
“Apa ini desa yang kau katakan tadi Skala?” Mia merasakan hawa-hawa yang berbeda di tempat ini. Suasana desa ini sungguh mencekam membuat bulu roma nya berdiri tanpa instruksi. Padahal dia akan hantu ya? Tapi memang begitu ada nya, suasana di tempat itu sungguh horor.
“Heem.. cepat lah turun. Sebab kita masih harus berjalan kaki beberapa jam menuju jembatan Jiwa. Kita harus sampai di tempat itu sebelum jam tiga sore. Kecuali jika kau punya cadangan nyali untuk berjalan di malam hari.” Ucap Skala, kembali memandang rendah tingkat keberanian yang dimiliki oleh Mia.
“Kau!!! Mulut mu itu sungguh senang merendahkan orang lain Skala!!!!” Seru Mia sambil menunjuk Skala dengan jari telunjuknya. Dia tidak terima jika kelemahannya selalu dibaca-baca oleh Skala.
“Aku hanya berkata sesuai dengan apa yang aku lihat.”jawab Skala dengan gampangnya. Dia tidak merasa bersalah telah merendahkan Mia. “aku tidak ingin kau kembali memeluk ku saat kau merasa ketakutan.” Ujar Skala dan langsung keluar dan meninggalkan Mia yang masih terlihat kesal pada nya.
“Kau!!!” Mia tidak bisa melanjutkan menyelesaikan umpatannya pada Skala karena Skala sudah keburu keluar dari mobil itu.” Bukan nya sudah tugas seorang suami untuk melindungi istri nya? Bagaimana pun aku kan istri nya sekarang! Istri setan nya!” Mia terus mendumel sambil melangkah keluar.
__ADS_1
Walaupun kesal, Mia tetap segera turun dari mobil itu karena bagaimana pun dia takut kalau Skala berjalan duluan masuk ke dalam desa dan akhirnya dia terpaksa berjalan sendiri. Mana dia tidak tahu seperti apa kondisi desa itu sebenarnya. Apakah desa itu hanya sunyi atau jangan-jangan...Mia pun bergidik ngeri.
“Kenapa aku malah ingat yang seram-seram???” umpat nya sambil menepuk kening nya sendiri, merutuki dirinya yang senang membawa sensasi horor itu masuk ke dalam pikirannya.
“Kalau kau masih diam saja di situ maka kapan kita akan sampai? Bukan nya kau ingin segera tahu di mana raga mu, Mia?.” Ujar Skala pada Mia.
“Iya!! Aku akan kesana!” Mia pun berjalan menuju tempat Skala berdiri. “Jadi kita harus ke arah mana?” tanya Mia sambil melihat ke arah dalam desa. Terlihat banyak sekali rumah-rumah dari kayu yang hanya dengan melihatnya sekilas kita tahu kalau rumah itu pasti sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya.
“Baiklah, kau duluan.” Jawab Mia sambil merapatkan dirinya di belakang Skala. Untuk saat ini Mia tidak mempermasalahkan harga diri nya sebagai kaum dedemit tersingkirkan dengan bersembunyi di belakang tubuh Skala yang kekar. Dari pada dia mecahin rekor setan yang mati sampai dua kali, kan gak lucu aja gitu.
__ADS_1
“Skala, heeem.. kenapa warga desa ini meninggalkan rumah mereka?” Tanya Mia untuk mengalihkan rasa takut yang dirasakannya. Dan mengajak Skala ngobrol, Mia rasa adalah satu-satu nya pilihan yang ia punya.
“Dulu ada pembunuhan sadis di desa ini. Semua warga perempuan berusia delapan belas tahun di bantai di tengah lapangan desa.”jawab Skala dengan suara beratnya membuat cerita itu semakin creepy. Padahal itu baru pembukaan cerita ya? Hehehe..
“Gleek..” Mia menelan saliva nya. Dia merasa telah salah mengajukan pertanyaan. “Ngapain kau pakai acara tanya-tanya Mia!!! “ rutuk Mia dalam hati. Andaikan Mia tahu penyebab semua warga desa pindah dari desa itu adalah sebuah tragedi berdarah maka Mia pasti tidak akan mengajukan pertanyaan itu.
☘️☘️☘️
Ayoo kak.. bantu kak upe dg cara komen dan like... jgn jd silen reader ya.. itu sama dg membunuh penulis perlahan...maka nya banyak penulis yang dulu gentol banget up nya.. trus meloyo dan ada yang pergi.. itu semua karena silent Reader.
__ADS_1
mungkin kakka2 akan bilang gini..#alah di komen pun tak di balas...
ehmm .. mmg gk kebalas semua nya. tapi kalau kk Upe pasti kak Upe baca dan like.. cuma kalau balas gk sempat kan hrs upe... gt kkk.. jd mohon ttp komen walau cuma bilang sarangeee kak Upe cantiek.. eaaaak...😂😂😂