My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 78: Special part #Papa....


__ADS_3

Zain dimana kamu? Kenapa bertindak sendirian, kau anggap aku apa? Bagaimana aku mengatakan pada istrimu, Mama, Papa dan Oma. Bagaimana dengan si kembar dan aku. Kenapa, kenapa bertindak sesuka hatimu. ~batin Ken.


Dibalik helm, air mata Ken ikut mengalir, kebingungan, kekecewaan dan rasa sesak di dada Ken, berbeda dengan rasa puas dari wajah seorang pria yang telah menyelamatkan mainannya.


"Bagaimana? Mau tanda tangan atau?"


Ery mengepalkan tangan. Mau, tidak mau harus setuju. "Ok. Tapi, penuhi semua kebutuhan ku. Bagaimana?"


Surat bermaterai disodorkan, dan Ery mengambil pena. Membubuhkan tanda tangannya. Kini, raganya hanya milik Tuan X. Senyum kemenangan terbit di bibir Tuan X.


Prok!


Prok!


Prok!


"Bawa pria itu!" seru Tuan X.


Dua anak buah memapah seorang pria tak sadarkah diri dengan luka di kepala yang tertutup perban. Pria itu adalah Zain yang baru saja selesai melakukan operasi pengangkatan peluru. Siapa yang menembak Zain? Tentu saja Ery. Ery berniat mendekati Zain, tapi di tahan oleh Tuan X.


"Apa kamu tidak punya otak?" hardik Tuan X.


Ery menatap tajam, sejak beberapa waktu di tahan dan menjadi bahan intimidasi. Rasanya sungguh memuakkan. Tuan X, tidak peduli dengan tatapan tak suka Ery. "Wajahmu itu terlalu familiar. Sudah waktunya dipermak."


"Apa…."


"Sshuuut."


Satu jari telunjuk di depan bibir. Tuan X berdiri dan menarik tubuh Ery ke dalam pelukannya. Sementara lambaian tangan Tuan X, membuat Zain kembali dibawa pergi dari tempat perjanjian.


Apapun yang terjadi di hari ini. Satu pihak menjadi hancur, namun tetap memiliki harapan. Satu pihak lain, menjadi pemenang. Tetapi tak lebih dari kemenangan semu.

__ADS_1


Berita hilangnya Zain Ardana menjadi trending topic selama sebulan penuh. Duka keluarga tak bisa ditutupi. Pencarian dari ujung utara, ke selatan. Dari barat ke timur, melintasi negara dan pulau. Tak ada satupun tanda keberadaan pria tampan itu.


Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Waktu yang begitu lama, tiada kata lelah mencari keberadaan orang tercintanya. Disaat sinar harapan semakin meredup. Ada harapan baru yang terbit dari ujung cakrawala.


Sepuluh tahun berlalu….


Di luar sebuah perkantoran terjadi keributan. Ntah apa yang diributkan, membuat langkah kaki pemimpin perusahaan terhambat.


"Ada apa?!" Nada bariton menelan suara keributan.


Semua karyawan menyingkir dan seorang wanita terlihat ketakutan di antara kerumunan. Tubuh gemetaran dan tangannya memeluk lutut. Pria muda dengan pakaian rapi berjalan mendekat dan membungkuk di depan gadis remaja itu. Tangannya tak segan di ulurkan. "Siapa namamu?"


Wajah gadis remaja itu mengintip dari balik rambut yang acak-acakan. Mata coklat kehitaman menatap pria muda di depannya. "Izzi…."


"Ayo, bangun." Pria muda itu mengambil satu tangan Izzi dan membantunya berdiri.


"Tuan Muda, sebentar lagi rapat," lapor tangan kanan pria muda itu.


Semua karyawan berlari terbirit-birit mendengar satu perintah dari Tuan Muda. Bahkan Izzi ikut ketakutan. Menyadari hal itu, Tuan Muda melepaskan tangan Izzi dan melambaikan tangan pada asistennya. "Jaga dan buat dia tenang. Aku akan rapat sendiri."


"Tapi, Tuan Muda….."


Tuan Muda menatap dalam ke arah asistennya. "Jangan khawatir. Aku sendiri yang akan bicara dengan Uncle Ken."


Tuan Muda itu adalah putra Zain Ardana dan Keisha Siregar. Dialah Abhi Zain Ardana. Di usia mudanya harus mengambil alih posisi sang papa, demi melindungi keluarganya. Kepergian sang papa tanpa tahu dimana rimbanya, membuat Abhi belajar dewasa tanpa mengingat usia. Sudah tiga tahun, Abhi menjadi CEO diperusahaan keluarga. Berkat bimbingan dan kerjasama seluruh keluarga.


Kepergian Zain menjadi sebuah pecutan dalam hidup Abhi. Kini pria muda dengan status tinggi itu, terjun ke dunia bisnis ditangan dingin Ken dan Kakek Arza.


Langkah kaki Abhi berjalan menyusuri lantai putih menuju lift khusus petinggi kantor. Sedangkan asistennya sibuk mengurus Izzi yang tidak mau disentuh. Bukannya menerima bujukan asisten Abhi, Izzi justru berlari mengejar Abhi. Beruntung lift masih terbuka lebar dan Abhi sigap mengganjal pintu lift. Jika tidak, pasti bisa terjadi tragedi mengerikan.


"Apa kamu gila! Ini lift bukan tempat bermain." Abhi membuang nafas dan menetralkan degup jantungnya.

__ADS_1


Izzi hanya menunduk dan menarik jas Abhi. Bagaimana bisa, di kantornya ada gadis remaja aneh. Asisten Abhi ikut masuk ke lift dengan nafas ngos-ngosan. "Maaf, Tuan. Gadis ini biar saya bawa keluar."


"Papa…." Izzi semakin menarik jas Abhi.


Abhi, memperhatikan reaksi Izzi. "Biarkan saja. Tunda rapat dan periksa CCTV!"


"Siap, Tuan."


"Papa...." ulang Izzi menatap Abhi dengan lembut.


"Apa?" tanya Abhi.


Izzi menunduk, "Papa marahkah dengan Izzi... hiks."


Apa maksud gadis ini? Kenapa memanggilku, Papa. Sejak kapan, aku punya anak? Pacaran saja tidak pernah.~batin Abhi bingung.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


**Hay readers, othoor akan up double.


Tapi, satunya lagi malem ya.


Happy Reading readers ☺**

__ADS_1


__ADS_2