
“Menghajar mereka??” Ujar Skala dengan suara yang sudah naik satu oktaf.” Makanya kau jangan sibuk menyembunyikan muka mu di dada ku! Jadi nya kau tidak melihat ada kuntilanak setinggi gunung di belakang para pasukan kuntilanak itu. Kalau hanya kuntilanak-kuntilanak kelas teri, iaku tidak akan takut. Tidak mungkin aku memutuskan untuk melarikan diri. Tapi karena aku melihat ada kuntilanak yang posisi duduknya saja hampir menyamai tinggi gunung yang pernah ku daki, aku rasa melarikan diri adalah pilihan yang terbaik saat itu.” Jelas Skala panjang kali lebar.
Mia menelan salivanya. “Untung aku tidak melihat makhluk itu, kalau tidak pasti tulang-tulang ku sudah kabur duluan seperti peristiwa di rumah Skala semalam.” Ujar Mia dalam hati sambil menarik nafas lega.
“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Mia pada Skala.
“Kita sudah sampai. Jadi ya kita harus masuk ke dalam diam-diam. Jangan sampai tertangkap oleh senior nya Aether! Kita harus mencari pintu untuk melawti Jembatan jiwa ini.”
Skala membuka gerbang kayu itu, pembatas antara alam manusia dan alam akhirat.
Begitu gerbang kayu itu terbuka, seketika itu juga pemandangan dihadapan mereka berubah. Mata Mia membesar sempurna melihat pemandangan yang menyeramkan dihadapan mereka.
“Apakah ini yang mereka namai jembatan Jiwa?” gumam Mia dalam hati dan mempererat pegangan tangannya pada Skala sebab ada banyak sekali makhluk dengan wujud yang menakutkan terikat dengan rantai disana.
__ADS_1
“Skala, kenapa semua makhluk ini di ikat di sini?” tanya Mia sambil terus berjalan rapat dengan Skala.
“Mereka adalah setan-setan yang berkelakuan buruk di dunia manusia sehingga pemilik jembatan Jiwa mengurung mereka disini.” Jelas Skala sambil terus berjalan ke arah dalam seakan-akan dia sudah tahu tempat akan dia tuju.
“Senior nya Aether?”
“Ya! Senior nay Aether.” Jawab Skala sambil berjalan pelan-pelan agar keberadaan mereka tidak di ketahui oleh senior nya Aether.
“Apa kau pernah ikut pesugihan?” tanya Skala dengan mudahnya.
Mia menggeleng.”Seingat kutidak.” Ucapnya.
“Apa kau pernah ngepet?” tanya Skala lagi. Dan kembali Mia menggeleng dan berkata tidak.
__ADS_1
“Apakah semasa hidup mu kau menggunakan pelaris dalam menjalankan usaha mu atau menggunakan susuk pada di wajah atau bagian tubuh mu yang lain?” Tanya Skala sekali lagi. Dan Mia tetap menjawab semua pertanyaan itu dengan menggeleng.
“Kalau begitu kau tidak perlu khawatir, pemilik jembatan Jiwa tidak akan mengurung dan mengikat mu seperti mereka.” Jelas Skala yang seakan tahu ketakutan yang dirasakan oleh Mia.
“Ayo ikuti aku ke ruangan itu. Hati-hati jangan sampai tertangkap pemilik jembatan Jiwa pasti ada disana.” Ujar Skala pada Mia.
Mia pun menurut apa yang Skala katakan. Dia mengikuti Skala masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Skala. Sesampainya di dalam...
“tempat apa ini Skala?” tanya Mia, melihat ruangan yang baru saja dia masuki berbeda dengan ruangan yang lainnya.
Ruangan ini lebih terang dan lebih manusiawi daripada ruangan-ruangan yang telah mereka lewati tadi. Tapi jangan kira bulu kuduk mu tidak akan berdisko ria disini sebab meski ruangan ini terang dan kelihatan nyaman, aura mistis terasa lebih kental di ruangan ini.
“Skala?” Seru seorang wanita dari balik cermin besar di ruangan itu. Wanita itu terlihat sangat cantik. Tapi apa yang dilakukan oleh seorang wanita cantik di dalam sebuah cermin?
__ADS_1