
“kenapa muka mu cemberut Maria?” tanya Tias pada Putria nya.
Maria menghempaskan tubuh nya kasar ke sofa. Lalu Maria menarik nafas panjang dan menghela nya kasar.
“Ibu tahu, seperti nya Mia mulai mencurigai aku dan Rain. Dan karena hal itu Rain sengaja menjaga jarak dari ku bu. Alasan Rain sangat klasik, Rain takut hubungan diri nya dan aku terendus oleh Mia.” Keluh Maria.
“Rain bilang kalau dia takut aku di salahkan oleh keluarga besar Mia. Dan mengatakan diri ku sebagai wanita perebutan tunangan sahabat nya sendiri.” Lanjut Mia.
"Ibu !! Mau sampai kapan kita membiarkan mata si Mia itu terus terbuka." Rengek Maria pada sang ibu akhirnya.
"Ibu juga sedang memikirkan cara nya agar gadis itu kembali tertidur!!" Ujar sang ibu.
__ADS_1
"Tapi bu, kalau kau terlalu lama berpikir, dan dokter sudah menyatakan dia sehat kembali seperti sedia kala, maka akan sangat mencurigakan jika mendadak dia mati atau koma lagi. So, kita harus secepatnya membuat nya memejamkan matanya. Terserah itu mau permanen atau sementara yang penting dia tidak bangun seperti sekarang ini." Maria terus saja mendesak sang ibu dengan rengekan nya.
“Bahkan kalau tidak bisa dengan dukun, maka kita pakai pembunuh bayaran saja.” Cetus nya.
"Kau ini Maria, kalau ada mau nya selalu saja mendesak ku. Kau tahu jika kita tidak hati-hati maka perbuatan kita yang lalu pasti akan ikut terungkap." Ujar sang ibu.
Tias memang selalu saja di buat pusing oleh putri nya ini yang mau nya banya sekali. Dan harus dipenuhi saat itu juga.
"Bersabar lah sebentar. Tidak akan lama. Biarkan aku memikirkan cara yang paling efektif dan bersih untuk menyingkirkan gadis itu." Ujar sang ibu. “Karena selain itu kita juga harus memikirkan Ansel dan Lea. Ingat rencana utama kita adalah mengambil alih semua nya! Bukan hanya semata cinta gila mu itu!”
Tias hanya bisa menghela nafas nya. Dia paham kekhawatiran anak nya. Tapi dia tetap tidak bisa buru-buru untuk mengeksekusi Mia kembali. Terlalu beresiko saat ini. Semua mata sedangkan tertuju pada Mia.
__ADS_1
Penjagaan dari dokter pun sangat intens. Selain itu untuk masuk ke kamar Mia sendiri ada akses nya. Sehingga semua orang yang masuk ke mansion itu akan tercatat data nya. Jadi kalau salah-salah, bisa-bisa Tias akan tamat riwayatnya.
"Ini semua karena Ansel yang terlalu mengkhawatirkan putri nya !!" Tias merutuki Ansel yang telah memperketat pengamanan di kamar Mia.
"Andaikan Ansel tidak memasang sistem keamanan seperti itu di kamar nya Mia maka kita tinggal meracuni saja makanan dan minuman gadis itu. Tapi kalau sudah begini, paling tidak kita harus menyusupkan orang -orang kita yang bisa kita korbankan sebagai kambing hitam kelak." Gumam sang ibu, sambil menajamkan matanya memikirkan rencana jahat yang mulai muncul di kepala nya.
“Bahkan hari ini saja, ketika pernikahan Bia dan Saka kita tidak bisa mendekati kamar Mia karena Ansel berpesan tidak ada yang bisa menemui Mia karena Mia dia dibuat tidur oleh sepupu Ansel selama acara ini.”
“Lalu bagaimana bu??”
“Aku rasa sebaiknya kita menyusupkan orang ke kamar Mia.” Sebut Tias.
__ADS_1
"Kau benar bu, kita harus bisa menyusup kan beberapa orang ke dalam kamar Mia." Timpal Maria. " Tapi siapa?" tanya Maria lagi.
"Aku rasa aku tahu orang nya." Ucap Tias, menyeringai licik. Dia teringat dengan saudara angkatnya yang bernama Doni.