
"Tentu saja aku keberatan!!" Seru Radit dalam hati. Hanya saja tentu bukan itu yang Radit katakan melalui bibir nya. "Tentu saja tidak. Dengan senang hati akan saja lakukan." Jawab Radit dengan wajah meringis.
Agar pekerjaan ini lekas selesai, Radit pun langsung mulai memilih semua berkas - berkas itu.
"Berkas yang di atas meja ini tidak perlu kau periksa Radit." Tunjuk Skala pada berkas-berkas yang dikatakan oleh perawat sebagai berkas milik pasien VVIP
"Baiklah tuan!: jawab Radit girang, paling tidak hal itu membuatnya sedikit ringan. Kini ia hanya perlu fokus untuk mengerjakan berkas-berkas di troli ini saja.
"Letakan berkas pasien yang wanita di atas meja di dekat ku ini, dan pasien yang pria dapat kau letakkan di sebelah sana." Tunjuk Skala pada meja kosong di pojokan.
"Tuan!! meja itu jauh sekali. Bagaimana kalau aku meletakkan nya di sini saja." Tunjuk Radit pada sofa yang ada di dekat nya. "Aku akan menyusunnya dengan rapi agar tidak berserakan." Radit sangat tahu kalau Skala sangat benci dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya atau berserakan.
"Terserah kau saja Radit. Karena aku tidak membutuhkan berkas-berkas itu. Aku hanya ingin melihat berkas milik pasien wanita saja." Terang Skala.
__ADS_1
"Tuan! Kalau kau hanya mencari file wanita yang koma di kota ini, mengapa kau tidak meminta rekap nya langsung saja pada teman mu tuan, seperti yang kau minta di rumah sakit kemarin di rumah sakit kenalan mu yang lain?" Tanya Radit penasaran mengapa tuan nya mesti repot-repot melihat semua bundel yang berisi berkas para pasien ini.
"Huft!! Aku juga tidak ada rencana untuk membaca semua berkas ini. Aku datang ke sini, karena aku ingin memeriksa langsung ke setiap kamar pasien yang koma. Bukannya membaca semua berkas ini. Tapi dia malah meninggalkan ku dengan semua berkas ini..."Sungut Skala.
"Sudahlah Radit!! Cepat kau pisahkan saja. Karena ini baru dari satu rumah sakit. Ada lima rumah sakit yang harus kita cek hari ini." Ujar Skala lalu mulia membaca berkas pasien.
Radit hanya bisa menangis mendengar fakta yang baru saja ia ketahui ini.
Skala menghempaskan berkas terakhir yang di baca. Tidak ada satu foto pasien pun dalam berkas itu yang merupakan foto Mia. Skala merasa benar- benar frustasi.
"Bagaimana tuan? Apakah kita tidak lanjut dengan berkas yang ada di atas meja itu?" Seru Radit sambil menunjuk berkas pasien VVIP.
Lama Skala melihat berkas itu sambil berpikir dan akhirnya...
__ADS_1
"Tidak usah.. Sebaiknya kita pergi saja sekarang." Ujar Skala yang sebenarnya sudah lelah seharian ini membaca setiap berkas yang dibawa oleh perawat.
"Kau yakin?" Tanya Radit, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju berkas pasien VVIP.
Tangan Radit yang iseng membolak-balik beberapa berkas lalu dengan girang dia berkata. " tuan, liat lah .. Bahkan berkas teman ku ada disini. Keluarga Kaila memang sangat kaya raya." Seru Radit..
Namun Skala sama sekali tidak tertarik dengan yang dikatakan oleh Radit. Dalam bayangan tidak mungkin Mia yang penampilan nya begitu biasa merupakan anak dari keluarga konglomerat.
"Pakaian nya saja seperti itu." Gumam Skala mengingat seperti apa penampilan Mia ketika mereka pertama kali bertemu.
πππ
jangan liat dr pakaian nya dong ska.. itu mah standah bju dinas setan,π
__ADS_1