
BAB 44
“WhoooooooOooossssssshHHhh....” sekelabat bayangan itu kembali muncul. Tapi kini yang merasakannya adalah Skala.
“Aaaakh!!” teriak Mia sambil memegang keningnya yang tertabrak punggung Skala yang kokoh bak tembok cina itu sebab Skala yang mendadak mengerem.
“Kenapa kau berhenti mendadak seperti itu!!!!” Geram Mia marah sambil mengusap keningnya yang terasa sakit.
“Ssttzz!!” Skala memberikan isyarat pada Mia untuk diam. Setelah itu, Skala melirik ke kiri dan ke kanan melalui ujung matanya.
“Dia kenapa?” seru Mia yang melihat gelagat lain dari Skala. Perasan Mia pun mendadak tidak enak sehingga dengan gercep nya dia langsung merapatkan diri nya ke Skala.
“Apa ada sesuatu Skala?” tanya Mia sambil mengambil tangan Skala untuk dipegangnya. Dia sudah lupa kalau tadi Skala protes tangan nya di pegang oleh Mia.
Tapi seperti nya saat ini Skala terlalu konsentrasi melihat keadaan sekeliling mereka, sehingga dia tidak menghiraukan Mia yang sudah menggenggam tangannya.
“Jangan jauh-jauh dari ku!” Ujar Skala yang disambut suka cita oleh Mia.
Tentu saja Mia sangat senang ketika Skala memintanya untuk tetap berada dekat Skala. Karena memang itu yang sedari awal Mia ingin kan. Kalau bisa dia akan menempel di Skala.
“Kau tenang saja!! Aku akan selalu menempel pada mu.” Seru Mia dengan antusias, mengundang tatapan tajam dari Skala.
Mia yang ditatap tajam oleh Skala, bukannya takut tapi dia malah memberikan memberikan senyuman terbaiknya pada pria yang sebenarnya sudah jengkel dengan tingkahnya yang sangat absurd itu.
Skala hanya bisa menghela nafas. Dia tidak bisa membiarkan Mia jauh dari nya sebab dengan cara apapun Skala harus dapat membawa Mia bertemu dengan raga Mia, karena dengan begitu Mia bersedia bermalam pertama dengan nya.
Skala dan Mia terus berjalan menuju Jembatan jiwa dengan cara bergandengan. Semakin mereka mendekati area yang dinamai Jembatan jiwa, aura-aura mistis semakin terasa semakin mencekam.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” teriak Mia teras sambil memeluk erat Skala ketika sesosok mis K muncul dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.
Dengan sigap Skala langsung memukul kepala miss K itu hingga si miss K pun terjengkang ke bawah lalu menggelinding beberapa jauh dari mereka.
__ADS_1
“Berani sekali kau memukul ku!!” Amuk si kuntilanak itu.
“Jangan kan memukul mu, menghancurkan arwah mu pun aku berani!!!!” Jawab Skala dengan suara lantang. Sementara Mia benar-benar sangat ketakutan dalam pelukan Skala.
“Kau jangan sombong!!!! Apa kau kira kau bisa keluar hidup-hidup dari sini hahahahaha hahahaha hahahahahhhha!!!”
Usai tertawa dengan default model tawa standart kuntilanak, Si kuntilanak itu pun memanggil teman-temannya dan bosnya. YES!! Mereka semua adalah para gadis yang telah di bunuh secara sadis di desa itu.
“Gawat!!” seru Skala saat melihat ada banyak sekali jumlah kuntilanak yang muncul. “Apa aku bisa mengalakan mereka?” Skala pun menghitung jumlah kuntilanak yang terlihat oleh nya saat ini.
“Seperti nya aku masih bisa menghadapi pasukan kuntilanak ini!” pikir nya dengan yakin
Namun ketika Skala sudah ambil ancang-anceng untuk membabat habis semua kuntilanak itu, ternyata setelah ia lihat lebih teliti lagi
“Makhluk apa itu?” Gumam Skala dalam hati ketika ia melihat sosok kuntilanak yang sedang duduk memandanginya. Ukuran Kuntilanak itu sangat besar. Bahkan dalam posisi duduk seperti itu, tinggi nya hampir menyamai tinggi sebuah gunung.
Skala menelan saliva. Kini dia benar-benar merasa tidak mungkin untuk melawan semua kuntilanak ini. Lalu dilihatnya Mia yang masih menyembunyikan kepala di dada nya. “Huft!! Setan satu ini memang benar-benar tidak bisa diharapkan!!” batin Skala.
“Mia!!! Kau dengar aku??” Gumam Skala pelan.
Mia yang masih ketakutan hanya bisa mengangguk tanpa bersuara untuk memberi tanda bahwa dia mendengar apa yang Skala katakan.
“Dalam hitungan tiga, kita lari bersama ke arah kanan! Apa kau mengerti?” Tanya Skala pada Mia.
Mia pun mengangguk sekali lagi. Dan itu di arti kan oleh Skala sebagai tanda kalau Mia mengerti dengan instruksi yang Skala berikan.
“Tiga!!!!” Ujar Skala tanpa aba-aba satu dan dua sebelumnya. Mia langsung kaget karena dada tempat sandarannya tadi menghilang begitu saja.
“Skala sialan!!!” umpat Mia sambil ikut berlari di belakang Skala.
Kini Skala dan Mia berlari dengan kecepatan penuh menghindar dari pasukan kuntilanak yang mencoba mengejar mereka.
__ADS_1
“Ah...”
“Ahh...”
“Ahhhhhhhh”
Nafas Skala tersengal-sengal saat mereka sudah jauh dari para kuntilanak itu. Sedang kan Mia yang jelas-jelas sudah tidak bernafas, entah mengapa saat ini juga sedang tersengal-sengal seolah ikut kehabisan nafas karena mereka berlari kencang sedari tadi. “Jangan terlalu kau pikirkan soal dia Ska!” ujar Skala pada diri nya sendiri.
“Apa mereka masih mengejar kita??” tanya Mia sambil berlari pada Skala.
“Hhmmm..hmm... Seperti nya masih! Tapi kau tidak perlu khawatir karena kita sudah memasuki area Jembatan jiwa, maka para kuntilanak tidak dapat mengejar kita dengan cepat . Area Jembatan jiwa, adalah area milik malaikat pencabut nyawa. Tidak ada hantu atau pun manusia yang berani mendekati area itu.” Jelas Skala dengan nafas yang masih tidak beraturan, sambil berlari.
“Sialan kau Skala!!!” Umpat Mia sambil terus berlari menyamai Skala. “kau sengaja meninggalkan ku untuk manjadi santapan para kuntilanak itu???”Sungut Mia yang masih tidak terima sebab aba-aba sialan yang diberikan oleh Skala.
“Jangan banyak protes!! Percepat saja langkah mu !! Apa kau tidak melihat pasukan kuntilanak itu sudah semakin mendekat!!!” Ujar Skala dengan nafas tersengal-sengal.
“Aku akan membuat perhitungan dengan mu nanti Skala!!” ucap Mia sambil mempercepat larinya.
Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil sampai di pintu gerbang Jembatan jiwa.
“Cukup!! Berhenti disini!!” Ujar Skala. Seumur hidup ini baru pertama kalinya dia lari dari hantu. Selama ini hantu lah yang selalu lari dari dirinya.
Mia menepuk keras pundak Skala. Ada satu pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di pikiran nya.
“Kenapa kau harus lari tadi?? Bukan kau bisa menghajar mereka?” Seru Mia yang tak abis pikir mengapa Skala malah memutuskan untuk melarikan diri.
“Menghajar mereka??” Ujar Skala dengan suara yang sudah naik satu oktaf.” Makanya kau jangan sibuk menyembunyikan muka mu di dada ku! Jadi nya kau tidak melihat ada kuntilanak setinggi gunung di belakang para pasukan kuntilanak itu. Kalau hanya kuntilanak-kuntilanak kelas teri, iaku tidak akan takut. Tidak mungkin aku memutuskan untuk melarikan diri. Tapi karena aku melihat ada kuntilanak yang posisi duduknya saja hampir menyamai tinggi gunung yang pernah ku daki, aku rasa melarikan diri adalah pilihan yang terbaik saat itu.” Jelas Skala panjang kali lebar.
☘️☘️☘️☘️
ayoo kak Semangat! semangat dukung kak Upe😎😎😎
__ADS_1