
"Kalian adalah penerus Keluarga Ardana. Jadi lah sekuat baja dan ingat lah semua ajaran orang tua setiap melangkah ke jalan baru, kamu Zain Ardana adalah pelindung dan harapan kami jadi tetap lah berdiri meski duri melukai mu, jangan biarkan siapapun melihat kelemahanmu. Dan putri raja kami Zahra Ardana kamu adalah Cinta termanis untuk kami, tetap lah tersenyum dan berikan kami kekuatan dengan senyuman mu. Ingat lah keluarga kita saling melindungi satu sama lain dan tidak ada kompromi soal ini dalam keluarga kita. Kalian semua paham! " nasehat Ardana yang membuat semua orang saling meneteskan air mata dan seketika Satu keluarga itu saling berpelukan.
Keluarga yang harmonis namun tetap lah musibah tidak bisa dihindari.
" Arza persiapkan dirimu dan Diana tolong bantu Aku mengamankan keadaan. Aku percaya kamu sayang. " ucap Ardana sambil bersiap dan menatap sang istri yang sudah tahu harus berbuat apa.
Kesunyian semakin terlihat jelas namun itu tidak ber langsung lama karena terdengar dengan jelas derab langkah kaki dari luar di telinga Ardana dan itu bukan hanya satu orang tapi beberapa, sejenak Ardana mengambil nafas untuk membuat dirinya kuat meski pun rasa khawatir karena seluruh keluarga nya berada di tempat yang sama dan jika hanya dirinya saja itu tidak Akan masalah. Namun takdir berkata lain.
"Arza cepat bawa ibu, istri Dan anak mu ke dalam kamar mandi dan kembali lah kemarin" perintah Ardana pada putranya.
Arza tidak menjawab tapi langsung mengangkat Zain yang masih lemah ke dalam kursi roda Dan membawa ibu , istri dan anak nya ke dalam kamar mandi agar Aman. Setelah itu Arza kembali bersama ke ayah nya.
"Kecoh mereka seperti saat dulu kita berlatih , ayah akan leluasa membidik mereka dari sisi lain. " perintah Ardana pada putranya.
"Siap yah. " Arza langsung menuju ranjang milik Zain untuk bersembunyi disana dan melihat situasi luar.
Tidak berapa lama pintu di buka secara paksa, sedikit sulit tapi berhasil terbuka dan melihat ruangan yang kosong tapi mereka sudah tahu jika penghuni kamar itu masih di dalam. Hanya ada 5 orang yang datang sedangkan 5 orang lagi sedang sibuk bertarung dengan Rico di bawah. Tanpa menunggu lama suara tembakan di lontarkan ke atap.
__ADS_1
π³πππ..
Arza dengan sigap membidik kaki yang terlihat dari bawah ranjang yang tertutup selimut.
π³πππ..
Tembakan tepat namun pada akhirnya kini Arza manjadi sasaran semua Orang tadi yang berulang kali menembak ke arahnya, untung saja ada nampan di kamar Zain yang kemudian dijadikan tameng.
Tembakan demi tembakan menjadi kebisingan dan Ardana yang bersembunyi melumpuhkan musuh nya dari belakang.
π°ππππ... πππππ πππππ π’πππ πππππππππ πππππππ
Di dalam Diana dengan sigap melindungi cucu nya agar pria itu tidak melukai cucu nya, Riana yang sudah tidak sadarkan diri di biarkan begitu saja dan tujuannya adalah pewaris keluarga Ardana.
"Pergi lah rawat menantu mu! Berikan cucu mu!" bentak Pria itu.
"Jangan harap bisa menyentuh cucu ku! " seru Diana yang sedari tadi masih menaruh tangan nya di dalam punggungnya.
__ADS_1
Zain dan Zahra bisa melihat dengan jelas bahwa neneknya sudah siap dengan pisau lipatnya untuk melindungi mereka. Zain ingin sekali membantu namun tubuhnya tidak bisa bergerak karena keadaan nya yang tidak mendukung, Zahra yang ketakutan namun tetap diam melihat semua nya itu.
"Bisa apa kamu nenek. " ejek Pria itu yang masih terus mendekat ke arahnya Diana.
Sesaat jarak hanya tinggal 1 meter di saat pria itu ingin melepaskan tembakan dengan sigap Diana menendang kaki Pria itu dan memukul tangan pria itu hingga pistol nya terlepas ke arah belakang, tanpa menunggu pria itu sadar dari rasa sakit nya.
Diana langsung menggoreskan pisau lipasnya dipergelangan tangan pria itu yang langsung meneteskan darah segar. Tanpa aba-aba pria itu menampar Diana hingga tersungkur, tanpa fikir panjang langsung mengambil pistol nya dan mengarahkan ke Diana, Ardana dan Arza yang sudah melumpuhkan 2 orang tadi kini terkejut dengan pemandangan Di kamar mandi.
"Hentikan bajingΓn! " seru Ardana murka yang melihat Istri nya sedang ditodong pistol.
"Kalian harus hancur! " ucap Pria itu sambil tertawa dan berbalik ke arah Ardana dan Arza.
"Tuan Nickolas! Jadi anda yang menculik anakku?" pertanyaan bodoh yang Arza ajukan justru membuat Nickolas tersenyum sinis.
"Senang bisa melihat anda Tuan Arza Ardana. " Nickolas yang menyeringai.
"Lepaskan keluarga ku! Apa salah kami hingga anda melakukan ini semua? " tanya Arza dengan nada tinggi !
__ADS_1