
“Tapi ibu yakin Rain akan menjadi milik mu sayang. Jangan kan Rain, semua yang seharusnya menjadi milik Mia akan menjadi milik mu. Jadi lakukan peran mu dengan baik. Di hadapan Ansel juga. Kau juga harus bisa membuatnya percaya bahwa kau sangat menyayangi Mia..” Tias diam sesaat.
“Kau tahu sendirikan, Ansel sangat menyayangi Mia. Dia selalu mengutamakan Mia dan keluarga dari segala pekerjaan nya.” Tias menjadi kesal teringat akan Ansel sangat bapakable itu.
“Ibu, kau tidak perlu terlalu mengambil hati dengan tingkah laku om Ansel! Abaikan saja dia. Selama dia dan tante Lea masih percaya pada kita dan menganggap kita sebagai sahabat terbaik keluarga mereka, rencana kita aman..” Jawab Maria dengan mudahnya.
“Kau benar Maria. Kebahagian keluarga ini akan segera beralih dan menjadi kebahagian kita...” Ujar Tias, culas.” Tidak akan ada lagi yang akan merendahkan ku atau pun menyebut-nyebut latar belakang ku yang miskin itu lagi.”
“Sudah lah ibu. Jangan sebut-sebut lagi latar belakang ibu. Yang terpenting sçekarang adalah membuat semua mata di rumah ini tertuju pada ku. Heem.. kalau dipikir-pikir aku sudah sangat lama berakting sebagai sahabtyang rendah hati, teman yang penurut untuk untuk Mia. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus melanjutkan hal ini beberapa saat lagi hingga Mia benar-benar menghilang dari bumi ini.” Maria tersenyum puas dengan semua akting yang telah ia lakukan dihadapan semua orang. Citra seorang gadis lugu dan baik hati benar-benar sudah ada di tengah-tengah namanya.
“Aapa perlu kita menghubungi dukun itu lagi untuk mempercerpat kematian Mia!” Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepala Tias.
__ADS_1
“Tidak ibu!! Kita tidak perlu melakukan itu! Terlalu beresiko.” Larang Maria. “Biarkan saja itu menjadi tugas malaikat pencabut nyawa.” Lanjutnya sambil tersenyum tipis.
(Aether yang baru saja menutup portal yang di lalui Mia langsung terbatuk-batuk setelah namanya disebut oleh Maria.)
“Apa kau yakin sayang? Kita tidak perlu mempercepat semua?” tanya Tias sekali lagi untuk meyakinkan Maria.
Maria menggelang pelan dan berkata, “Kita sudah cukup mendorongnya hingga sampai ke depan pintu rumah malaikat pencabut nyawa, selebihnya biar malaikat pencabut nyawa saja yang menyelesaikannya.”
Tias melihat jamnya sebab biasa nya jam-jam segini Rain datang ke rumah ini untuk menjaga Mia.
“Maria? apakah Rain akan datang hari ini menjenguk Mia, sayang?” Tanya sang ibu pada Maria yang sedang hanyut dalam lamunan semu nya tentang cinta Rain.
__ADS_1
“Hah? Ibu bilang apa?” tanya Maria yang memang tidak menyimak apa yang ibunya katakan.
“kau ini!! Belum apa-apa sudah melamun. Kau pasti baru saja melamukan Rain kan?” Goda Tias pada putri nya yang wajah nya jadi merona karena perkataan Tias.
“Ibu kau ini bisa saja menggoda ku!!” seru Maria.
“Jadi apakah Rain datang hari ini? Kalau Rain datang maka sebaiknya kau langsung bersiap-siap! Bukankah kau harus standby di kamar nya Mia?” ingat Tias.
“Astaga! Untung saja ibu ingatkan! Aku siap-siap dulu ya bu!” Maria pun meninggalkan kamar ibunya itu dan langsung menuju kamarnya untuk bergegas berdandan menyambut kedatangan Rain.
“Kau sudah sampai Rain?” sapa Maria sambil membawa sebuah novel di tangan kanan nya.
__ADS_1