My Little Secret

My Little Secret
#40


__ADS_3

"Dimana kita ini Ska???” tanya Mia panik sebab saat ini diri nya dan Saka berada di depan hutan belantara. Mia pun merapatkan diri nya ke Skala. Walaupun Mia tahu kalau diri nya saat ini bisa dikatakan sejenis dedemit juga, tapi jujur saja, Mia sangat lah takut.


“Apa maksud mu Aether? Aku sudah membayar mahal tapi mengapa kau menyisipkan wisata horor dalam paket cepat kilat yang aku pilih!” geram Skala protes pada Aether.


“Maafkan aku Ska...” Aether pun menjentikan jari nya lagi, dan kali ini Skala dan Mia kembali berpindah tempat.


Skala mengerlingkan mata, kekesalan nya sudah sampai ke ubun-ubun saat ini. “Apa lagi ini Aether?!” Geram nya sambil menahan rasa jengkel nya nya, kenapa Aether malah mengirim diri nya dan Mia ke dalam sebuah mobil.


“Skala, maaf! Ternyata untuk langsung ke raga Mia kalian harus melewati hutan terlarang dan menyebrangi jembatan jiwa. Baru setelah itu kalian sampai di tempat raga Mia berada.” Terang Aether.


“Jangan bilang kau mengirim ku dan Mia ke tempat itu!” Seru Skala teringat sesuatu setelah mendengar apa yang Aether jelaskan.


“Kau minta jalan pintas? Dan hanya ini lah jalan pintas menuju ke raga Mia. Selamat bersenang-senang! Dan terima kasih telah menggunakan jasa Aether tour and travel. Kalau kau jumpa dengan senior ku Sky, jangan katakan aku yang mengiri mu ke tempat itu. Aku yakin kalian bisa!!” Mendadak suara Aether pun menghilang.


“Bagaimana ini Skala?” tanya Mia sambil memperhatikan keadaan di luar mobil.


“Sudah terlanjur. Kita lanjutkan saja. Paling tidak setelah tahu dimana raga mu berada maka semua akan menjadi lebih mudah nanti nya untuk mengembalikan jiwa mu ke dalam raga mu. Kau siap Mia? Tanya Skala.


“Aku siap, kalau kau siap.” Jawab nya dengan senyum terpaksa nya.


Skala dan Mia pun pergi menuju Jembatan jiwa yang dikatakan oleh Aether tadi. Dalam pikiran Mia, palingan jembatan jiwa yang dimaksud ya hanya sebuah jembatan yang ada di dalam kota yang sedang mereka lewati itu. Jadi pasti nya tidak perlu waktu lama untuk sampai ke jembatan jiwa tersebut pikirnya. “Aether bulang tadi tidak akan lama kan??” batin Mia.


Akan tetapi faktanya....


“Skala apa masih lama?” keluh Mia pada Skala yang sedang mengemudikan mobil Jeepnya itu. Sudah tiga jam lebih mereka menempuh perjalanan sejak mereka meninggalkan tempat mereka yang pertama tadi, tapi mereka masih saja belum sampai di tujuan mereka.


Mia melihat Skala dengan tatapan kesal sebab pertanyaan nya tidak direspon oleh Skala, “apa bicara dalam perjalanan adalah pantangan bagi nya?” seru Mia dalam hati.

__ADS_1


Karena merasa bosan dengan perjalanan yang bagaikan tanpa ujung ini, Mia pun melihat ke kiri dan kanan jalan yang mereka lalui. “jangankan jembatan jiwa, warung pecal lele pun tidak ada terlihat.” Gerutu Mia pelan.


Mia yang menggerutu membuat Skala melirik ke arah Mia. Dia yakin Mia pasti tidak tahu apa sebenarnya jembatan jiwa itu.


Semenjak tiga jam lalu meninggalkan titik pertama mereka, Mia dan Skala benar-benar masuk ke jalan yang kiri dan kanannya hanya ada pepohonan yang tinggi dan besar, tidak ada satu pun rumah penduduk sejauh mata memandang.


“Apa kau yakin kita berada di jalan yang benar Skala?” Seru Mia, kini dia sedikit cemas. Takut kalau-kalau ternyata mereka nyasar. Kan gak lucu aja, kalau sampai kesasar di alam yang sudah pasti bukan lah alam manusia.


“Apa kau sudah mulai merasa takut?” Akhirnya Skala mulai berbicara.


"Iya!! aku memang takut!! takut kalau kita nyasar!!" jawab Mia, jutek.


"kau tenang saja, aku sangat hapal jalan menuju jembatan jiwa ini." jawab Skala, sambil tetap fokus membawa jeepnya. "Bahkan aku tetap akan sampai ke tempat tujuan kita walau aku harus menutup mata ku" ujar Skala sombong.


“Aku kira berbicara sambil nyetir adalah pantangan dalam hidup nya eh sekali nya udah bicara, bicara terus saja kerjanya.” ejek Mia dalam hati.


"Sebelum mencapai gerbang pertama aku harus fokus membawa mobil ini karena kalau tidak kita hanya akan berputar-putar di tempat yang sama.” jawab Skala.


“Gerbang pertama? berputar-putar di tempat yang sama?” Mia mengulang kembali perkataan Skala sebab dia tidak paham dengan maksud perkataan Skala barusan. Apalagi ketika Skala menyebutkan gerbang, Mia tidak merasa melihat ada gerbang apapun semenjak tadi.


“Heeem...” Jawab Skala singkat.


Mia menatap Skala yang sedang fokus menyetir itu berharap Skala akan memberikan penjelasan lebih untuk nya.


"Heeemm? hanya hemm?" protes Mia mendengar jawab singkat plus menyebalkan dari Skala.


"Lalu kau mau aku menjawab apa?"

__ADS_1


"Ya jelasin apa gitu kek!! Tadi kau ada bilang tentang gerbang pertama? Tapi aku sama sekali tidak ada melihat gerbang atau gapura apapun." Protes Mia.


"Ya wajar! karena gerbang utama itu ya memang bukan sebuah gerbang! Jadi wajar kau tidak melihat gerbang apapun!!" Jawab Skala sambil tersenyum mengejek.


“Kau jangan meremehkan ku ya Skala! Gini-gini aku hantu!!” Mia sengaja memasang wajah terseram nya sambil berakting akan mencekik Skala.


“Pertama kau bukan hantu Mia! Dan kedua aku tidak takut dengan mu! So sebaiknya kau duduk saja yang manis!” celetuk Skala.


“Huff! Tidak asik!” gumam Mia dengan mulut manyun nya lalu diam untuk sesaat. "Wait!!!! jangan-jangan, jembatan jiwa itu juga bukan sebuah jembatan?" sentak Mia tiba-tiba.


Skala hanya menoleh pada Mia sambil tersenyum tipis.


“Mia, apa kau tahu di mana lokasi jembatan jiwa?” Tanya Skala pada Mia, yang jelas-jelas saat ini ada banyak pertanyaan di dalam pikirannya.


Mia menggeleng pelan. Dia memang benar-benar tidak tahu lokasi jembatan jiwa itu. Jangan kan lokasi, nama jembatan jiwa itu sendiri pun, baru pertama kali Mia dengar dari percakapan Skala dan Aether.


“Aku tidak tahu.” Jawab Mia, keki.


"Apa jangan-jangan benar jembatan jiwa itu tidaklah benar-benar merupakan sebuah jembatan? Mungkin saja itu adalah nama suatu daerah? Tapi emangnya ada daerah yang nama nya jembatan jiwa?” batin Mia sambil melirik ke Skala yang sedang menyetir. Tapi kalau bertanya pasti Skala akan menjawab nya dengan gaya sengak nya.


“Lebih baik aku mati penasaran dari pada bertanya pada nya! Eh tapi bukan nya aku sudah mati ya???” Mia jadi pusing sendiri. Mia pun akhir lebih memilih untuk tidak melakukan nya. Laki-laki yang ada disebelah nya ini adalah laki-laki yang sangat menyebalkan. Jadi mengurangi interaksi dengan laki-laki ini jauh lebih baik.


🥰🥰


Para bestie kak Upe yang budiwati, mohon bantu boom like dan komen ya.. biar polularitas karya ini dan 6 karya lain nya naik.


(20 like juga boleh 🤭🤭🤭)

__ADS_1


Kak Upe coba up 4 bab beberapa hari ini.. 😘


__ADS_2