
“wwhoooooossss!!!” tiba-tiba Mia merasakan ada sekelebat bayangan berlari di belakangnya. Spontan Mia berlari dan menggenggam tangan Skala yang berjalan di depannya.
“Apa yang kau lakukan!!” Ujar Skala marah sebab Mia tiba-tiba memegang tangannya.
“Aku-aku ..heeem.. aku kedinginan!” kilah Mia, dia tidak ingin Skala tahu kalau saat ini dia sedang ketakutan.
Skala menatap tajam ke arah Mia sambil menyipitkan matanya. ”Benarkah?” tanya Skala, dengan penuh selidik.
“Tentu saja!! Pegang saja tangan ku!! Kau pasti akan merasakan kalau tangan ku sangat dingin!” jawab Mia sambil nyengir kuda.
“Kau kan sudah mati! Tentu saja tangan mu dingin!” Seru Skala sambil melepaskan tangan Mia yang memegangnya.
Mia tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak mungkin dia tetap memaksa untuk memegang tangan Skala, pasti nanti Skala akan tahu maksudnya yang sebenarnya. Akhirnya mau tidak mau, Mia menarik tangannya kesamping dan menggenggam erat gaunnya. Dia harus bisa bertahan menghadapi rasa takutnya.”Ayoo Mia ! Kau pasti bisa! Kau kan sebangsa dan setanah air dengan para demit itu!” Mia menyemangati diri nya sendiri.
__ADS_1
“Skala?? Apa masih jauh?” Tanya Mia sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan. Sejak memasuki desa, mata Mia tidak bisa melirik ke kiri dan ke kanan. Dia merasa ada mata yang terus menerus mengawasi perjalanan mereka.
Mia berlari dan memposisikan diri di sebelah Skala.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?” Tanya Mia sekali lagi. Dia harus bisa mengajak Skala untuk ngobrol dengan nya.
“Apa kau sedang ketakutan?” Tiba-tiba Skala berhenti dan langsung bertanya seperti itu pada Mia.
Mia hanya bisa terdiam. Rasa takut yang coba ia sembunyikan dari tadi kini sudah tertebak oleh Skala dengan mudahnya.
“Kata siapa tidak ada hantu di siang bolong?” jawab Skala dengan tatapan malasnya. “pasti dia lupa kalau dia adalah hantu.” Gumam Skala dalam hati.
“Memang nya ada?” tanya Mia dengan bodohnya. Memang kalau saat kita sedang ketakutan kadang kita tidak bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
“Ada. Dan saat ini hantu tersebut sedang berbicara dengan ku untuk menghilangkan rasa takutnya.” Ejek Skala sambil tersenyum puas melihat wajah Mia yang terlihat benar-benar malu karena kebodohannya.
“Siaalan!! Sialan! Daasar Skala gila! Suka sekali dia mempermainkan ku!!” teriak Mia dalam pikiran nya, tapi tentu saja tidak dia realisasikan melalui ucapan yang keluar dari mulut nya.
“sudah!! Sudah!! Cepat tunjukan jalannya! Kau sendiri kan yang bilang kalau kita harus tiba disana sebelum sore!!” Mia pun berjalan mendahului Skala.
“Bukan belok kesitu!!” Seru Skala dari belakang Mia. “Tapi belok ke sini.” Skala pun berbelok ke arah yang di tunjukan pada Mia.
Mia menepuk jidatnya!! “Bodohnya, aku!!!!” umpatnya pada dirinya sendiri.
Mia pun mempercepat langkah kakinya untuk menyamai langkah kaki Skala yang sudah pasti lebih cepat dari nya secara kaki Skala jauh lebih panjang dari kaki Mia. “Kenapa kaki ku kau berikan sependek ini Tuhan!! Coba panjang! Aku pasti bisa berjalan cepat!”
Dalam suasana mencekam itu, Mia sempat-sempat nya menyalahkan takdir kaki pendek nya.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Ayooo semangat boom like dan komen kkk....😎😎😎