
"Pak!!" Panggil Radit dan berlari menyamai langkah kaki Skala.
"Pak! Hemm.. apa aku boleh malam ini boleh menginap di rumah mu?" Tanya Radit dari belakang. Sebetulnya dia sangat tidak enak meminta untuk menginap di rumah Skala. Namun dia sangat takut untuk mengemudi sendirian ke rumah nya.
Skala menghentikan langkahnya. Dan melemparkan sebuah kunci apartemen nya ke Radit. Itu kunci apartemen ku, kau yang pegang..!" Ujar Skala, lalu melanjutkan langkahnya.
"Kunci apartemen? Hmm bukan nya kau tinggal di sebuah apartemen pak? Kenapa kau malah memberikan ku kunci apartemen mu??? Apa ini maksud apartemen ini untuk ku pak? Waaaaaah Kau baik sekali Pak!" Seru Radit bahagia mengira kalau Skala berbaik hati meminjamkan apartemen pribadi Skala untuk Radit.
“Jangan berhayal terlalu tinggi Radit!! Aku tidak lah sebaik yang kau kira!” Sebut Skala langsung membuyarkan hayalan tingkat tinggi yang baru saja membuat hidup Radit bahagia.
“Baru saja aku berhayal akan bisa tinggal di sebuah apartemen mewah! Eeeeeeh kau langsung membuat ku sadar kalau itu hanya lah mimpia di tengah malam. Eh benar! Ini sudah tengah malam. Ayoo pak kita cepat-cepat keluar dari gedung ini! Seram ini mah!” Sebut Radit langsung bergidik ngeri teringat mereka masih di kantor saat ini.
“Radit-Radit! Sudah tahu tengah malam malah keasikan ngobrol ama pak bos!!” Gumam radit dalam hati.
“Jadi malaih ingin nginap di tempat ku atau tidak?” tanya Skala.
“Ya masih dong pak! Hehehe.. pak Skala makasih banyak ya?? Paling tidak malam ini aku tidak harus pulang sendirian pak.” Sebut Radit penuh rasa syukur dapat menginap di tempat bos nya.
Skala tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih Radit. Radit tidak tahu bahwa keputusan nya untuk menginap di apartemen Skala adalah sebuah keputusan yang akan disesali seumur hidupnya.
Skala sudah membayangkan bagaimana Radit akan melewati malam ini di apartemennya.
"Ini bukan salah ku. Dia sendiri yang meminta untuk menginap." Ujar Skala, tertawa dalam hatinya.
Sesampainya di depan lift, Radit bergidik bingung "Heemm.. kenapa kau menekan tombol ke lantai atas ya Pak?"
__ADS_1
Bukan nya menjawab pertanyaan Radit, Skala malah masuk ke dalam lift.
“Apa bos mau mengambil sesuatu dulu ke atas baru pulang?” tanya Radit bingung saat bos nya malah masuk tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Hemm.. " Jawab Skala singkat namun tidak menjawab apa yang sebenarnya Radit tanyakan.
Setelah beberapa lama di dalam lift, akhirnya pintu lift itu pun terbuka.” Tempat apa ini?” tanya Radit dalam hati saat melihat lorong panjang di depannya. Sebuah lorong panjang dengan lampu-lampu lorong yang tidak terlalu terang.
"Pak Skala, ini tempat apa ya? Kok seram banget ya tempat nya?" Radit berusaha memperbaiki suasana hatinya dengan mengajak Skala berbicara.
"tempat ini ya tempat tinggal aku! Apartemen ku memang ada di atas gedung ini!!" Skala menatap Radit dengan wajah datar."Apa kau ada masalah tentang hal ini Radit??."
"hah? Apa kau bilang pak? Kau tinggal di sini? DI tempat yang seram ini? Kau tidak sedang bercanda kan pak Skala???” Seketika itu juga Radit merasa seluruh tulang-tulang nya melemas. Jujur saja, dia memutuskan numpang di kediaman bos nya karena dia takut pulang sendirian.
Tapi kalau ternyata tempat tinggal si bos semenyeramkan ini? Radit mah ogah numpang di apartemen bos nya! Mending dia pulang pakai grab aja biar ada teman.
“Di apartemen mu ini pasti kamar nya hanya ada satu kan pak Skala? Heem... aku pikir, sebaik aku pulang saja! Aku lupa kalau aku tidak bisa berbagi tempat tidur dengan orang laini.” Radit auto balik kanan. Dia merasa kalau diri nya tidak akan sanggup jika harus menginap di tempat bos nya itu.
“Lorong nya aja semenyeramkan ini apalagi apartemen nya? Jangan-jangan tu apartemen sarang nya jurig!” Seru Radit dalam hati.
Namun usaha melarikan diri Radit sudah pasti di jamin gagal karena Skala dengan cepat menahan kerah baju Radit. "Kata siapa kita akan satu kamar! Apartemen ku itu sangat luas Radit! Kau tenang saja, sda banyak kamar di apartemen ku ini. Kau boleh pilih satu sebagai kamar mu." Ujar Skala, menatap ke kiri dan ke kanan melalui ujung matanya. Lalu menutup kedua matanya.
“Mereka lagi- mereka lagi!” Seru Skala dalam hati saat makhluk-makhluk penghuni lantai itu mulai bermunculan.
“Ayoo! Tidak baik lama-lama berdiri disini. Kau tidak lupakan kalau ini sudah tengah malam.” Ujar Skala sengaja menakut-nakuti Radit agar Radit segera melanjutkan langkah kaki nya yang sampat berhenti tadi.
__ADS_1
“Baiklah pak Ska.” Jawab Radit lemas.
Skala dan Radit pun mulai berjalan melewati lorong- lorong panjang dengan pencahayaan nya yang biasa-biasa itu. Radit yang tadi nya berjalan di belakang Skala. Kini berangsur-angsur semakin dekat dengan Skala.
“Pak, ini kenapa lampu-lampu di lorong ini pada remang-remang kayak gini? Apa perusahaan kita sudah tidak sanggup bayar listrik lagi ya pak?” tanya sambil mepet ke Skala.
“Aku suka saja lampu yang remang-remang seperti ini !That’s it. “ Lalu Skala diam dan terlihat fokus melihat ke depan seolah-olah Skala sudah tidak ingin berbicara apa-apa lagi.
Suasana pun kembali menjadi hening. Radit tidak lagi bertanya apapun pada Skala usai jawaban terakhir yang Skala berikan tadi.
"Hei!! siapa dia!!" Terdengar suara berbisik di telinga kanan Skala.
"Apakah dia asisten mu yang baru?" Tanya wanita dengan kepala terbalik yang berjalan di loteng.
Skala tetap diam, dia pura- pura tidak mendengarkan perkataan kedua hantu yang sudah mengganggu kiri dan kanannya.
"Apa kau menawarinya untuk tinggal di apartemen ini bersama mu?" Tanya hantu tersebut yang kini sambil melayang di sebelah kanan Skala.
" Miss K, Skala sepertinya tidak akan menjawab semua pertanyaan mu!!Lihatlah dia seperti tidak mendengar kita berdua!" Gerutu hantu nenek itu yang kini ikut- ikutan melayang sebelah kiri Skala.
"Apa dia berencana untuk mengajak manusia untuk tinggal disini!" Ucap si Miss K, kepada si hantu nenek tepat di samping wajah Skala.
"Entahlah! Tapi memang nya tuan Aether akan setuju dengan hal itu? Secara itu kan apartemen mereka berdua! Bukan apartemen dia saja!" jawab si hantu nenek-nenek tepat disamping kiri wajah Skala.
Skala mulai mengerutkan keningnya. Dia merasa kesal dengan kelakuan hantu berdua ini. Ingin sekali Skala menampol wajah kedua hantu ini. Namun itu tentu saja tidak bisa ia lakukan, mengingat ada Radit yang sedang berjalan di belakang nya.
__ADS_1
😶🌫️😶🌫️😶🌫️
mohon maaf... kak Upe juga ikutan sembunyi ini... ntar kak Upe bilang jangan bayangin...semua pada ngebayangin lagi🤭🤭