
Skala menghela nafasnya, "Ada apa dengan mu pagi ini, Radit?. Kau terlihat seperti bingung dan sedikit ketakutan? Apa kau pobia tidur sendirian?" Lanjut Skala bertanya, padahal dia tahu persis apa yang sebenarnya yang dialami oleh assiten barunya semalam.
"Hemm... apa kau akan percaya kalau aku katakan aku melihat.... "
"Teng!!! "
"Teng!!!! "
"Teng!!! "
"Teng!!! "
"Teng!!! "
"Teng!!! "
"Teng!!! "
Radit memejamkan matanya karena terkejut dan menelan Saliva nya.
"Radit, ada apa?" Tanya Skala mencoba menenangkan assisten nya yang terlihat sangat terkejut hanya karena sebuah bunyi jam. "Itu hanya bunyi jam!" Ujar Skala, dan menunjuk ke arah sebuah jam Jati besar di sudut ruangan tidak jauh dari tempat mereka berada.
Radit menghela nafas nya, "Apakah jam itu selalu berbunyi menakutkan seperti itu, Pak!" tanya Radit, ketus.
Radit brusaha untuk mempersatukan satu persatu keberanian nya yang kocar kacir sejak kejadian semalam. “Aku sangat yakin kalau kalau kejadian semalam itu nyata.” Batin nya. “Apa jangan-jangan apartemen nya pak Skala ini ada hantu nya??!” Radit ingin menanyakan hal ini namun dia takut menyinggung bos nya. Ya kalau di pikir-pikir siapa sih yang suka rumah nya di katakan sebagai sarang hantu. Hanya saja Radit yakin seyakin- yakin nya.. pocong yang di lihat di dalam lemari itu NYATA.
__ADS_1
"Hemm.. apa kau tidak mendengarnya semalam. Aaah.. aku tahu, kau pasti kelelahan dan langsung tidur, makanya kau tidak tahu kalau jam ini berbunyi setiap satu jam." Jelas Skala mencoba mengalihkan perhatian Radit yang mulai terlihat takut berada di rumah nya.
"Pak...!" Radit kembali ingin melanjutkan ceritanya soal kisah horornya selama di kamar kepada Skala.
"Hemm.. apa lagi. Jangan terlalu banyak bercerita Radit, ingat pagi ini kita ada janji dengan dewan direksi terkait kerjasama dengan HD Design Company. Jadi cepat habiskan sarapanmu."Perintah Skala.
" Baiklah Pak." Radit terpaksa menunda ceritanya. " Semoga Pak Skala baik-baik saja semalam! "Gumam Radit yang malah memikirkan keselamatan Skala di rumah itu. Radit benar-benar akan terkejut kalau dia sadar siapa bos nya sebenarnya.
Skala dan Radit pun meninggalkan apartemen Skala menuju ke ruangan mereka masing-masing yang berada di bawah apartemen Skala.
Saat keluar dari apartemen Skala, Radit melemparkan pandangan nya ke arah lorong panjang yang ia dan Skala lewati tadi malam. “Ternyata suasana malam hari dan siang hari di lorong ini sangat berbeda!” Radit membatin. Walaupun tidak sehoror tadi malam tapi sisa-sisa shock terapi yang ia dapatkan tetap masih lekat terasa.
"Kau kenapa lagi Radit?!" Tegur Skala pada Radit yang sedari tadi seperti terhipnotis oleh lorong panjang itu.
"Hehehe.. Pak, apa kau tau. Aku sungguh tidak menyangka kalau suasana malam dan pagi hari di lorong ini sangat berbeda. Semalam seperti masuk wahana hantu di pasar malam. Kalau sekarang sudah kembali seperti lorong normal seperti di lantai bawah.." Ucap Radit, menyampaikan blak-blakan apa yang ada dipikiran nya.
"Hhheehe benar pak! Tapi kau jangan marah Pak, Semalam aku merasa saat aku melewati sepanjang lorong ini seperti banyak setan dan jurig yang melihati kita! Bulu kuduk ku merinding melihat lorong panjang ini pak! Di tambah lagi dengan lampu nya yang sungguh mendukung suasana honor malam itu. Paket komplit lah pak pokok nya!." Radit merinding mengingat suasana ketika dia datang semalam.
"Lalu apa yang kau rasakan pagi ini?" Lanjut Skala.
"Normal! Seperti melewati lorong – lorong di lantai bawah.." Sebut nya dengan nada flat.
"Jadi bagaimana? apa kau ada niat untuk menginap lagi di apartemen ini?" Tanya Skala sambil menahan tawa nya.
Kening Radit berkerut, dan dia menelan Saliva nya.”Walau di bayar sekali pun, aku tidak bersedia untuk tidur di aparteme nya lagi.” Ucap Radit dalam hati, tapi tentu saja tidak dia katakan pada Skala.
__ADS_1
"Mungkin lain kali pak, kalau kepepet lagi...hehehe..." Radit hanya bisa menjawab seperti itu. Tidak mungkin dong Radit secara frontal bilang... Gile rumah lo berhantu bos..di bayar pub ogah mah gue !!
Radit tersenyum sambil menelan saliva nya. Berusaha memberikan kesan bahwa semua baik-baik saja.
Radit menatap sesekali pada Skala, “Walaupun aku tidak bisa membuktikan hal yang aku alami semalam itu nyata atau tidak, ya katakan lah itu hanya sekedar mimpi tetap saja itu menandakan bahwa tempat itu adalah tempat yang angker. Coba bayangkan saja, di tempat ini hantu saja bisa masuk ke dalam mimpi mu bukah kah itu sudah seram?."Pikirnya Radit.
Skala tersenyum. Tanpa harus Radit katakan, Skala sudah tahu apa yang ada di dalam pikirn Radit.
"Kau pikir-pikir saja dulu.Ya siapa tahu kita lembur lagi dan kau tidak berani lagi untuk pulang sendirian. Pintu apartemen ku terbuka lebar untuk mu.” Kata Skala mengulum senyum nya.
Skala dan Radit pun berjalan beriringan. Dari jendela-jendela kaca besar yang berada di kiri dan kanan mereke, Skala dan Radit dapat melihat segala sesuatu yang ada di bawah sana. Termasuk, makhluk – makhluk beda alam yang berjalan tanpa tujuan di jalanan yang bisa di lewati oleh manusia.
Orang-orang normal mungkin tidak bisa melihat makhluk- makhluk tersebut tapi beda hal nya dengan Skala. Dia memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar, berbicara bahkan menyentuh mereka.
Dahulu itu Skala sangat takut dengan kemampuan yang dia miliki ini. Dia takut jangan-jangan orang yang di sapa nya, yang di ajak nya bicara dan yang di ajak nya bercanda ternyata bukan lah BENAR-BENAR ORANG!
Tapi setelah bertambah dewasa, kini Skala sudah mampun untuk membeda kan mana orang dan mana yang bukan orang. Kini Seakan-akan diri nya sudah mampu untuk langsung memfilter yang mana yang harus dilihatnya, mana yang harus diabaikan nya.
Seperti sepasang sosok yang sedari tadi menatap nya dari bawah sana saat dia melihat ke taman yang ada di bawah dari jendela besar yang dia lewati.
Seperti biasa, Skala pun pura-pura tidak melihat makhluk yang duduk taman itu, walaupun dia sadar mereka tengah melihat ke arah nya.
Skala tidak ingin terlibat masalah dengan makhluk dari alam yang berbeda dengan nya ini. Cukup kantor dan rumah nya saja yang telah di bajak oleh si Aether dan koloni. Menjadikan Satu gedung ini sebagai hotel gratis untuk para hantu yang kehilangan arah, putus asa atau pun yang belum bisa menerima kematian mereka.
Aether benar-benar membuka praktek sampingan di gedung Skala
__ADS_1
🤭🤭🤭
Aether! Sejak kapan malaikat pencabut nyawa butuh kerjaaan sampingan! Ah si Aether ini malaikat pencabut nyawa atau dokter sih..😂😂😂