang Mia yang saat ini tengah berdiri di antara Artur dan Maria.
“Nah kau dengar sendiri kan Maria? Rain akan meminta perawat untuk menjaga ku. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Timpal Mia dengan polosnya.
__ADS_1
Mia benar-benar mengira bahwa setelah Rain pergi maka Maria akan menjaga tubuh Mia yang terbaring di atas ranjang itu.
Maria pun menyetujui usulan dari Rain, dalam hati Maria sebenarnya sangat senang sebab dia tidak harus duduk bengong di kamar ini sendirian.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke rumah ku.” Ucap Maria lembut.
“Ya, sebaiknya begitu.” Timpal Rain.
Rain pun menelpon ke tempat tinggal pada dokter yang bersebelahan dengan kamar Mia. Dia meminta seorang perawat untuk menjaga Mia di kamarnya sebab ia dan Maria tidak akan berada disana.
“Maaf kan aku Rain. Padahal tadi aku sudah mengatakan bahwa aku bersedia untuk menjaga Mia. Tapi malah aku yang pergi lebih dulu.” Ungkap Maria plus tidak lupa dengan ekspresi sedih yang membahana.
Rain mengelus kepala Maria seperti yang sering ia lakukan pada Mia sebelum Mia jatuh koma.
“Kau tidak harus mengesampingkan kesehatan mu.” Ucap Rain sambil tersenyum.
__ADS_1
Hati Mia tiba-tiba terasa sakit sebab melihat Rain kembali memperlakukan Maria sama seperti apa yang biasa Rain lakukan padanya. “Kau harus positif thinking Mia. Mungkin mengusap-usap kepala cewek memang sudah kebiasaan dari Rain.” Gumam Mia sambil tersenyum kecut. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan saat ini. Menarik tangan Rain? Huft, jangan kan untuk menarik tangan Rain, untuk mengatakan JANGAN saja merupakan hal yang percuma.
Maria yang dielus kepala nya oleh Rain merasa sangat senang. “Benar kata pepatah, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Secara berlahan aku akan dapat menarik diri mu seutuhnya untuk menjadi milik ku Rain.” Gumam Maria dalam hati sambil tersenyum pada Rain.
Sementara itu sang gadis hologram, siapa lagi kalau bukan Mia hanya bisa bengong menyaksikan semua itu.
Setengah dari hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu antara Maria dan Rain. Sementara setengah hati nya yang lain mengatakan Mia tidak perlu terlalu bernegatif thinking, hal ini hanya sebuah adegan biasa saja.
Toh ini bukan lah sebuah adegan hot yang harus dia cemburui.
Toh mereka kan tidak ciuman atau sebagai nya. Jadi Mia, please jangan terlalu lebay dalam menanggapi hal ini.
🥲🥲🥲
Masih positive ya Mia...😵💫😵💫😵💫😵💫
__ADS_1
Bentar lagi Mia...bentar lagi!