My Little Secret

My Little Secret
#18


__ADS_3

“jadi kita mau ngapain nih sambil nungguin jam empat? Tanya Mia pada si Tejo, sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka. Jangan sampai Tejo cerita kisah setiap hantu yang pernah Tejo temui. Bisa keburu kiamat baru mereka selesai edisi cerita sahabat ini.


“kamu bosan?” si Tejo malah balik bertanya pada Mia. Dan Mia hanya membalas pertanyaan si Tejo dengan anggukan kepala beberapa kali.


“Ya udah, kita jalan-jalan aja disekitaran kantor ini.” Ujar si Tejo.


“Heemm.. apa gak apa-apa kita mendekati area kantor?” tanya Mia sedikit khawatir. Sebab seperti kata si Peggya bagaimana kalau mereka sial dan malah bertemu dengan si pria itu secara kebetulan. Kan di dunia ini kejadian random seperti itu bisa saja terjadi.


“Ini kan jam kantor.. sudah pasti dia sedang kerjalah. Masa di keluyuran di jam kerja begini.” Jawaban dari si Tejo ini yang kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Tidak percuma sebelum mati si Tejo ini menyandang gelar doctor.


B“baiklah kalau begitu.” Ujar Mia sambil langsung berdiri. Mia sungguh bosan kalau sampai harus menunggu jam empat dengan posisi duduk seperti tadi.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita kesana!” tunjuk si Tejo kearah taman lain yang ada di sebelah kantor. Sepertinya disana ada banyak juga orang yang duduk -duduk santai.


Mia melihat tempat yang ditunjuk oleh si Tejo. Sesaat kemudian Mia melihat tempat dimana Mia dan si Tejo berada sekarang. Kemudian tanpa sadar bibir Mia auto jadi manyun dengan sendirinya membuat si Tejo malah menjadi heran kenapa Mia malah menjadi manyun begitu.


“Waduh! Tu mulut panjang amat! Ngalahin bemo! Ada apa? Kamu gak suka kalau kita kearah sana?”Tanya si Tejo setelah kemanyunan mulut Mia mendekati lima senti meter.


“Apa beda tempat itu dengan tempat ini.” Ucap Mia lalu menunjuk kedua tempat itu dengan bibir nya yang udah kepalang tanggung manyun. Sayang aja kalau gak dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.


“yeelah non!! Ya jelas ada bedanya lah.” Ujar si Tejo.


“Coba kamu lihat disana!” Si Tejo pun menunjuk kearah tempat yang ingin mereka datangin.


Setelah itu, si Tejo kini menunjuk kearah tempat kami duduk sekarang. “lalu coba lihat tempat ini. Beda kan??”


Mia mendengus kesal, “ Ya kalau dari posisi sudah pasti beda lah! Yang satu disana dan yang satu disini. Tapi ya gak beda juga!! Sama -sama taman!! Apa asiknya sih di taman seperti itu!!” repet Mia pada akhirnya mengatakan mengapa dia merasa tidak senang.


“Tentu disana lebih asik. Walaupun sama-sama taman tapi taman yang disana lebih banyak orang.”


“Lalu kalau banyak disana, letak fun nya itu dimana?”tanya Mia yang tidak mengerti jalan pikiranya si Tejo.


“Jadi begini lho maksud nya hantu baru, disana itu kan banyak orang,”ujarnya lalu berhenti sesaat untuk mengeluarkan senyum jahilnya.

__ADS_1


“So?” ujar Mia yang masih tidak paham maksud perkataannya.


“Nah, mereka kan tidak melihat kita, jadi kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan pada mereka misalnya mencubit hidungnya, meninju wajah nya atau hal lainnya.” Jelasnya sambil tersenyum lebar.


“Tapi apa guna nya kita melakukan semua hal itu. Toh mereka juga tidak dapat merasakan apapun pada saat kita melakukan itu!” ucap Mia yang menjadi tidak paham dengan jalan pikiran si Tejo.


“Just for fun!!” gumamnya sambil menarik tangan Mia bersama nya.


Akhirnya mau tidak mau Mia pun terpaksa ikut ke taman itu. Sesampainya di taman itu, dia langsung melepaskan tangan Mia dan berlari kesana kemari. Mia hanya bisa tersenyum melihatnya melakukan hal yang menurut Mia itu sangat kekanakan sekali mengingat perawakan Tejo yang sudah cukup berumur.


“Bukan kan dia sudah memiliki gelar doktor, kenapa tingkah nya malah seperti anak-anak begitu! Kayaknya mulai sekarang dan ke depannya aku tidak usah memanggilnya Tejo lagi, bagus dia ku panggil setan stress saja.” Kekeh Mia dalam hati.


Mia memperhatikan si Tejo mulai mengisengi orang-orang yang ada di taman.


Coba lihat lah disana tingkah si Tejo itu, dia malah berkaca di kepala seorang laki-laki yang sama botaknya dengan dirinya.


“Eh Tejo!! Apa yang kau lakukan !!! Lagak mu, kayak kau punya rambut saja!!” teriak Mia pada si Tejo dari tempat Mia berdiri yang sebenarnya cukup jauh dari Tejo.


“Apa aku harus mengikutinya terus hingga di mbak hantu datang??” gumam Mia lalu duduk si sebuah bangku berwarna putih di taman itu.


Ketika Mia duduk di bangku itu, Mia tahu ada seorang laki-laki berkacamata hitam tengah asik membaca sebuah buku di sana.


Dalam pikiran Mia, pasti dia adalah seorang manusia. Lihat saja gaya nya parlente sekali. Mia menoleh pada nya sesat dan berkata,”memangnya bisa membaca buku dengan kata mata hitam seperti itu!” lalu Mia meluruskan lagi pandangan nya ke depan sebab percuma saja Mia ngomong toh dia juga tidak akan mendengar apa yang Mia katakan.


Mia menaikan kaki nya ke atas kursi taman itu.


Mia lihat ke arah bawah dan hanya ada sepatu lusuh nya saja disana. Lalu Mia pun meringis mengenang nasib nya. “heh...apa-apaan ini!! Lihat lah sepatu ku yang lusuh ini!! Apa aku ini hantu kere!!” gerutu nya kesal pada nasib nya sendiri.


Lalu Mia menopangkan dagu nya ke tangan agar Mia dapat melihat dengan jelas sepatu yang selama ini dia pakai. Dalam pikiran nya tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan, ”tapi kenapa sepatu ini lusuh sekali? Apa aku ini anak orang tidak mampu sewaktu aku hidup dulu?” Mia mulai seperti hantu bego yang killing time dengan memikirkan urusan sepatu lusuh. Benar-benar tidak memiliki topik yang layak untuk di jadikan bahan pikiran di tengah ekonomi bangsa merosot seperti saat sekarang ini.


“Hei Mia!!! Ngapain kau bengong sendirian disini!!”tiba-tiba si Tejo menghampiri Mia dan pasti sudah melihat tampang bodoh Mia yang sedang memikirkan tentang sepatu.


“aku hanya berpikir kenapa sepatu ku bisa lusuh seperti ini?”jawab Mia polos.

__ADS_1


Kini si Tejo berjongkok di depan Mia dan ikut-ikutan memperhatikan sepatu Mia.


“benar juga, kenapa sepatu lusuh sekali ya Mia?” kini kami berdua persis seperti dua setan yang kurang kerjaan di taman itu.


“Dan baju mu.. kenapa aku baru sadar kalau baju mu sangat lusuh!”ujar si Tejo sambil menyentuh ujung gaun Mia yang terjulur ke bawah.


“Apa ini?” apakah ini noda tanah?” tanya nya sambil mengusap noda kuning yang mirip noda tanah kuning itu.


“Entah lah aku tidak ingat! Sudah seperti ini ada nya sejak aku ada di dunia perhantuan ini!”jawab Mia sambil mengangkat bahu sebab memang dia tidak ingat apa-apa kan!


“sudah jangan dipikirkan lagi!! Kalau kau sudah selesai sebaiknya kita kembali ke tempat tadi mana tahu si Peggya sudah datang.” Ajak Mia pada si Tejo.


SI Tejo pun berdiri dari jongkoknya. Dan dia sudah berdiri Tejo baru ngeh kalau di sebelah Mia ada seorang pria. Tejo pun menoleh pada pria yang sedang duduk di sebelah Mia itu.


“Mia!! Liat lah pria aneh ini! Dia membaca dengan menggunakan kacamata hitam!!” seru si Tejo sambil tertawa...


“Sudah jangan di ganggu! Ayo kita pergi saja.” Mia yang sedang tidak mood mengganggu manusia, rasa nya ingin cepat kembali ke tempat tadi biar mereka cepat pula bertemu dengan pria yang di cerita kan oleh si hantu wanita.


Tapi si Tejo ini sepertinya memang sudah stress atau memang memiliki tingkat kejahilan yang tinggi sebab ia terlihat ingin mengisengi pria berkacamata hitam yang duduk disebelah ku itu.


“Tunggu sebentar...” tahannya sambil mengeluarkan sebuah senyum jahil.


Mia hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebab Mia larang pun pasti dia tidak akan mendengarkan. Lagi pula si pria itu juga tidak akan merasa apa-apa. Jadi ya sudah lah, pikir Mia.


Tejo kini sudah siap-siap untuk mengisengi si pria berkaca mata hitam. Namun ketika ia meletakan tangan nya di depan wajah si pria berkacamata hitam...tiba-tiba.....


“apa yang kau lakukan!!!” tangan Tejo tiba-tiba ditangkap oleh laki-laki itu.


🤪🤪🤪


Rasakan kamu Tejoo😂😂


Tapi siapa itu yang tangkap tangan Tejo? skala atau si malaikat maut?

__ADS_1


__ADS_2