
BAB 41
“Lebih baik aku mati penasaran dari pada bertanya pada nya! Eh tapi bukan nya aku sudah mati ya???” Mia jadi pusing sendiri. Mia pun akhir lebih memilih untuk tidak melakukan nya. Laki-laki yang ada disebelah nya ini adalah laki-laki yang sangat menyebalkan. Jadi mengurangi interaksi dengan laki-laki ini jauh lebih baik.
“Jangan katakan kalau kau berpikir jembatan jiwa yang dikatakan oleh Aether tadi benar-benar sebuah jembatan?” Tiba-tiba Skala mengajak Mia untuk bicara.
“Kau tidak perlu tertawa seperti itu!! Bahkan jika benar aku mengira jembatan jiwa adalah sebuah jembatan.” Sungut Mia sambil memanyunkan bibirnya.
Mia merasa sangat bodoh di hadapan Skala saat ini. Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau jembatan jiwa itu ternyata bukan sebuah jembatan jika Skala dan Aether tidak menjelaskan apapun pada nya. Bagaimana pun dia kan hantu baru, jadi wajar toh kalau dia berpikir jembatan jiwa yang mereka bicarakan tadi adalah sebuah jembatan.
Seperti orang yang mengatakan akan pergi ke Mall, tentu di dalam pikiran orang yang mendengarkannya pasti tempat yang di tuju adalah mall, tempat orang untuk menjual dan membeli barang. Lagian, siapa sih yang sedemikian kurang kerjaan menamai sebuah tempat dengan nama jembatan jiwa. “Aaaaah!! Semakin aku pikirkan, aku jadi semakin pusing.” Teriak Mia dalam hati.
__ADS_1
“Jembatan jiwa itu bukan lah sebuah jembatan. Itu adalah nama sebuah tempat penyebrangan di sebuah kampung yang telah ditinggalkan oleh masyarakat nya.” Kata Skala sambil terus menyetir.
“Mengapa mereka menamai tempat itu dengan nama jembatan jiwa, aku sendiri pun tidak tahu. Yang aku tahu para hantu menyebut tempat itu dengan nama jembatan jiwa.” Jelas Skala pada Mia. Dia mulai merasa kasihan melihat Mia yang sudah mulai pusing dengan semua istilah ini.,
“Ooo.. begitu rupanya.” Ucap Mia sambil manggut-manggut.
“Apa kau sudah pernah kesana Skala?” tanya Mia penasaran apakah Skala sudah pernah kesana atau belum.
“Untuk apa kau kesana?” Mia yang tidak tahu apa yang dirasakan Skala saat itu terus saja mengajukan pertanyaan untuk memenuhi rasa ingin tahu nya.
“Itu bukan urusan mu.” Jawab Skala dengan nada datar.
__ADS_1
Mia pun melirik sekilas pada Skala,”huft dia kenapa dia menjadi kesal?” Sungut Mia, dan kembali melihat ke kiri dan ke kanan just for killing time.
Percakapan nya dengan Mia barusan membuat teringat kedatangan nya ke jembatan Jiwa tahun lalu. Ya, Skala memang pernah pergi pintu akhirat itu. Semua itu dia lakukan demi sang kakak yang jiwa nya ditawan oleh penghuni jembatan Jiwa tersebut. “Apakah bisa ketemu nanti kak?”Seru Skala dalam hati sambil melihat ke arah Mia.
Setelah hampir menempuh perjalanan dengan mobil hampir empat jam lamanya akhirnya Skala dan Mia sampai di depan sebuah desa. Dan mobil Jeep itu pun berhenti disana.
“Turunlah. Kita sudah sampai.” Ujar Skala pada Mia yang terlihat sibuk melihat ke sekeliling tempat itu dari dalam mobil.
“Apa ini desa yang kau katakan tadi Skala?” Mia merasakan hawa-hawa yang berbeda di tempat ini. Suasana desa ini sungguh mencekam membuat bulu roma nya berdiri tanpa instruksi. Padahal dia akan hantu ya? Tapi memang begitu ada nya, suasana di tempat itu sungguh horor.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Ingat boom like minimal 20 like.. supaya kak Upe semangat ini up ny🤭🤭 makasih...itu yang baca doang tanpa like dan komen...pelit benar engkau kisanak 🔪🔪🔪🔪