
"Tuan Robert. Ditemukan di dalam rumah yang baru saja dibelinya dan anehnya adalah tidak ada jejak apapun dalam aksi psico si pelaku. Tapi yang menarik dari semua itu adalah ini." Pria tangan besi mengambil sesuatu dari saku celana dan mengulurkan pada Zain.
Zain menerima kertas putih dengan aroma darah, dibukanya kertas yang terlipat itu. Sejenak Zain fokus membaca, hanya tertulis 'selamatkan keluarga mu' dan itu sukses membuat Zain mengepalkan tangan. Tulisan di kertas itu menggunakan darah yang telah mengering. "Selidiki ini sampai tuntas, dan tambah penjagaan di kediaman Ardana!"
"Nak, tenang. Jika kita menambah keamanan, pastinya siapapun 'DIA' akan curiga. Sebaiknya fikirkan ide lain, atau tambahkan saja CCTV-nya." Dad Arza mengusap bahu Zain, agar sang putra tenang dan berfikir jernih.
Pria tangan besi mengangguk setuju. "Ucapan tuan Arza benar. Jangan buru-buru king, bahkan kita bisa mengalihkan seluruh anak buah anda. Tapi jika tidak salah, pastinya 'DIA' sudah memulai rencananya. Atau mungkin sudah memasuki kehidupan keluarga anda. Semua kemungkinan bisa, jadi tenanglah dulu king."
"Aku akan membawa keluarga ku liburan saat weekend, pastikan pekerjaan mu selesai sebelum aku kembali dan ya ubah sistem keamanan setiap sehari sekali!" titah Zain setelah menghembuskan nafas dalam.
"Seperti perintah anda king. Lalu, bagaimana dengan jasad tuan Robert?'' tanga pria tangan besi.
"Kembalikan di tempatmu menemukannya, pastikan tidak ada jejak datang dan perginya kalian. Dan awasi rumah itu selama 24 jam nonstop!" titah Zain dengan tegas.
"Siap king. Kalau begitu saya undur diri. Jika king membutuhkan bantuan, maka katakan saja pada Bezza." ucap pria tangan besi sembari melirik ke arah kursi dimana Bezza berada.
"Hmm. Pergilah!'' Zain membiarkan tangan kanannya meninggalkan ruangan, kini tersisa dirinya, sang papa dan juga sang operator.
Dad Arza mendekati sang operator. " Bisa putar ulang videonya?"
__ADS_1
"Siap tuan." jawab Bezza dan melakukan perintah dad Arza, sedangkan Zain memilih berjalan ke arah jendela kaca di sisi kiri ruangan itu.
Dengan satu tangan masih menggenggam lembaran kertas peringatan, mata Zain menatap betapa luas dan hijaunya wilayah hutan. Dari atas tempatnya berdiri, terlihat jelas bagaimana wilayah sisi barat memiliki banyak semak berduri yang dibiarkan tumbuh semakin liar.
"Zain, coba lihat ini!" titah dad Arza dan membuat lamunan Zain buyar.
Zain berjalan menghampiri sang papa dan berdiri di sampingnya. Tangan dad Arza menunjuk ke arah potongan gambar yang terlihat sangat buram, tapi toko dibelakang terlihat jelas namanya. Zain beralih ke sisi lain, dan mengambil alih keyboard. Dengan cekatan Zain mengotak-atik, dan kembali memutar ulang video yang berdurasi 30 menit dengan rangkaian peristiwa.
Beberapa kali Zain melakukan zoom agar memperjelas gambar, tentu saja gambar yang patut dicurigai. "Minta tim editing untuk membereskan semua gambar yang aku pisah dan segera laporkan pada ku!"
"Siap king, boleh saya ambil alih…'' ucap Bezza dan terhenti, karena Zain memilih mundur ketika tangannya hampir menyentuh keyboard.
"Sebaiknya kita ke kantor pa, ada beberapa berkas yang harus Zain pelajari." Zain berbalik dan berjalan menuju pintu keluar diiringi langkah sang papa.
Dengan sigap Zain membukakan pintu untuk sang papa, langkah Zain terhenti. "Katakan pada Levin, untuk datang ke pertemuan para pemimpin mafia!"
Ucapan Zain mengalihkan perhatian Bezza, suara dingin dan tegas. Belum sempat menjawab, king nya sudah pergi meninggalkan dirinya. Terdengar helaan nafas dari Bezza. "Ternyata king lebih dingin dari ka Levin, bagaimana istrinya bertahan ya? Aku jadi penasaran dengan istrinya, jangan-jangan sama dinginnya? Iihh bisa jadi."
"Ekhem!" dehem seseorang mengagetkan Bezza dan spontan Bezza memutar kursi tempatnya duduk manis.
__ADS_1
Cengiran kuda Bezza sukses membuat pria didepannya mendelik sebal dan jengah. "Apa aku harus membuatmu lari keliling villa lagi?"
"Ampuuun ka, kakak ini sayang aku gak sih? Kebiasaan main hukum trus! Aku adikmu kan ka? Atau…"
Ucapan ceplas ceplos Bezza sungguh menguji kesabaran hatinya. "BEZZA!"
"Okay sorry ka. But, seperti apa istri king?" Bezza menaruh jari telunjuknya di dagu dan mata menyipit.
Puuk..
"Auuuw… Kenapa main timpuk sih ka! Percuma bicara dengan pria tak berhati." keluh Bezza dan kembali memutar kursi untuk menghadap ke dunia kerjanya.
Langkah kaki dengan sepatu boots terdengar mendekati Bezza, satu tangan terulur mengusap kepala Bezza dengan lembut. Bezza mendongakkan wajahnya, menatap sang kakak yang terlihat begitu mengayomi. "King orang baik dan memiliki istri yang jauh lebih baik dan lembut. Jangan menilai dari sikap apalagi penampilan luar. Karena siapapun yang memiliki pasangan seperti king atau Kei pasti bersyukur, sekarang kakak harus pergi. Jaga dirimu!"
"Kakak juga, emm king mengatakan kakak harus datang ke pertemuan para pemimpin mafia." tutur Bezza sebelum langkah sang kakak beranjak dari sisinya.
"I know. King sudah mengatakan lewat pesan singkat, kerjakan apa perintah King dan kirim laporannya ke email saja. Kakak akan kembali setelah weekend." tukas Levin dengan memberikan satu kecupan kening untuk sang adik.
Meninggalkan keakraban adik kakak itu. Di dalam satu ruangan, tengah terjadi ketegangan dengan bahasa tubuh yang jelas menandakan saling tak suka. Beruntung ada yang datang dengan membawakan cemilan dan minuman manis.
__ADS_1
"Pisang gorengnya mengepul, enak di nikmati selagi hangat, siapa tahu setelah dingin justru dibuang.''